Beda itu Indonesia

Odelia Sinaga
Karya Odelia Sinaga Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 November 2016
Beda itu Indonesia

Beda itu Indonesia


            Indonesia itu berbeda. Indonesia itu banyak ragam. Tapi Indonesia tanpa diskriminasi, apakah mungkin? Indonesia tanpa membeda-bedakan, apakah mungkin? Jika tidak mungkin untuk apa semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika” itu?


            Sepintas pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku. Bicara dan berdiskusi tentang diskriminasi jelas memakan waktu panjang. Banyak orang mempunyai pandangan berbeda mengenai kata ini ‘Diskriminasi’. Ternyata diskriminasi mencakup banyak hal. Diskriminasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya).


            Indonesia tanpa diskriminasi. Entah mengapa saya mulai percaya dan optimis kalimat tersebut dapat dicapai oleh bangsa ini. Mengapa saya terlalu percaya diri mengeluarkan pernyataan ini? Berdasarkan pengalaman nyata saya selama bertugas sebagai Pengajar Muda Angkatan X Indonesia Mengajar. Saat itu saya di tempatkan di Kabupaten Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Suku di Sangihe adalah Suku Sangir dengan Bahasa Sangir, sedikit berbeda dengan Bahasa Manado tapi tetap ada kesamaan untuk beberapa hal. Pekerjaan masyarakat di sana dominan adalah nelayan karena Sangihe satu dari daerah di Indonesia yang dikelilingi oleh lautan.


            Sangihe terdiri dari 105 pulau dan hanya 26 pulau yang ditempati oleh masyarakat. Selain sebagai nelayan, pekerjaan masyarakat di sana juga sebagai petani cengkeh dan kopra. Untuk bentuk fisik, orang Sangir – biasa disebut- salah satunya berkulit hitam manis karena tinggal di pesisir pantai serta mayoritas agama di sana adalah Kristen Protestan. Ketika itu saya dengan tujuh rekan Pengajar Muda lainnya berada di sana dengan daerah penempatan satu orang satu pulau. Jadi bisa Anda bayangkan, kami anak-anak muda, minim pengalaman di tempatkan di pulau kecil yang sebelumnya jauh dari realita kehidupan kami.


            Porsi penempatan kami berdelapan pun unik. Ada rekan yang beragama muslim di tempatkan di pulau yang semua masyarakatnya beragama Kristen. Ada juga teman yang beragama Kristen di tempatkan di pulau yang masyarakatnya Kristen juga tapi dengan ajaran yang berbeda – dan termasuk saya juga. Dan ada juga teman yang di tempatkan di pulau dengan masyarakat beragama Kristen dan Islam.


            Tidak hanya dari agama, dari warna kulit pun berbeda dengan kami, sama halnya dengan suku. Berbicara suku, tidak satupun dari antara kami yang bersuku Sangir. Saya misal di tempatkan di Pulau Kalama dan menjadi satu-satunya yang bersuku Batak. Tapi tidak sedikit pun saya merasakan perbedaan di sana. Masyarakat sangat menyambut saya dengan baik. Mereka layaknya keluarga dekat yang sangat hangat menyambut siapapun berkunjung ke rumah mereka.


            Di Desa Kalama saya tinggal di rumah keluarga yang sejak dulu mereka mungkin tidak pernah berinteraksi dengan Suku Batak, yang sama sekali tidak tahu berbahasa Sangir. Tapi bukan sindiran yang saya terima, pelukan hangat dan saling memperkenalkan bahasa masing-masing. Misal salam khas untuk Batak adalah Horas maka di Sangihe salam yang terkenal adalah Marungsemahe. Hal menarik lainnya saya dan masyarakat saling bercerita tentang kebudayaan masing-masing. Tidak ada perbedaan sama sekali dan saya sangat menikmati kebersamaan itu.


            Menghormati agama lain sangat terasa di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Hal ini terlihat dari jika sedang berpesta maka tuan rumah akan menghidangkan dua meja. Satu meja nasional dan satu lagi meja Sangir (berisi makanan Sangir). Menurut saya disediakannya dua meja bukan untuk membeda-bedakan tapi menghormati perbedaan tersebut. Dengan begitu semua dapat menikmati pesta dengan baik karena difasilitasi sesuai kebutuhan.


            Hal lainnya yang menunjukkan kebersamaan tanpa diskriminasi itu adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe memberikan izin untuk membangun kampung muslim. Namanya biasa disebut Daerah Tidore. Di sana masyarakat muslim dari berbagai suku tetap hidup berdampingan dengan orang Sangir. Mereka hidup berdampingan, saling menghormati, dan tetap menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing.


            Bahkan saat lebaran pada Juli 2015 lalu, di malam takbiran saya melihat bagaimana umat Muslim bebas menjalankan malam takbiran tanpa gangguan. Bahkan masyarakat beragama lain ikut serta meramaikan sebagai peserta takbiran atau menonton di jalanan sambil melambaikan tangan. Saat itu saya yang ikut serta takbiran melihat perbedaan tak selamanya mencekam. Senyum ramah setiap orang yang lalu-lalang di sana menjadi satu memori indah yang tidak akan pernah saya lupakan.


            Saya bersyukur dapat merasakan langsung perbedaan di sana. Saya bersyukur dapat hidup berdampingan dengan masyarakat yang sangat memahami perbedaan tapi menjalankan dengan kebersamaan. Padahal bila kita telisik dari latar belakang pendidikan, mereka bukan orang dengan berbagai gelar. Rata-rata pendidikan orang tua di sana adalah SD, SMP, dan SMA. Tapi mereka luar biasa. Mereka lebih memahami dan mengerti bagaimana hidup dalam perbedaan dengan damai.


            Karena itu sampai saat ini, tak sedikit pun saya menyesal menjadi bagian dari masyarakat Sangihe, merasakan langsung perbedaan itu, dan membuktikan tidak ada diskriminasi sama sekali.


            Indonesia suka tidak suka, mau tidak mau harus dapat hidup dalam perbedaan tersebut. Terdiri dari sekitar 17 ribu pulau, sekitar 1.340 suku dengan kurang lebih 546 bahasa berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2010 plus enam agama resmi yang diakui. Melihat fakta tersebut, bagaimana tidak perbedaan sangat dekat dengan negara kita. Perbedaan yang mungkin saja menimbulkan diskriminasi.


            Karena itu pahlawan terdahulu menyepakati semboyan negara ini adalah “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti walaupun berbeda-beda tetap satu jua. Jelas pahlawan kita paham banyaknya perbedaan di negara ini sejak dulu. Bukan mengacuhkan dan memfokuskan kepada suku atau golongan tertentu tapi mereka memikirkan perbedaan ini harus tetap satu. Sama halnya dengan sila ketiga Pancasila yaitu “Persatuan Indonesia”.


            Karena itu menurut saya, Indonesia harus terus melegowokan hati untuk menerima perbedaan ini. Mengajarkan kepada masyarakat bagaimana memperlakukan perbedaan itu, bukan malah menjauhinya. Karena perbedaan pasti dihadapi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bukti nyatanya pola kehidupan masyarakat di Sangihe yang telah saya miliki.


            Saya mengutip pernyataan ini “Menginginkan “Indonesia Tanpa Diskriminasi” saat ini memang masih seperti bermimpi. Namun ada mimpi yang sekadar mimpi dan ada mimpi yang memang bisa diraih. IndoMimpi “Indonesia Tanpa Diskriminasi” termasuk yang bisa dicapai, kendati dengan sejumlah syarat. Untuk bisa diraih, mimpi itu harus menjadi aksi. Dan aksi sosial di era ilmu pengetahuan harus bermula dari riset, data, dan statistik.” – Denny J.A., P.hD


            Menurut saya, pernyataan ini sesuai. Indonesia tanpa diskriminasi adalah mimpi yang bisa diraih, dicapai melalui aksi. Dan saya telah membuktikannya. Saya buktikan dengan terlibat langsung dengan perbedaan tersebut, turun langsung dengan mereka yang berbeda dengan saya, berinteraksi. Hasilnya? Saya tidak menemukan adanya diskriminasi walau banyak perbedaan yang ditemukan.


            Benar kehidupan tanpa diskrimnasi itu harus dari riset, data, dan statistika. Dari mana riset, data, dan statistika kita temukan? Dari hasil interaksi langsung dengan perbedaan-perbedaan itu. Dengan begitu, tanpa ragu-ragu kita akan dapat menyimpulkan Indonesia tanpa diskriminasi bukan hanya mimpi atau omongan kosong tapi adalah mimpi yang dapat kita raih bersama.


Indonesia tanpa diskriminasi, mungkinkah? Ya, mungkin. Salam Indonesia!

 

  • view 160