Secarik kertas kosong

Obyhop
Karya Obyhop  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 April 2016
Secarik kertas kosong

? ? ?Ibu, banyak hal yang sebenarnya ingin ku ceritakan. Mulai dari prosesku menjadi seorang lelaki hingga getir sesalku dengan setumpuk kebodohan yang sengaja ku kerjakan.?

? ? ?

? ? ?Aku ingat saat kau setia menemukan setiap salahku, kemudian ku kau ingatkan. Dan pesan yang baru saja kau sampaikan lewat aplikasi chating Whatsapp, sesaat setelah ku bercerita bahwa kemarin malam aku memimpikan engkau dalam lelap lelahku.?

"Aku menuntunmu, bu. Di sebuah jalan, tanganmu ku genggam erat" Pesanku.?

Responmu singkat dan padat, namun seakan menampar wajahku hebat, "Ya Allah.. jadikanlah anak2 kami sebagai wasilah untuk menggapai Ridlo Mu".?

? ? ?

? ? ?Sejenak ku mematung melihat balasan chatingmu, bu. Aku merasa memiliki sejuta kesalahan, meskipun demikian ku yakin kau tak pernah berhenti dalam sepertiga malam setia mendo'akan.

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? *****

?

? ? ?"Bagaimana persiapanmu untuk masuk kuliah?" Pertanyaan beliau yang seakan menghantuiku setiap detik. Jawabku singkat saja, "Mohon do'anya aja, bu" Sebenarnya aku jawab dengan nada demikian agar persoalan tersebut tak memakan waktu lama dan meluas sampai hal-hal lain.?

? ? ?

? ? ?Ayah pun sewaktu-waktu menanyakan hal demikian. Dan aku pun menjawab dengan hal serupa seperti jawabanku untuk Ibu.?

Aku ingat saat menyinggung beliau terkait keinginanku untuk mempersunting seorang gadis.?

Ya, hal itu bisa juga dikatakan, menikah. "Kau ingin dengan dia? Kau harus lebih tinggi di atasnya, atau minimal sederajat dengannya" Ayah menantangku? Bukan, ku kira itu seperti sebuah syarat sebagai seorang lelaki yang akan mempersunting anak perawan dari orang tua yang berbeda. Aku merasa jauh dari syarat yang beliau harapkan tadi. Bukan masalah siapa dan bagaimana sosok perempuan itu, namun lebih kepada siapa dan bagimana idealnya seorang lelaki.?

? ? ?

? ? ?"Dawamkan* sholat awal waktu dan wudhu, insya Allah itu baik bagimu. Percayalah, Nak" Itu pesan beliau beberapa bulan yang lalu. Tapi apa, setidaknya sejauh ini, semua bak angin lalu. Yang berhembus kemudian pergi tanpa pamit.

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?***** ?

?

? ? ?Ibu, Ayah, ku memiliki banyak hutang kepadamu, yang tak cukup ditulis dengan nominal mata uang manapun.

?

"Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kama rabbayanii shaghira" Pungkasku.

?

*langgengkan/biasakan