Aleda

Aleda

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Aleda

Hari ini, cuaca begitu panas. Padahal tak semestinya panas menyengat di bulan desember. Sudah tiga hari Erik takkeluar rumah. Bahkan takkeluar kamar. Dia hanya duduk di depan meja, bersama kepalan-kepalan kertas yang menumpuk dalam tempat sampah kecil di sampingnya. Ada bunyi-bunyian aneh dalam diri Erik. Ada bunyi terompet, saksofon, trombon dan juga horn. Tapi suaranya takpadu. Bahkan, terdengar seperti klakson mobil-mobil yang terjebak macet di luar sana. Adapula suara gesekan bow pada senar-senar biola, juga violin. Namun iramanya tak selaras. Dan malah terdengar seperti styrofoam yang saling bergesekan. Ada pula suara drum. Yang justru terdengar seperti perabotan rumah yang diporak-porandakan kucing tetangga. Ada juga suara piano, yang entah kenapa notnya takberaturan. Membuat suara aneh seperti sound effects dalam film-film horor.

Seharusnya bunyi-bunyi itu bisa berpadu menjadi musik yang dapat dinikmati. Mengikuti aransemen dalam simfoni. Namun, ada yang hilang dalam kumpulan orang-orang yang memainkannya. Padahal dia memiliki peran penting. Dia adalah komposer dalam diri Erik.

Erik sadar, seorang komposer besar selalu membutuhkan orang lain untuk menjadi komposer dalam hidupnya. Dan kini, Erik telah kehilangan seorang komposer dalam dirinya. Aleda.

***

Sebuah konser orkestra telah menunggu Erik dua minggu lagi. Sebuah konser besar yang akan menutup tahun 2016. Enam ratus tiket telah habis terjual dan seratus undangan telah diterima pemiliknya seminggu yang lalu. Erik tak mungkin menghancukan konser terbesarnya. Menghancurkan konser sama saja menghancurkan masa depan. Namun, Aleda tiba-tiba merusak aransemen dalam otak Erik. Aleda yang menysun aransemen itu, tapi dia juga yang merusaknya. Padahal jasadnya telah ditelan bumi.

Erik masih di dalam kamarnya. Moncoret-coret kertas dan mengepalnya kemudian dilempar ketempat sampah kecil di sampingnya. Entah kertas keberapa yang dia lempar ke sana. Tempat sampah itu bahkan taklagi bisa menampung kertas terakhir yang dia lempar. Melihatnya membuat Erik takingin melanjutkan menyusun nada, apalagi Aleda taklagi menemaninya.

Erik menatap sebotol bir di atas meja di samping tumpukan kertas. Isinya telah dia teguk tadi malam. Padahal dia taksuka mabuk. Ada Aleda di dalam botol itu. Duduk tersenyum sambil melihat Erik berdiri diatas panggung tumpukan kertas. Di sana, Erik menggoyangkan tongkat kecil diujung jari tangan kanannya.

Sebuah cairan bening jatuh dari mata Erik. Tetesannya membuat Erik kaget hingga tersadar. Aleda takpernah mau Erik berhenti menyusun aaransemen untuk kemudian membuatnya menggoyangkan tongkat kecil itu. Bagi Aleda, goyangan tongkat itu lebih indah dari goyangan Via Vallen.

***

Malam tahun baru telah tiba. konser berjalan sangat meriah.

“Untuk menutup konser malam ini, kupersembahkan mahakarya terbaik untuk istriku tercinta” kata Erik membuka karya terakhirnya.

Sebuah tongkat kecil diangkat, lalu dengan lembut goyangkan. Sebuah nada piano memulai, kemudian disusul suara dari biola-biola dan violin. Terompet, saksofon, trombon, horn dan juga drum ikut menyatu, membuat alunan syahdu. Siapapun yang mendengarnya pasti tau, betapa besar cinta sang komposer pada istrinya. Satu dua hadirin mengusap mata dengan tisu, disusul hadirin lain yang ikut terbawa suasana. Ada getaran hebat pada jiwa mereka.

Hingga diujung nada, tepuk tangan meriah menyambutnya. Itu adalah musik terbaik karya Erik. Bahkan mungkin karya terbaik yang pernah ada.

Seorang pembawa acara bertanya “Apa judul musik terakhir tadi Tuan Erik ? Sepertinya baru kali ini anda membawakannya.”

“Aleda” jawab Erik. “Judulnya Aleda” Jelasnya diikuti tepuk tangan meriah.

 

------------------------

Sumber thumbnail

  • view 189