Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Juli 2017
Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Menurutku, satu-satunya hal yang paling dicari di dunia ini adalah kebahagiaan. Hanya saja taksemua orang menemukan kebahagiaannya sendiri. Hingga akhirnya frustasi dan memilih mengakhiri hidupnya atau menghancurkan hidup orang lain.

Bagiku, bahagia itu bukan saat aku bisa melampiaskan perasaan. Seperti jika aku marah pada seseorang aku akan memukulnya, misal. Atau bersenang-senang melakukan hal sebebas mungkin sesuka hatiku, mungkin. Karena bagiku, itu semua hanya kesenangan belaka, bukan kebahagiaan. Bahagia Bagiku memiliki sumber tersendiri.

Pertama, Kebahagiaanku bersumber pada keluargaku. Melihat mereka tersenyum, tertawa, bahagia, adalah sebuah pemandangan yang ingin selalu kulihat. Keluargaku adalah sebuah kebahagiaan terbesar yang kumiliki. Dan Keluargaku adalah segalanya bagiku.

Sumber kebahagiaanku yang kedua adalah teman-temanku. Waktu kecil, aku adalah anak laki-laki paling kecil umurnya dan paling cupu di antara teman-teman sepantaranku. Karnanya aku adalah sasaran utama bagi akal-akalan mereka. Sebenarnya, ada sih yang lebih kecil umurnya daripada aku namun dia adalah adik dari teman tertuaku. Hmm... bisa bayangkan kan, gimana aku dibully saat itu? Sebenarnya aku tak mau menggunakan kata “bully” di sini. Namun begitulah kiranya yang ku rasakan waktu itu. Karena itulah kemudian aku lebih sering menyendiri. Dan akhirnya aku tak punya teman, atau mungkin lebih tepatnya aku tak mau menganggap mereka teman.

Bertahun-tahun berlalu, aku pun duduk di bangku MTs. Aku berusaha memaafkan meraka dan menata hatiku kembali hingga kemudian satu per satu aku menemukan teman. Tak hanya teman baru, tapi mereka yang dulu sering mem-bully-ku kini juga menjadi temanku, sepertinya mereka sudah sadar dan lebih dewasa :) . Namun bagaimanapun, ternyata efek bullying itu masih membekas. Bukan sebagai dendam. Tapi, karenanya hingga kini aku masih sulit untuk berteman. Dan karnanya pula, bagiku memiliki teman adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tentu teman yang benar-benar teman menurutku.

Yang ketiga, kebahagiaanku muncul ketika aku bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Tolong-menolong itu memiliki nilai yang sangat indah menurutku. Dan bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Dari itu semua, akhirnya aku menarik kesimpulan. Bahagia adalah ketika kita bisa melihat orang lain bahagia, terutama orang-orang yang kita cintai. Mendapatkan hal-hal yang paling kita inginkan di dunia ini, seperti teman misalnya. Dan menurunkan ego kita untuk menolong sesama.

Dan satu lagi, menurutku, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mensyukuri segala yang telah kita miliki. Merasa kurang adalah sifat dari setiap orang. Tapi, saat kita mau “nerimo ing pandum”, saat itulah kebahagiaan akan menjadi milik kita. Orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang paling pandai bersyukur, yaitu orang-orang yang dapat menerima segala keadaannya. Seperti kata pepatah Jawa:

Sugih tanpo bondo
Digjoyo tanpo adji
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Trimah mawi pasrah
Suwung pamrih tebih adjrih
Langgeng tan ono susah tan ono bungah
Anteng manteng sugeng djeneng

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka kurang lebih berbunyi seperti berikut:

Kaya tanpa harta
Tak terkalahkan tanpa kesaktian
Menyerbu tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Menerima juga pasrah
jika tanpa pamrih tak perlu takut
Tetap tenang meskipun ada duka dan ada suka
Tidak macam-macam membuat nama baik terjaga.

Oh iya, satu hal yang paling penting dari semua itu untuk menjadi bahagia adalah pola pikir. Pola pikir adalah hal yang sangat penting yang dapat mempengaruhi suasana hati kita. Maka, selalulah berpikir positif untuk hidup yang lebih baik.

 

- Hilmi Robiuddin -

  • view 301