Ada Setan di Rumahku

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Ada Setan di Rumahku

Uaaahhhh..... Aku menguap lalu menengok keluar jendela kamarku.

“Sial!, sudah larut malam.”

Tak terasa berjam-jam aku tidur sejak ibu pergi sore tadi, entah kemana. Ibu hanya bilang mau cari kain batik. Memang Ibu suka sekali mengoleksi batik-batik. Bahkan ibu punya dua lemari khusus di kamarnya buat menyimpan batik-batik itu. Entah apa istimewanya lembaran-lembaran kain yang berisi coratan-coretan itu.

Tidur lama ini membuat tenggorokanku kering. Aku keluar kamar, melangkahkan kaki mencari kendi berisi air yang biasanya ibu taruh di atas meja dapur. Tiga langkah, empat langkah. Tungu! tunggu!, aku tak ingat ada lukisan-lukisan terpampang di dinding rumahku. Ada lukisan kuda berlarian, lukisan pemandangan pegunungan dan.... lukisan siapa ini?, semacam lukisan sebuah keluarga, seorang laki-laki tampan nan gagah berdiri di sebelah kiri dan seorang perempuan yang cantik berdiri di sebelah kanan, tangan mereka menggandeng gadis kecil yang berdiri di antara mereka. Senyum bahagia tergambar di wajah mereka. Astaga, imut ekali gadis itu. Tapi ini lukisan siapa? Kataku dalam hati. Ah, apa mungkin ibu pulang membawa lukisan? Bukannya ibu tak pernah suka lukisan?ah entah lah,mungkin ibu berubah pikiran.

Aku melanjutkan langkahku menuju dapur dan wow rasanya aku berada di tempat lain, ini tidak seperti dapur rumahku. Semuanya tampak berbeda. Ini dimana?apa aku bermimpi?aku mencubit lengan kiriku sekeras mungkin, Aaaa.... sakit Sial!, sebenarnya aku di mana?

Tarrr.... bunyi gelas pecah mengagetkanku. Aku segera menengok kebelakang. Siapa itu? seketika bulu kudukku berdiri, ketika kulihat sosok gadis kecil yang menjatuhkan gelas dengan mata melotot. Namun, anehnya gadis kecil itu malah berteriak dan lari kearah kamar Ibu dan membuatku bertanya-tanya.

Siapa itu? Aku bertanya-tanya dalam hati bukankah disini nggak ada anak perempuan?aku kan tinggal hanya sama ibu saja setelah bapak kawin lagi sama si wanita jalang itu? Kali ini pikiranku semakin menjadi-jadi setan! oh, tidak, tidak, ada setan di rumahku.... Tapi tunggu,kenapa dia lari?masak setan takut sama aku?gila aja tuh setan!ngehina aku kali ya!

Setelah berpikir cukup panjang sambil ngomong sendiri di dapur, akhirnya kuberanikan diri menuju kamar ibu.

Dari luar terdengar jelas suara tangis gadis tadi hingga membuat bulu kudukku kembali berdiri. Tapi itu tak membuat nyaliku menciut. Kali ini rasa penasaranku lebih besar dari rasa takutku. Akhirnya kuintiplah kamar ibu dari sisi pintu kamar yang sedikit terbuka. Astaga! Siapa mereka?, bukan ibu yang kudapati di dalam kamarnya.

“A... ada setan, bu...” kata seorang gadis kecil yang menangis tersedu-sedu. Dia menangis sambil memeluk seorang wanita cantik berambut hitam lurus.

“Ada setan?” Pikirku “aku setan?”

“Nggak ada setan, sayang...” wanita itu mencoba meredam tangis gadis itu.

“Iya sayang, mana ada setan dirumah ini” seorang laki-laki yang duduk di sebelah kiri mereka menambahi.

Akupun teringat sesuatu, “bukankah mereka yang ada dalam lukisan di samping kamarku tadi?”

Aku segera beranjak menuju ke arah lukisan dekat kamarku untuk memastikan, “ya, itu memang mereka”

Dan akhirnya sebuah kalender yang letaknya tak jauh dari lukisan itu menyadarkanku tentang satu hal bahwa ini sudah tahun 2016. 30 tahun telah berlalu saat ibu pergi membeli batik sore itu dan 30 tahun pula saat kunikmati tidur sore terakhirku.

 

thumbnail