Aku dan Lisaku

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Aku dan Lisaku

Kreeekkkk...

Bunyi engsel pintu tua rumah buyarkan lamunanku. Seorang wanita cantik masuk membawa plastik hitam yang sedikit terlalu besar bila dilihat dari isinya.

“Assalamu’alaikum, sarapan dulu mas. Ini kubelikan makanan.” Kata Lisa yang baru datang membawa dua bungkus makanan dan beberapa gorengan.

“Tak biasanya kamu beli makan diluar?” tanyaku sambil bangkit dari shofa

“Iya mas, lagi males masak aja” jawab Lisa dengan wajah layu

“Kamu sakit?”

“Nggak tau mas, rasanya pengen mual terus”

“ya udah, ayo sarapan dulu nanti minum obat”

Aku menikahi Lisa tujuh tahun lalu dan selama itu pula kami menantikan kehadiran sosok buah hati yang akan meramaikan rumah kami. Berbagai upaya kami lakukan, mulai dari periksa kedokter spesialis sampai mengikuti berbagai terapi. Hingga kabar baik datang pada kami dua tahun yang lalu, Lisa dinyatakan positif hamil. Namun ternyata kabar itu tak menjadikan impian kami terwujud. Setelah lima bulan kehamilannya Lisa keguguran dan dia dinyatakan tidak bisa hamil lagi. Entah bagaimana bisa dokter yang memeriksa istriku itu berkata demikian. Entah setan mana yang membisikinya hingga dia tega menyiksa Lisa dengan kata-katanya itu. Sejak saat itu Lisa sering terlihat murung, kurang tidur, sedikit makan bahkan sakit-sakitan. Aku yang tak kalah terpukul atas kabar itu mencoba menutupi kesedihanku dari semua orang terutama Lisa. Aku harus lebih kuat darinya dan yang tepenting aku harus membuatnya tabah.

***

Ini hari minggu, setelah sarapan aku berjalan menyusuri taman kota mencari udara segar. Lingkungan yang bersih dan udara yang sejuk membuatku merasa sedikit tenang. Banyak orang yang berkunjung di taman ini tiap hari minggu. Mulai dari anak muda, orang dewasa bahkan orang-orang yang lanjut usia. Di suatu sisi taman kulihat pasangan yang tak lagi muda. Rambutnya sudah memutih, wajahnya agak keriput namun tetap terlihat segar. Senyum bahagia menyelimuti pasangan tua yang mesra itu. Di sisi taman yang lain terlihat pasangan yang masih muda dengan anaknya yang masih sekitar umur dua tahun. Keceriaan terlihat jelas di wajah mereka.

Aku hanya berjalan sendiri di taman. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak Lisa ke sini. Namun dia menolak, ingin istirahat di rumah saja katanya. Beberapa pasangan yang berjalan bersama anaknya yang masih kecil membuatku iri. Rasanya diri ini seperti diiming-iming. Setapak demi setapak kususuri, hingga seseorang menghentikan langkahku. Aku melihat lelaki tua duduk sendirian di kursi taman dekat pohon besar. Air matanya mengalir menyusuri pipinya yang sudah keriput. Akupun menghampirinya

“Bapak nggak papa?” tanyaku pelan sambil meletakkan bokongku ke kursi. Bapak tua itu hanya menggelengkan kepala

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi

Bapak itu mengangkat wajahnya ke arah langit melihat dedaunan yang jatuh, nafas panjang dia hembuskan kemudian dia bercerita

“Aku telah hidup selama enam puluh tahun dan selama itu pula berbagai ujian aku jalani. Dulu, keluargaku adalah orang yang sangat miskin. Jangankan membeli baju tiap lebaran, buat maka sehari-hari saja susah. Karna itu aku bertekat untuk merubah hidup keluargaku, berbagai usaha aku lakukan, dari berjualan nasi bungkus keliling hingga sekarang aku punya dua restoran besar dan satu buah perusahaan yang merubah nasib keluargaku”

“Lalu, kenapa bapak bersedih?” tanyaku sopan

“Nak” katanya pelan “Mungkin aku sukses menjadi seorang pengusaha, tapi aku adalah orang tua yang gagal.”

Aku mengerutkan dahi, masih bingung dengan yang bapak itu katakan.

“Aku dan istriku terlalu sibuk mengumpulkan harta. Kukira dengan memberi anak-anakku uang lebih dan menuruti semua yang mereka minta akan membuat keluargaku baik-baik saja. Ternyata tidak, aku lupa bahwa mereka juga butuh kasih sayang dari kami. setelah istriku meninggal keluargaku pecah, anak-anakku gila harta, dan sekarang, aku yang tua ini malah dikirim ke panti jompo. Mereka enggan mengurusiku. Rasanya aku menyesal tidak memberi mereka kasih sayang lebih. Tidak memasukkan mereka ke lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang dapat membuat mereka jadi anak yang baik. Mungkin ini balasan mereka atas perbuatanku pada mereka.” Bapak tua itu bercerita sambil mengucurkan air mata, iba rasanya aku melihatnya. Kami bicara banyak, sebgaimana dia, akupun menceritakan kegalauanku yang selama ini aku pendam. Hingga akhirnya dia pamit untuk kemali ke panti

“Semoga Tuhan mengabulkan harapanmu” katanya terakhir sebelum dia pergi meninggalkanku.

***

Matahari semakin tinggi, hawa panas membakar kulitku, maka kuputuskan untuk berjalan pulang. Belum jauh kulangkahkan kaki dari taman kota, aku mendengar dua orang yang bertengkar di setapak sebrang jalan

“Aku bilang gugurkan!” teriak seorang lelaki membuatku tersentak. Dia berteriak pada wanita muda di depannya yang kukira adalah pacarnya

“Tapi aku pengen punya anak mas!” sahut wanita itu sambil menangis membuatku tau bahwa itu adalah istri lelaki tadi

“Aku kan sudah bilang kamu KB dulu! Aku belum mau punya anak! kamu tau kan kerjaku masih serabutan!”

Wanita itu hanya menunduk sambil sesekali mengusap air mata.

“Sudah!, pokoknya...” lelaki itu tidak melanjutkan, dia sadar beberapa orang tengah memerhatikannya. Dia pergi sambil menarik lengan istrinya dengan sangat kasar. Beberapa orang di sampingku menggunjing tentang sepasang suami istri tadi, aku tak mau mendengakan mereka dan lebih memilih kembali melanjutkan langkahku untuk pulang. Kejadian barusan membuat dadaku sesak. Bagaimana mungkin ada orang yang ingin menggugurkan kandungan istrinya, sedangkan aku dan istriku menantikan sesuatu yang mereka tolak itu. Di sisi lain aku teringat dengan bapak tua di taman tadi. Dia telah dikaruniai anak namun tak bisa mendidiknya dengan baik. Terkadang aku berpikir bahwa Tuhan begitu tak adil dengan memberi orang-orang seperti itu anak. Sedangkan aku dan istriku yang begitu menginginkannya malah diberi ujian sebesar ini.

***

“Assalamu’alaikum...” aku masuk rumah.

“Wa’alaikum salam” jawab Lisa tersenyum sambil bangkit dari shofa. Ternyata dia telah menungguku dari tadi. Wajahnya kini cerah, tak seperti tadi pagi.

Aku menyipitkan mata “kelihatannya kok seneng banget?” tanyaku penuh selidik

“Coba tebak!” jawabnya dengan tawa yang ditahan

“Hmm... baru dapet arisan?” tebakku sekenanya. Tawanya pecah membuatku semakin penasaran. “ada apa sih? Cerita dong”

“Aku hamil mas” jawabnya penuh bahagia

“Kamu hamil? Beneran?” tanyaku masih tak percaya

“Ih kok tanyanya gitu?”

“Tapi kan kata dokter...”

“Iya mas, nih” Lisa menyodorkan testpack dengan hasil positif padaku.

“loh mas, kamu nangis?” Lisa menyadarkanku bahwa air mataku menetes. Akupun tersenyum dan mengusap airmataku

“Besok kita kedokter” kataku sambil tersenyu pada Lisa.

Aku takpernah melihat istriku sebahagia ini. Wajahnya cerah berseri-seri. Pipinya merah merona. Senyumnya mekar merekah sampai membuat matanya sipit. Aku bahagia melihatnya seperti itu, seakan baru melihat cahaya setelah berlama-lama berada dalam kegelapan. Tapi, rasa ragu masih menyelimutiku, teringat kata dokter bahwa Lisa tak bisa hamil.

Hari ini, aku menghabiskan sisa waktu bersama Lisa di rumah. Dia bicara banyak, membicaakan tentang betapa bahagianya dia hari ini. Aku mencoba mengingatkannya agar jangan terlalu senang dulu, agar dia tidak shock bila mungkin besok dokter berkata lain dari yang Lisa katakan hari ini. Namun dia mengelak. Dia yakin kalau memang dia positif hamil.

***

Senin, pukul setengah sembilan pagi.

Aku dan Lisa pergi ke rumah sakit, tak lama kami di ruang tunggu nama Lisa pun dipanggil

“Eh Ibu, silahkan duduk” dokter dan kami memang sudah saling kenal karna aku sering membawa Lisa ke sini ketika sakit.

“Bagaimana bu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter

Lisa pun menceritkan pada dokter tentang apa yang terjadi sambil menyodorkan hasil testpacknya.

“Begini dok, kami ingin memastikan bahwa hasil itu benar” kataku mencoba menjelaskan tujuan kami kesini. Dokter pun mengangguk paham lalu mengajak Lisa masuk ke sebuah ruangan tertutup tirai. Tak berapa lama kemudian dokter keluar.

“Selamat ya pak, ibu positif hamil” katanya ambil tersenyum

Aku masih nggak percaya, mataku berkaca-kaca “beneran dok?”

Dokter mengangguk, “mari saya tunjukkan” dokter mengajak saya masuk dan menunjuk sebuah layar berbentuk tabung “ini calon bayinya pak, yang seperti gumpalan” kata dokter sambil menunjuk gabar gumpalan di layar monitor “memang belum begitu jelas karna usianya yang baru sekitar lima minggu”

“Tapi bukannya dulu kata dokter Istri saya tidak bisa hamil lagi?”

“Saya kan bukan Tuhan, pak. Jadi yang saya katakan sesuai analisa saya saja. Di luar itu, Tuhan lebih berkuasa bukan?" jawab dokter meyakinkan “Sekali lagi selamat ya pak, bu, kalian akan jadi orang tua” tambahnya

Setelah dari rumah sakit kami pun mampir kerestoran terdekat untuk merayakan kehamilan Lisa.

“Kali ini kamu harus banyak makan makanan yang sehat, nggak boleh kecapekan, jaga kesehatan....” kataku mengatur-aturnya. Lisa hanya tertawa melihat tingkahku.

“Kamu...!” seorang lelaki tua menyapaku

“Eh, bapak” kataku sadar kalau dia orang tua yang kutemui di taman kemarin pagi “bapak kok disini? Oh iya kenalkan, ini Lisa istri saya yang saya ceritakan kemarin, mari pak duduk”

“Wahh... iya iya” Bapak itupun ikut duduk bersama kami.

Bapak itu bercerita bahwa ini adalah restoran yang dia dirikan tiga tahun lalu. Kata bapak itu ini adalah satu-satunya harta yang tidak diketahui oleh anak-anaknya. Dia bercerita banyak pada kami. Begitupun kami menceritakan hari-hari kami juga kehamilan Lisa. Dia memberi kami banyak pelajaran dengan ceritanya, tentang hubungan rumah tangga, tentang bisnis dan tentang bagaimana seharusnya kami mendidik anak-anak kami nanti. Hingga pada akhirnya kami meminta bapak itu untuk tinggal bersama kami. Namun dia menolak, katanya dia sekarang tinggal bersama anak bungsunya. Dia dijemput di panti jompo tadi pagi. Mungkin anak itulah satu-satunya keluarga yang masih peduli dengannya. Dan akhirnya, sebagai wujud terima kasih karna kami telah mau menjadi teman ngobrolnya, hari ini kami digratisi makan di restorannya ini.

Semua kejadian itu telah memberi pelajaran besar padaku juga Lisa, dan semua itu telah membuatku sadar, bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Adil.

 


Thumbnail

  • view 289

  • Laily Muflikhah
    Laily Muflikhah
    1 tahun yang lalu.
    Alhamdulillah, ceritanya happy ending
    Jadi ikut bahagia

    • Lihat 13 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    membayangkan perempuan blonde yang duduk diayunan memanggil "mas" pada laki-laki disampingnya ternyata tidak mudah.

    pengen mual?