Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 20748
            [type_id] => 1
            [user_id] => 8371
            [status_id] => 1
            [category_id] => 13
            [project_id] => 0
            [title] => Cerita Hujan
            [content] => 

Ingatkah kamu akan hari itu? Hari saat kudatangi rumahmu dengan pakaian yang tak lagi kering? Hari dimana kubawa sebuah kotak yang telah terbungkus rapi. Kotak yang hanya ingin ku berikan padamu waktu itu. Ya, itu kado ulangtahunmu. Kado yang telah kupersiapkan sejak jauh hari sebelum hari jadimu yang ke-20 itu. Mungkin kamu lupa dengan hari itu atau justru tak tau bagaimana aku datang, karna memang tak seorangpun berada di rumahmu waktu itu. Aku  berlama-lama menunggu di teras rumahmu, berharap kamu kan lekas pulang. Hingga kuputuskan tuk tinggalkan kado itu di sana.

Mungkin kamu lupa dengan hari saat kita tertawa besama. Berbagi kisah lucu masa-masa yang telah lalu. Menertawakan hari yang telah kita lewati, seperti hari-hari saat kita masih terlalu muda untuk mengenal yang namanya cinta, hari-hari saat kita masih sering merengek minta uang jajan, hingga hari-hari saat kita masih duduk di bangku sekolah.

Mungkin kamu juga lupa dengan hari saat kekasihmu pergi. Hingga kamu tak mampu tersenyum untuk sesaat. Lalu kucubit kedua pipimu yang basah oleh airmata yang membuatmu berteriak jengkel, kemudian kuhapus airmatamu, menghiburmu hingga kamu tertawa seperti anak kecil.

Aku masih mengingat jelas dengan hari-hari itu. Hari yang sama seperti hari ini, hari yang sama saat kuhapus air matamu, hari yang sama saat kita tertawa bersama menertawakan hari-hari yang telah lalu, hari yang sama seperti saat kubawakan kado ulang tahunmu yang ke-20 yaitu hari dengan hujan yang riuh. Entah bagaimana bisa hari yang sama itu mempunyai cerita yang berbeda.

Hari ini aku hanya bisa termenung, memandangmu dari jauh di balik punggung banyak orang. Melihatmu duduk berdua dengan seseorang yang sangat akrab wajahnya, orang yang sama dengan orang yang selalu mendengarkan berbagai kisahku tentang dirimu. Aku tak tau bagaimana dia bisa berbuat semacam itu padaku. Mungkin, Tuhan memang telah menjodohkan kalian saat sebelum kalian bertemu denganku. Melihat kalian duduk di sana, di atas pelaminan, senyumku mengembang kecil. Bukan karna kutaksakit hati. Namun, kurasa cukup langit yang mewakiliku hari ini. Meneteskan air sebanyak yang ia mau.

 

Thumbnail

[slug] => cerita-hujan [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1472923845.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 675 [issued] => 0 [author] => Hilmi Robiuddin [username] => obyarts [avatar] => file_1491393589.png [status_name] => published [category_name] => Cerpen [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 35 [total_likes] => 7 [created_at] => 2016-09-04T00:30:45+07:00 [updated_at] => 2018-10-04T09:41:42+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 33.281772ms [status] => 200 )