Malamku: Sunyi

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Malamku: Sunyi

Entah apa yang sedang ku tulis malam ini. Entah kata apa yang harus kuungkap pada lembaran-lembaran di atas mejaku. Entahlah, aku hanya ingin menulis. Tapi apa yang harus kutulis? Tiba-tiba kuteringat sebuah paragraf cerpen terjemah yang kubaca tempo hari. Sebuah cerpen karya William Saroyan berjudul; Suatu Hari yang Dingin. Di sana tertulis, Jika kau tak bisa menulis cerpen lantaran kedinginan, tulislah sesuatu yang lain. Tulislah apa saja. Dst. Cerpen itu telah memotivasiku untuk menulis. Ya, menulis apa saja. Sekalipun itu hal yang tak penting yang terjadi padaku.

Malam ini begitu sunyi, Kawan. Ya, sunyi sekali. Bukan karna sepi, bukan. Tapi entah apa yang membuatnya sunyi. Sejenak kuarahkan wajahku ke langit, tak kulihat satupun bintang-bintang yang biasanya temaniku di kesepian seperti sekarang ini. Mungkin para bintang sedang malas menampakkan diri. Atau mungkin mereka sedang tak mau melihatku yang sedang merenung tentang suatu hal yang aku sendiri tak tau. Atau mungkin juga para bintang itu sudah muak melihat lampu-lampu kota. Lampu yang hanya menerangi muka-muka penghuni kota tanpa menerangi hati mereka. Selain sunyi, kurasa malam ini begitu gelap gulita. Bukan karna tak ada lampu, atau karna sang bulan tak menampakkan wajahnya malam ini. Ya, kurasa bukan gelap itu yang kumaksud. Tapi seperti yang kuatakan tadi, karna banyak hati yang kini taklagi diterangi cahaya.

Malam ini begitu sunyi. Kulirik jam menunjukkan pukul 23.40 WIB. Ini masih terlalu sore tuk memejamkan mata pikirku. Namun serasa seperti ada yang memberontak dalam hatiku, seperti menyuruhku agar lekas tidur. Kemudian kuteringat bahwa akhir-akhir ini aku sering stres. Mungkin benar kata artikel yang kubaca beberapa minggu yang lalu bahwa kurang tidur bisa membuat seseorang mudah  stres. Atau mungkin karna otakku telah terdoktrin oleh kata-kata yang kubaca itu. Dari dulu aku percaya bahwa penyakit itu datang dari pikiran kita sendiri dan bahwa apa yang dikatakan oleh dokter tentang penyebab-penyebab penyakit itu tak semuanya benar. Seperti kisah dari pamanku tentang temannya yang seorang dokter.

Pamanku berkisah, bahwa temannya yang berprofesi sebagai dokter itu adalah orang yang mempunyai penyakit asam lambung yang cukup parah. Minuman yang harus dia konsumsi haruslah minuman yang benar-benar bersih atau paling tidak dimasak terlebih dahulu. Begitu kata ilmu kedokteran yang teman pamanku itu pelajari, paling tidak begitu cerita pamanku. Sampai suatu ketika dia dikirim ke suatu desa terpencil (pamanku tidak menyebutkan desa mana). Pada suatu perjalanan di daerah pesawahan desa tersebut, si Dokter merasa sangat haus. Sedangkan, dia lupa tidak membawa bekal minuman yang paling tidak dia anggap layak untuk dia minum. Sehingga, pada akhirnya dengan sangat terpaksa si Dokterpun meminum air yang ada di sawah. Namun siapa sangka ternyata penyakit asam lambung si Dokter itupun semubuh.

Ya, begitulah bahwa tak semua yang di-was-was-i oleh dokter itu benar. Namun tidak ada salahnya juga kita mengikuti kata dokter, paling tidak untuk antisipasi dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Kukira semua tergantung pada diri kita masing-masing. Dan tergantung bagaimana kita berpikir akan hal itu.

Ya, begitulah, kawan. Malam ini begitu sunyi. Ya, Sunyi sekali.

 

Kajen, 28 Agustus 2016

 


Sumber Thumbnail


  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Edited

    • Lihat 4 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    ini tulisan mengindikasikan kalo penulisnya lagi galau ya pak? hehe

    paragraf terakhir kayaknya kepanjangan. mungkin bisa dipecah jadi 2.

    ada beberapa kalimat yang kepanjangan. harusnya dipisahin pake titik, tapi pake koma.
    kadang itu yang bikin pembaca gak bisa napas, hehe.

    *maaf asal komen

    • Lihat 7 Respon