Ada Yang Hilang Di Tanah Kelahiranku

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Mei 2016
Ada Yang Hilang Di Tanah Kelahiranku

Mentari jingga hampir menyembunyikan sinarnya. Menandakan hari sudah hampir malam. Aku duduk di teras rumah nenek sedari tadi, memandangi anak – anak kecil yang sedang asyik bermain. Sebagian dari mereka bermain sepeda di halaman rumah sebagian yang lain sibuk dengan gadgetnya masing – masing di teras rumah mereka, sepertinya mereka sedang bermain game, terlihat dari gaya mereka dan gadget yang mereka iringkan.

Hari semakin gelap. Seperti ada yang aneh... pikirku sedari tadi mencari – cari hal yang ganjil dari anak – anak itu. “Ris... Haris...” teriakan nenek memalingkan pandanganku dari anak - anak itu. Dengan tubuhnya yang tak lagi tegap nenek menghampiriku. “Ayo Ris, masuk ! sudah gelap” ajakan nenek menyadarkanku tentang keganjilan yang dari tadi kupikirkan. Kemana para ibu yang dulu meneriaki anaknya ketika senja tiba,? Pikirku teringat sepuluh tahun yang lalu.

*****

#flashback on: 10 tahun yang lalu

 “Ris... ayo cepat pulang sudah hampir gelap” Ibu meneriakiku dari depan rumah, agar aku segera pulang.

“Iya bu sebentar lagi” jawabku ngeyel, karena masih asyik bermain kelereng dengan teman – temanku.

Bu Retno tetangga sebelah rumahku tiba – tiba datang menghampiri Agus anaknya “Ayo pulang!, sudah jam berapa ini !?” kata Bu Retno sambil menjewer anaknya itu.

“Haris... ayo cepat masuk rumah!” ibuku kembali meneriakiku, begitu juga Ibu – ibu yang lain meneriaki anak – anak mereka agar cepat masuk rumah. Sampai kemudian Bu Ageng istrinya pak RT berteriak, “Anak – anak cepat masuk !, kalau diculik mumok baru tau rasa kalian !”. mendengar itu Aku dan teman – temanku lansung lari masuk rumah.

Mumok adalah makhluk halus yang gemar menculik anak – anak yang keluyuran di waktu petang untuk dijadikan makanannya. Begitulah kata orang – orang tua di desaku. Entah itu nyata atau tidak. Tapi cerita tentang makhluk bernama mumok itu sudah turun temurun diperdengarkan. Setiap kali mendengar nama itu, semua anak – anak kecil pasti langsung lari masuk rumah karena takut diculiknya.

#Flashback off

******

Adzan maghrib telah berkumandang aku dan nenek pergi ke masjid yang jaraknya tujuh rumah ke utara dari rumah nenekku. Sesampainya di sana aku kembali merasa aneh. Di masjid hanya ada orang – orang yang tak lagi muda. Kemana perginya anak – anak muda ? pikirku. Dulu di waktu maghrib seperti ini banyak anak – anak kecil dan para remaja yang meramaikan masjid. Shalat berjama’ah kemudian tadarusan atau sholawatan bersama.entah kemana anak – anak muda sekarang, kenapa mereka enggan menunjukkan batang hidungnya di masjid. Bagiku, rasanya sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama untuk membuat semuanya berubah.

Iqomah telah dikumandangkan kemudian shalat berjama’ah dilaksanakan.

Selesai shalat, aku dan nenek ingin lekas pulang.

“Haris...” seseorang berbadan kurus dengan baju batik coklat dan peci hitam menghentikan langkahku di teras masjid. “kamu benar Haris ?” tanyanya coba meyakinkan diri. “Iya, benar. Ini Pak Yono ?”

“Iya Ris, kamu masih ingat ?”

“Masih dong pak, bapak kan yang sering marahin aku gara – gara nyolong mangga, hehehe...”

“Hahaha... kamu sih waktu kecil suka nyolong manggaku”

“Nenek pulang dulu ya ris ?” melihat aku dan pak Yono bercakap – cakap nenekpun memutuskan pulang duluan kerumah.

“Iya nek” kataku mengiyakan.

“Oh iya gimana kabar bapak sekarang?”

“Yah begini lah Ris, nasib petani, suka ribet gara – gara pupuk, harus ngumpulin RDKK lah, ini lah itu lah, belum lagi kalau pas lagi banyak hama. Lha kamu sendiri gimana ?”

“Wah, pusing juga ya pak ? Kalau aku sih juga sama pak, lagi pusing bikin skripsi, hehehe... Ya rencananya sih aku pengen meneliti tradisi orang – orang di sini pak, tapi sepuluh tahun aku pindah ke kota ternyata banyak yang berubah ya ?”

“Yah beginilah ris, zaman sudah banyak berubah. Anak muda zaman sekarang lebih memilih main HP di rumah daripada pergi jama’ah di masjid. Permainan – permainan tradisionalpun juga nggak lagi mereka kenal. mana ada anak zaman sekarang kenal dengan yang namanya dakon, bentengan, boinan atau apalah permainan anak – anak zaman dulu yang sering kamu mainin itu”

“Iya pak, kalau ingat zaman dulu aku jadi malu. Sampai pak RT datang ke rumah minta ganti rugi gara – gara kacanya aku pecahin waktu main boinan, hehehe...”

“Hahaha... kamu ini benar – benar nakal ya dulu”

“Iya pak, jadi nggak enak, hehehe... Oh iya, tadi sore aku lihat banyak anak – anak masih bermain di luar, padahal hari sudah mulai gelap, apa sekarang nggak ada ibu – ibu yang ngingetin soal mumok ?”

“Walah Ris... Ris... kamu ini. Anak zaman sekarang sudah nggak takut sama yang begituan. Mereka lebih takut kalau HP-nya nggak bisa buat internetan”

Mendengar itu akupun tertawa...

“Jangankan anak main sore – sore, Ris” lanjut pak Yono “ada orang pacaran di pinggir jalan saja sekarang dibiarin sama orang – orang”.

“hmm...” aku hanya mengangguk. Dulu, kalau ada orang pacaran kayak gitu pasti sudah langsung di samperin bapak – bapak bawa celurit pikirku.

Allahu akbar... Allahu akbar...

Allahu akbar... Allahu akbar...

Tak terasa adzan isya’ sudah berkumandang. Akhirnya pak Yono memutuskan untuk masuk ke dalam masjid. Aku pun kemudian mengambil air wudlu lalu ikut shalat isya’ berjam’ah. Sehabis itu aku langsung pulang ke rumah nenek.

*****

Ya, beginilah zaman, sering kali menyeret tradisi ke dalam jurang, sehingga tak lagi dikenal oleh anak – anak generasi penerus. Aku hanya berharap bila kita tak mungkin mengembalikan tradisi yang telah hilang paling tidak kita bisa menjaga tradisi yang masih ada.

*****

Meskipun tradisi di tanah kelahiranku kini tak sama dengan yang ku bayangkan sebelum aku sampai di sini, tak sama dengan yang kualami sepuluh tahun yang lalu, ketika aku dan kedua orang tuaku masih tinggal bersama kakek dan nenek di sini, aku harus tetap menyelesaikan penelitianku, demi memenuhi tugas kuliah yang ku jalani.


Sumber gambar di sini

  • view 120