Surga Yang Lain ?

Hilmi Robiuddin
Karya Hilmi Robiuddin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 April 2016
Surga Yang Lain ?

Gelap...

Semuanya gelap...

Hanya ada satu cahaya yang dilihat Amimah, cahaya yang amat terang, cahaya yang entah dari arah mana. Ya, karena Amimah tak tau dia sedang ada dimana. Amimah mendatangi sumber cahaya itu perlahan ? lahan hingga akhirnya dia sampai pada sebuah gerbang besar. Gerbang? yang tebuat dari jeruji emas dan permata. Diintipnya dari celah jeruji gerbang itu, terlihat sebuah jalan lurus menuju taman? yang indah. Sebuah taman luar biasa yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Amimah ingin melihat lebih jauh lagi melewati gerbang itu. Namun gerbang itu tertutup rapat.

Tak lama kemudian tiba ? tiba seorang pria muncul dari arah kanan Amimah. Seorang pria tegap dengan tubuh sedikit lebih tinggi dari tinggi Amimah, panjang rambutnya sebahu, wajahnya berseri ? seri, pakaiannya putih, tak terlihat sedikitpun noda di pakaiannya, baunya wangi seperti misyik.

?Hai Amimah, maukah kamu masuk kedalam sana ?? pria itu menawari Amimah.

Amimah mengangguk sedikit ragu. 'Bagaimana dia tau namaku?' Pikirnya.

?Apa kamu siap meninggalkan seluruh keluargamu ??

Amimah mengerutkan dahi. Kali ini dia benar ? benar ragu. ?Apa maksudnya ?? pikir Amimah, ?Kenapa aku harus meninggalkan seluruh keluargaku ?? belum sempat Amimah sampaikan pertanyaan dalam pikirannya itu tiba ? tiba pria itu berkata, seakan dia tahu apa yang Amimah pikirkan; ?Disana adalah negri keabadian. Barang siapa yang memasukinya akan kekal di dalamnya.? Kata pria itu. ?Di sana kamu akan ditempatkan di atas permadani sutra yang lembut nan indah, di atas dipan yang bertahta emas dan permata, dan kamu akan di kelilingi anak ? anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas emas, cerek emas dan minuman yang diambil dari air mengalir, yang mana airnya lebih putih dari pada susu dan rasnya lebih manis dari pada madu dan kamu tak akan peing karenanya, tak akan pula mabuk. dan mereka juga membawa buah ? buahan yang kau pilih dari pohon ? pohon yang mudah diambil buahnya dan daging dari apa yang kamu inginkan.? Jelasnya.

Mendengar semua itu mata Amimah berkaca ? kaca. Dia jadi ingin segera memasuki gerbang itu. Namun ada yang mengganjal di hatinya. Keudian tiba ? tiba muncu pertanyaan di benak Amimah ?Akankah suamiku mengizinkanku pergi kesana ? Bagaimana dengan anakku ?, dia belum genap berumur satu tahun. Bagaimana dengan ibu di rumah ? bagaimana perasaan mereka semua ??.

Amimah menundukkan kepala. Kali ini ia memantapkan hatinya untuk tidak pergi melewati gerbang itu.

?Maaf tuan? kata Amimah mantap ?mungkin aku harus izin dulu pada suamiku?. Meski dia tau dia takkan menemukan kesempatan yang sama kedua kalinya.

Pria itu tersenyum lebar kemudian mengangguk pelan.

?

*****

?

Allahu akbar... Allahu akbar...

Allahu akbar... Allahu akbar...

Asyhadu allaa ilaaha illallah...

Adzan shubuh membangunkan tidur Amimah.

?Alhamdulillah sudah shubuh? gumam Amimah yang masih berusaha melawan ngantuknya. ?Mas... sudah shubuh mas... bangun... sudah shubuh? Amimah membangunkan suaminya; Umar yang tidur di sebelahnya.

?Udah shubuh ya ??

?Iya, ayo bangun sholat dulu?

?Wudlu dulu sayang, baru sholat? canda Umar

?Ah kamu ni, bangun dulu baru wudlu. Udah ah ayo cepat keburu terbit mataharinya? bantah Amimah

Kemudian mereka bergegas mengambil air wudlu lalu sholat berjama?ah di kamar kemudian dzikir sebentar lalu berdo?a setelah selesai Amimah mencium tangan Umar. Setelah itu Umar berdiri. Amimah masih duduk di tempat yang sama saat dia dzikir dan berdo?a, Amimah terdiam hingga tak sadar suaminya telah beranjak keluar kamar, rupanya mimpinya tadi malam masih membayangi dirinya ?Apa tadi itu hanya mimpi ?? pikir Amimah, ?tapi semua itu terasa begitu nyata.?

?Hiks.. hiks... Oee...? Tangisan Alka menyadarkan Amimah dari lamunannya. ?Eh, Adek udah bangun? Amimah menyambari putranya yang berbaring di ranjang kecil tak jauh dari tempatnya duduk. ?Adek ngompol ya, Ibu ganti dulu ya popoknya? gumam Amimah sambil melepas popok Alka. ckreekkk.... Umar membuka pintu kamar.

?Dari mana mas ??

?Abis minum di dapur, Alka udah bangun ya ??

?iya nih ngompol?

?Ih, anak bapak ngompol...? *dengan nada gemas*. Umar menggendong bayi Alka yang sudah diganti popoknya. Kamudian menimang ? nimangnya.

?

*****

?

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

?Aku berangkat dulu ya? pamit Umar pergi mengajar di madrasah kampung sebelah.

?Iya, hati ? hati? kata Amimah sambil mencium tangan suaminya.

?Assalamu?alaikum...?

?Wa?alaikum salam...?

Umarpun berlalu.

Kemudian sambil menggendong Alka, Amimah menghampiri Ibunya yang meyapu di halaman belakang.

?Ada apa nduk ? kog kayak ada yang mengganjal di pikiranmu ??

?Iya buk, Amimah masih kepikiran mimpi semalam?

?Emangnya kamu mimpi apa ? sini duduk dulu? Ibu Amimah mengajaknya duduk di bangku bambu belakang rumahnya.

Amimah pun menceritakan mimpinya tadi, mulai dari dia berjalan di ruang yang sangat gelap kemudian mendatangi cahaya yang membawanya ke gerbang besar, kemudian bertemu pria dan segala apa yang di katakan pria itu Amimah ceritakan semua pada ibunya hingga amimah dibangunkan oleh Adzan shubuh dia ceritaka. Tiba ? tiba air mata ibunya jatuh membasahi pipi yang sudah agak keriput.

?Buk... kenapa ibuk menangis, Amimah nggak akan kemana ? mana kok buk?

?Bukan nduk, bukan itu, justru ibuk berpikir kenapa kamu nggak masuk saja kedalam sana. Kamu sudah melewatkan kesempatan besar yang tidak semua orang miliki.? Kata ibu Amimah ?itu surga nduk? Tegasnya.

Ya itulah Ibu, dia lebih rela anaknya bahagia meskipun harus pergi meninggalkannya.

Amimah tersenyum mendengar kata ? kata ibunya, ?Buk...? kata Amimah lembut, ?Mungkin Amimah sudah melewatkan kesempatan yang sangat langka, mungkin Amimah melewatkan kesempatan masuk surga saat itu, tapi Amimah masih punya surga yang lain, surga yang Amimah yakin lebih dari apa yang ada di mimpi Amimah tadi...?

?Surga yang lain ?? ibunya mengerutkan dahi

?Iya buk, Surga itu ada di telapak kaki ibuk dan di telapak tangan Mas Umar suamiku?

Ibu Amimah langsung memeluk Amimah sambil meneteskan air mata.?Ibuk bahagia nduk, ibuk bahagia... sekali punya anak shalihah seperti kamu.? Kata ibu Amimah sambil mengusap air mata. ?Semoga Allah selalu melindungimu ya nduk, Semoga Dia selalu memberikan yang terbaik untukmu.?

?Amiin...?. Amimah pun mencium tangan ibunya. sedangkan Alka masih terlelap di atas pangkuannya.

?

---------

#cerita ini saya tulis dari cerita ibu saya yang mengalami hal itu, dengan sedikit tambahan untuk pelengkap.

?

image by google.com


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Salam sungkem buat ibundamu, kawan...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Jika itu kisah nyata dari mimpin ibu ente.. gw percaya karena tidak semua mimpi adalah bunga tidur.. kadang mimpi adalah sebuah petunjuk..
    Tapi saya sedikit penasaran dan akan bertanya kepada ibu ente melalaui ente.. apa benar seseorang dalam mimpin ibu anda memanggil ibu anda dg kata ukhti ? > ?Hai ukhti, maukah kamu masuk kedalam sana ?? pria itu menawari Amimah.

    • Lihat 5 Respon