Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Teknologi 13 Agustus 2018   03:08 WIB
Lombok , Gempa, dan Keanekaragaman Hayati

 

 

Lombok , Gempa,  dan  Keanekaragaman Hayati

 

Oleh Nyoto Santoso

 Dosen Fakultas Kehutanan/Kepala Pusat Kajian Biodiversitas dan Rehabilitasi Hutan Tropika IPB

 

Gempa bumi kembali mengguncang Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8) malam. Gempa kali ini kekuatan magnitudonya 7,0 – jauh  lebih besar ketimbang gempa sebelumnya Minggu sepekan sebelumnya (29/7). Jika gempa sebelumnya menewaskan puluhan orang, gempa kali ini menewaskan ratusan orang. Kehancuran yang ditimbulkannya juga jauh lebih besar ketimbang gempa sebelumnya. Setelah gempa kedua itu, gempa berikutnya susul menyusul, sehingga korban tewas terus bertambah. Info terakhir korban tewas mencapai 390 orang lebih.

Gempa Minggu malam tersebut – seperti halnya gempa Minggu sebelumnya – episentrumnya sama dengan gempa pekan lalu yang magnitudonya berkekuatan 6,4. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, gempa yang mengguncang Pulau Lombok Timur ini merupakan gempa utama dari rangkaian gempa yang terjadi sepekan sebelumnya. Gempa Lombok ini, lanjut Dwikorita,  terjadi akibat adanya deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan ke atas (thrust fault). Gempa di NTB ini, sejatinya gempa tektonik yang episentrumnya berada pada 8,30 derajat Lintang Selatan dan 116,48 derajat Bujur Timur. Tepatnya di lereng Gunung Rinjani, sekitar 18 km  barat Lombok Timuur dengan kedalaman 15 km. Tak hanya itu. Di Pulau Limbok sendiri terdapat sesar  Flores yang mebentang sampai Bali. Ini pun menyebabkan Lombok rawan gempa.

 Gempa Lombok di atas, sekali lagi mengingatkan kita, bahwa kepulauan di nusantara ini rawan gempa besar karena berada pada jalur cincin api (ring of fire). Di jalur cincin api yang membentang (dan melingkar) dari Selandia Baru, Indonesia, Filipina, Jepang, Himalaya (Pasifik)  terus ke Alpen (Eropa), British Columbia, Meksiko hingga Nikaragua (Atlantik) tersebut terdapat  gunung-gunung berapi yang setiap saat meledak. Dalam sejarah, misalnya, Ledakan Gunung Krakatau di Selat Sunda (1883) dan Gunung Rinjani (1257) di Lombok pernah membuat bumi mengalami mendung panjang karena sinar matahari tersaput debu ledakan mahadahsyat kedua gunung tersebut. Bahkan ledakan Gunung Rinjani di abad ke-13  sampai melenyapkan sebuah kerajaan besar di Pulau Lombok hingga tak bersisa.

 Tapi di balik itu semua, di wilayah pegunungan itulah terdapat keindahan alam yang luar biasa sehingga menarik gelombang migrasi manusia dari belahan dunia lain. Di jalur ring of fire, tidak hanya terdapat keindahan alam yang menakjubkan. Tapi juga keanekaragaman hayati yang indah dan kaya. Alfred  Russel Wallacea (1823-1913), peneliti biologi asal Inggris, misalnya,  selama delapan tahun (1854-1862), meneliti dan menjelajah kawasan timur nusantara, dan menemukan banyak sekali keajaiban flora dan fauna yang belum pernah dilihat sebelumnya.

           Wallacea – seorang  naturalist, explorer, geographer, anthropologist, dan biologist – mengaku menemukan dunia baru  ketika menjelajah wilayah nusantara timur. Melalui catatan-catatan Wallacea, Indonesia kemudian menjadi sorotan dunia karena keunikan alamnya. Sampai hari ini pun, berkat Wallacea, Indonesia – khususnya kawasan timur – menjadi semacam “konservasi dan laboratori” raksasa dunia untuk mempelajari dan menguak kekayaan biodiversitas planet bumi.

            The Malay Archipelago, buku karya Wallacea, memetakan kawasan-kawasan eksklusif nusantara timur seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Pulau Lombok, dan sekitarnya  yang mempunya flora fauna khas dan endemik, yang tidak ada duanya di dunia. Tak hanya itu, Wallacea juga berhasil mengidentifikasi flora dan fauna yang merupakan paduan tipolologi benua Australia dan Asia. Melalui penelitiannya, Wallacea membuktikan bahwa Asia dan Australia dulu merupakan satu benua. Mencairnya es di kutub yang menimbulkan banjir besar, telah memisahkan daratan benua besar itu menjadi Asia dan Australia.

            Indonesia Timur  (Malaya Timur) – tulis Wallace dalam  On The Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From The Original Type (1858) – adalah kawasan kepulauan yang berbeda tipe fauna dan floranya dibandingkan kawasan barat Indonesia. Ia membuat garis imajiner  yang kemudian dikenal sebagai Wallacea Line (Garis Wallacea), yang memisahkan kepualauan nusantara bagian timur yang flora-faunanya berciri Australia, dan kepualauan nusantara barat yang flora-faunanya berciri Asia.


            Garis Wallace merupakan garis hipotesis atau garis khayal yang memisahkan Indonesia bagian Tengah dan  Indonesia bagian Timur. Dalam peta, Garis Wallace ini menjulur ke bawah dari Samudera Pasifik melewati bawah Filipina, terus membentang antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi; selanjutnya turun  membelah laut yang memisahkan Pulau Bali dan  Lombok. Keberadaan Garis Wallace ini juga dicatat Antonio Pigafetta yang meneliti perbedaan biologis antara flora fauna Filipina dan  Kepulauan Maluku. Hal ini tercatat pula dalam perjalanan Ferdinand Magelland pada tahun 1512.


           Di pihak lain, masih menurut Wallacea, ada paparan Sunda yang berada di sebelah barat Wallace Line. Paparan Sunda merupakan lempeng bumi yang bergerak dari kawasan Oriental (Benua Asia), sebelah barat Garis Wallace, menuju lempeng Australia. Menurut Wallacea, kawasan yang merupakan zona Asiatik itu adalah Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawam, dan Bali. Di kawasan Asiatik ini, flora dan faunanya berbeda dengan kawasan sebelah timur garis Wallacea, termasuk Pulau Lombok, yang berciri Australia.


             Di samping paparan Sunda, ditemukan juga paparan Sahul. Paparan Sahul merupakan paparan benua yang berada di sisi timur dari Garis khayal Wallace. Paparan Sahul merupakan lempeng bumi yang bergerak dari kawasan Australesia atau Benua Australia. Weber memperjelas pergerakan lempeng tersebut dalam garis khayal Weber Line. Garis Weber dalam peta menjulur ke bawah dari Samudera Pasifik, terus membelah Kepualauan Maluku, melintasi Laut Banda, dan berujung di Laut Timor.

               Setelah membuat garis imajiner Wallcea Line, peneliti eksploratif  Inggris ini kemudian membuat peta kawasan Wallacea. Kawasan ini merupakan lempeng bumi dari pinggiran Asia Timur yang bergerak di sela-sela garis Wallace dan Garis Weber. Kawasan Wallace mencakup pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, termasuk Lombok, dan sebagian Kepulauan Maluku.


             Di kawasan Wallace inilah, ditemukan banyak flora serta fauna endemik (yang hanya ditemukan di satu tempat). Uniknya, catat Wallacea, di kawasan tersebut terdapat flora dan fauna yang berciri Oriental (Asia) dan Australis (Australia). Kawasan Wallace ini disebut sebagai zona peralihan yang mempunyai keunikan dari aspek biologis.

              Kenapa peralihan? Wallace menyatakan, pada zaman es – Pleistocene 20.000 tahun lalu -- saat mana laut tertutup es, ada migrasi atau penyebaran flora dan fauna  dari kawasan Asia dan Australia, yang kemudian bertemu di Malay Archipalago, atau Indonesia. Jenis oriental (Asia) lebih banyak ditemukan di bagian barat dan jenis Australia di bagian timur Indonesia. Sementara kawasan Wallacea, di antara kawasan Asia dan Australia itu, dulunya  adalah palung laut yang sangat dalam sehingga “fauna” kesulitan untuk melintasinya dan “flora” berhenti menyebar.


             Andre Schuiteman, ahli anggrek dari Royal Botani Garden, Inggris, dalam seminar “Wallacea Week” di Jakarta 17 Oktober 2017, menunjukkan berbagai macam  anggrek endemik di kawasan Wallacea melalui film hasil observasinya. Menurut Schuiteman, Indonesia adalah negeri dengan jumlah diversitas anggrek terkaya di dunia. Tak hanya itu, Schuiteman juga menunjukkan berbagai macam jenis kupu-kupu, burung, dan serangga endemik khas kawasan Wallacea.

 Dari gambaran tersebut,  Schuiteman  menyimpulkan Indonesia adalah negeri megabiodiversiti yang luar biasa. Sangat kaya dan sangat indah. Tapi sayangnya, kondisi tersebut mulai terkikis. Perusakan hutan yang semena-mena; perburuan binatang langka yang semena-mena; dan  alih fungsi lahan hutan yang semena-mena membuat kekayaan biodiversiti tersebut kini terancam.


             Di Pulau Jawa dan Sumatera, misalnya, banyak fauna endemis musnah. Harimau Jawa (panthera tigris sondaica), misalnya, telah dinyatakan musnah oleh LIPI (1994) dan International Union of Conservation of Nature (1996). Populasi gajah Sumatera juga mulai terancam. Sementara itu, banyak burung-burung endemis di kawasan Wallacea, kini makin langka karena diperjualbelikan dan terancam musnah. Di pihak lain, hutan lindung dan konservasi di Indonesia timur terus dirambah dan  dirusak. Jika kondisi seperti itu  terus berlangsung, bukan tidak mungkin kekayaan dan keunikan flora dan fauna yang dulu ditemukan Wallacea hanya tinggal kenangan.

 Kini saatnya pemerintah harus peduli terhadap kekayaan dan keunikan flora dan fauna nusantara tersebut. Sebab, itulah kekayaan Indonesia yang sesungguhnya, baik dari aspek kapital finansial maupun environmental.

  
              Saat ini, wilayah yang dieksplorasi Wallacea tersebut tengah “terbatuk-batuk terguncang gempa” sehingga merepotkan bangsa Indonesia. Tapi satu hal, bangsa Indonesia harus tetap optimis. Di tengah bencana alam Lombok ini, terdapat hikmah yang luar biasa. Akibat trigger gempa tersebut,  saat ini mata dunia tengah mengarah ke Kawasan Indonesia Timur yang indah, unik, dan kaya biodiversitas. Fenomena inilah yang memicu Wallacea membuat catatan-catatan penelitiannya yang sangat berharga hingga menginspirasi Charles Darwin membuat buku monumental “On The Origin of Species (1858)”. Buku inilah yang membuka mata manusia terhadap teori evolusi, yang dikenal dengan istilah Teori Darwin.  Kini Teori Darwin menjadi “buku suci” ilmu pengetahuan dalam  menguak tabir kehidupan makhluk hidup masa lampau berjuta  tahun lalu.

         Tentu saja, kita semua berduka terhadap bencana gempa bumi Lombok yang menelan korban ratusan orang itu. Banyak hal yang harus dilakukan pemerintah dan kita untuk menolong para korban. Dari logistik sampai persiapan pembangunan kembali Lombok dengan mengacu pada rawannya gempa di pulau itu. Tanpa pembangunan infrastruktur yang kuat dan antigempa – rasanya pembangunan itu tak banyak artinya. Sebab ke depan, Lombok tetap masih menjadi daerah rawan gempa. Alam telah membentuk Lombok seperti itu. Baik formasi kulit buminya, maupun keajaiban alamnya yang indah dan kaya keanekaragaman hayatinya.

Karya : Nyoto Santoso