Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Wisata 25 April 2018   21:10 WIB
TNGL, Mutiara yang Rentan

 

Indonesia tak hanya negara adidaya kultural. Tapi juga adidaya natural. Ya, Indonesia adalah negara adidaya keaneka ragaman jenis (biodiveritas)  di dunia. Di dunia ini, hanya Brasil, yang luas daratannya lima kali Indonesia, yang mempunyai kekayaan biodiversitas yang menyamai Indonesia. Luar biasa bukan?

        Salah satu kawasan yang mempunyai kekayaan biodiversitas yang luar biasa adalah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). TNGL amat penting artinya sebagai penyangga kehidupan sekitarnya, terutama di Pulau Sumatera. Ia memiliki keaneka ragaman hayati yang sangat tinggi dan habitat penting untuk berbagai macam spesies, flora maupun fauna. Namun kini  TNGL kini terancam. Illegal logging, perambahan kawasan, kebakaran, dan aktivitas vandalisme lainnya kini merusak penyangga kehidupan tersebut.

Luas TNGL mencapai 1.094.692 hektar. Secara administrasi, TNGL berada di dua provinsi -- Aceh dan Sumatera Utara. Sepuluh kabupaten/kota yang mengelilingi TNGL adalah  Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Dairi, Karo, Deli Serdang, dan Langkat. Empat daerah terakhir, berada di Sumatera Utara.

 

TNGL menyandang dua  status berskala global:  Cagar Biosfer (1981) dan World Heritage  (2004). Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan World Heritage Committee atas melalui rangkaian proses seleksi yang ketat.

 

Cagar Biosfer merupakan kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam.Sedangkan World Heritage, disematkan UNESCO dalam World Heritage Convention (Konvensi Warisan Dunia) di Suzhou, Cina, Juli 2004. Di Indonesia, selain TNGL, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Lorentz juga menyandang predikat World Heritage.

 

TNGL merupakan laboratorium alam yang kaya biodiversitas. Taman ini merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata.

 

Terdapat 380 spesies burung dan 205 spesies mamalia di sana. Sayang, beberapa faunanya mulai kritis jumlahnya sehingga masuk dalam daftar hewan yang dilindungi. Di antaranya, orang utan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera (Panthera tigris), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus) dan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

 

"Hutan hujan di dataran rendah Indonesia khususnya ekosistem Leuser merupakan sisa habitat terbaik di dunia untuk Gajah Sumatera yang terancam punah. Di hutan ini, gajah purba bermigrasi dan masih ada sekawanan gajah liar di Sumatera. Tapi, perkebunan sawit memecah belah ekosistem hutan dan memotong migrasi gajah, sehingga sulit bagi keluarga gajah untuk menemukan sumber makanan yang cukup dan air," tulis Leo Dicaprio, buintang film Titanic yang pernah menyambangi TNGL, Maret 2016 lalu.

Taman Nasional Gunung Leuser menyediakan suplai air bagi 4 juta masyarakat yang tinggal di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara. Sepuluh kabupaten dan kota tergantung pada jasa lingkungan taman nasional ini. Dari mulai air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya.

 

Mau berkunjung ke TNGL? Biasanya, wisatawan yang datang ke TNGL mengambil rute Medan-Bukit Lawang. Bukit Lawang ini ytelah disiapkan pemerintah sebagai sebagai destinasi wisata alam. Lokasinya di Desa Perkebunan Bukit Lawang, Bahorok Langkat, Sumatera Utara. Perjalanan dari Medan, naik mobil sekitar 2 jam lamanya. Waktunterbaik untuk berwisata ke TNGL adalah bulan Juni sampai Oktober. Kenapa? Pada bulan-bulan itu, cuacanya terang. Musim kemarau. Tak banyak hujan.

 

 

Nyoto Santoso, Dosen IPB/Kepala Pusat Kajian Biodiversitas dan Rehabilitasi Hutan Tropika IPB

 

Karya : Nyoto Santoso