Harimau Jawa dan Arti Penting Keberadaannya

Nyoto Santoso
Karya Nyoto Santoso Kategori Ekonomi
dipublikasikan 14 November 2017
 Harimau Jawa dan Arti Penting Keberadaannya

 Harimau Jawa dan Arti Penting Keberadaannya

 Oleh  Nyoto Santoso

 Dosen Fakultas Kehutanan IPB/Kepala Pusat Kajian Biodiversitas dan Rehabilitasi Hutan Tropika IPB

 Ganda Saputra, petugas jagawana  Ujung Kulon, Banten, belum lama ini menjadi perhatian dunia. Penyebabnya, Ganda dengan mata kepala sendirimengaku menemukan harimau  Jawa (Panthera Tigris Sondaica) di Ujung Kulon,  Agustus lalu. Sampai hari-hari ini, kesaksian Ganda  tersebut masih menjadi perbincangan hangat di dunia ilmu pengetahuan. Soalnya, selama ini, versi ilmuwan,  mbah loreng Jawa telah dianggap punah. Beberapa diskusi tentang keberadaan harimau Jawa baru-baru ini diadakan untuk membahas hal tersebut.

Konon, siang hari itu, 25 Agustus lalu, ketika Ganda melakukan ekspedisi untuk pendataan banteng di hutan lindung Ujung Kulon, tiba-tiba ia mendengar suara auman macan yang mengagetkan. Tentu saja, Ganda kaget sekali.

Ia pun bersembunyi untuk melihat, macan apa yang mengaum keras itu. Ganda pun memotretnya.Ternyata, menurut pengamatan Ganda, macan tersebut adalah Harimau Jawa yang selama ini dianggap sudah punah.

Kesakian Ganda pun tentang adanya Harimau Jawa tersebut, tentu saja menghebohkan dunia konservasi dan ilmu pengetahuan.  Pasalnya, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan International Union of Conservation for Nature, masing-masing pada tahun 1994 dan 1996, telah mengumumkan bahwa Harimau Jawa  telah punah.

Jika kesaksian Ganda itu benar, berarti masih ada tersisa harimau Jawa, yang mana nilainya secara ilmu pengetahuan dan konservasi tinggi sekali.Masyarakat konservasi dan pecinta lingkungandi  dunia akan menabuh tambur tanda kegembiraan yang luar biasa.

Luar biasa?Betul, karena temuan tersebut sangat mengejutkan.Karena itu kesaksian Ganda plus tiga jepretan kameranya, kini sedang diselidiki serius. Warna bulunya, tinggi pinggulnya, tinggi pundaknya, bagaimana ekornya – apakah ia benar-benar mbah loreng Jawa? Sebab bisasaja, apa yang dilihat Ganda adalah macan tutul. Kalau macan tutul, memang belum dinyatakan punah.Masih tersisa beberapa puluh ekor di hutan-hutan Pulau Jawa, termasuk di Ujung Kulon.

Kepada wartawan BBCIndonesia yang berbasis di London, Didik Raharyono pemerhati lingkungan,  yang 20 tahun terakhir meneliti harimau Jawa mengatakan hewan yang terfoto itu unik dan sedikit membingungkan. Apakah itu macan tutul atau harimau Jawa yang telah dinyatakan punah, perlu diteliti lebih jauh.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Mamat Rahmat berharap bahwa ‘kucing besar’ yang terpantau Ganda di atas adalah harimau Jawa. Dari lorengnya, kata Mamat, mendekati harimau Jawa.

Mamat sudah bertugas di belantara Ujung Kulon sejak 1998 dan kerap mendapat laporan tentang keberadaan ‘lodaya’ -- sebutan dalam bahasa Sunda untuk Harimau Jawa.Tak sedikit penduduk setempat yang mengaku bertemu lodaya.

Sementara Didik Raharyono yang mendanai riset sendiri dengan topik harimau  mengaku mengantongi banyak bukti bahwa harimau Jawa masih ada dan hidup di kawasan hutan Pulau Jawa. Didik menyebutkan,antara tahun 2010 -- 2011, dia memperoleh sampel kulit dari hewan yang diduga kuat harimau Jawa tadi.Lantaran tidak mampu mendanai uji DNA, sampel tersebut dititipkan ke berbagai lembaga riset seperti Eijkman, Institut Pertanian Bogor, LIPI, UGM, dan UPI. Sampai sekarang belum ada jawaban kulit harimau apa, kata Didik.

Apa saja bukti keberadaan harimau Jawa yang dimiliki  Didik?Menurut dia, kelompok pecinta alam di Jember sudah sejak lama mengoleksi plaster cast dari jejak harimau Jawa.Ukuran jejak tersebut bervariasi, dari 24 x 25 cm sampai 16 x 14 cm.

''Itu sudah di luar ukuran jejak macan tutul.Macan tutul maksimal diameter jejaknya 10 cm,'' jelas Didik.

Didik mengaku pernah menjumpai bekas cakaran macan di pohon setinggi 2,8 meter diTaman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi,. Menurutnya,  itu di luar jangkauan macan tutul yang biasanya hanya setinggi 150 cm.

Di Taman Nasional Meru Betiri (Jember-Banyuwangi, Jatim) yang menjadi lokasi penentu kepunahan harimau Jawa, lanjut Didik, terakhir kali hewan yang diduga harimau Jawa mati terbunuh pada tahun 2012.Sedangkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, kata Didik, masih sering ada laporan perjumpaan masyarakat dengan harimau Jawa.

 High End Predator

Terlepas dari perdebatan di atas (apakah temuan Ganda, harapan Mamat,dan kesaksian Didik itu benar bahwa harimau  Jawa masih adaatau sudah punah), yang patut kita cermati adalah, kenapa spesies harimau (Jawa, Sumatera, maupun Tutul) banyak diburu?

Jawabnya:Itulah keserakahan manusia yang tak ada puasnya, yang selalu mencari hal-hal musykil sehingga merusak alam. Sampai sekarang para pemburu masih saja berusaha menangkap dan membunuh harimau.Ini karena kulitnya, dagingnya, tulangnya, giginya – konon -- berharga sangat mahal.

Sebagian masyarakat di Indo Cinamenganggap semua organ tubuh macan adalah obat mujarab.Bahkan ada yang menganggapnya punya kekuatan magis. Karenanya, harimau nilainya  secara ekonomi sangat tinggi. Asumsi seperti itulah yang seharusnya dikoreksi.Tidak benar bahwa semua organ tubuh harimau bisa untuk obatberbagai penyakit.Tak ada test laboratorium medis yang membenarkan pendapat tersebut.

Lalu, kenapa dalam dunia konservasi dan ilmu pengetahuan nilai harimau sangat tinggi?Jawabnya, karena harimau adalah high end predator.Sebagai high end predator, harimau adalah “pusat pengendali”kelestarian hutan. Harimau adalah pemakan kera, babi, banteng, kijang, dan lain-lain yang keberadaannya, bila berlebihan akan mengganggu keseimbangan ekosistem.

Di hutan yang harimaunya punah, niscaya jumlah kera dan babi akan makin banyak dan mengganggu ekosistem. Bila kedua binatang tersebut jumlahnya berlebihan, maka mereka merusak berbagai tanaman di hutan, khususnya tanaman penduduk yang menyangga keberadaan hutan. Dampak lanjutan dari populasi kera dan babi  berlebihan tersebut, keseimbangan ekosistem yang lain pun ikut rusak. Akibatnya, banyak  kuman-kuman yang selama ini dorman (tidur), tiba-tiba bangkit kembali dan menyerang manusia.

Dalam ekosistem, keberadaan flora dan fauna harus seimbang dan lestari.Jika salah satunya musnah, maka keseimbangan ekosistem terguncang.Dan ujungnya, manusialah yang paling menderita.Dari perspektif inilah kita melihat pentingnya keberadaan mbah loreng Jawa.

 Punahnya harimau dilihat dari aspek total economic value (TEV),  kerugiannya akan sangat besar bagi manusia. Ini karena dalam TEV, parameter ekonominya tidak hanya berbasis nilai finansial yang ada saat itu, melainkan juga  nilai ekonomi yang ''tidak ada pada saat itu". Parameter ekonomi yang ''tidak ada pada saat itu'', antara lain, adalah dampak lingkungan dan masa depan ekosistem akibat kerusakan alam. Karena itu punahnya harimau berkaitan langsung dengan masalah kerusakan alam tadi.Dengan kata lain, punahnya harimau juga mengindikasikan rusaknya ekosistem, rusaknya suhu bumi (global warming), dan rusaknya biodiversitas (keanekaragaman hayati).

Itulah sebabnya keberadaan mbah loreng Jawa tersebut dirindukan kalangan kanservasionis dan environmentalis. Dalam kaitan ini, tampaknya perlu riset lebih mendalam dan komprehensif  untuk meyakinkan dunia – apakah mbah loreng Jawa memang masih ada atau sudah punah.Bukan apa-apa, soalnya kesaksian masyarakat dan pengamat langsung yang bersentuhan dengan alam liar atau hutan belukar sering berbeda dengan pendapat para ilmuan yang berada di menara gading.



 

  • view 125