Dua Abad Wallacea, What Next Indonesia?

Nyoto Santoso
Karya Nyoto Santoso Kategori Teknologi
dipublikasikan 25 Oktober 2017
Dua Abad Wallacea, What Next Indonesia?


Dua Abad Wallacea, What Next  Indonesia?


 Oleh Nyoto Santoso

Dosen IPB/Kepala Pusat Kajian Biodiversitas dan Rehabilitasi Hutan Tropika IPB

               
           
  Selama sepekan (16-21/2017),   Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), British Council, British Embassy, dan Perpustakaan Nasional, menyelenggarakan “Wallacea Week 2017”  dengan acara seminar bertema megabiodiversiti Indonesia, pameran kekayaan alam Kawasan Indonesia Timur; dan epresiasi temuan-temuan Alfred Russel Wallacea (1823-1913) di gedung baru Perpustaan Nasional,  Jakarta. Sejumlah ilmuwan dari dalam dan luar negeri datang untuk mengapresiasi karya-karya ilmiah Wallacea.

           Dua abad mengenang Wallacea, seakan kita diajak untuk melihat kembali jagad nusantara bagian timur yang masih asli belum terjamah para perusak dan perambah hutan ilegal. Wallacea selama delapan tahun (1854-1862), meneliti dan menjelajah kawasan timur nusantara, dan menemukan banyak sekali keajaiban flora dan fauna yang belum pernah dilihat sebelumnya.

            Bagi Wallacea – seorang  naturalist, explorer, geographer, anthropologist, dan biologist – menjelajah nusantara timur bagaikan menemukan dunia baru.  Melalui catatan-catatan Wallacea, Indonesia kemudian menjadi sorotan dunia karena keunikan alamnya. Sampai hari ini pun, berkat Wallacea, Indonesia – khususnya kawasan timur – menjadi semacam “konservasi dan laboratori” raksasa dunia untuk mempelajari dan menguak kekayaan biodiversitas planet bumi, khususnya di wilayah tropis.

            The Malay Archipelago, buku karya Wallacea, memetakan kawasan-kawasan eksklusif nusantara timur seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan sekitarnya  yang mempunya flora dan fauna khas dan endemik, yang tidak ada duanya di dunia. Tak hanya itu, Wallacea juga berhasil mengidentifikasi flora dan fauna yang merupakan paduan tipolologi benua Australia dan Asia. Melalui penelitiannya, Wallacea membuktikan bahwa Asia dan Australia dulu merupakan satu benua. Mencairnya es di kutub yang menimbulkan banjir besar, telah memisahkan daratan benua besar itu menjadi Asia dan Australia.

            Indonesia Timur  (Malaya Timur) – tulis Wallace dalam  On The Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From The Original Type (1858) – adalah kawasan kepulauan yang berbeda tipe fauna dan floranya dibandingkan kawasan barat Indonesia. Ia membuat garis imajiner  yang kemudian dikenal sebagai garis Wallacea Line (Garis Wallacea), yang memisahkan kepualauan nusantara bagian timur yang flora-faunanya berciri Australia, dan kepualauan nusantara barat yang flora-faunanya berciri Asia.

            Garis Wallace merupakan garis hipotesis atau garis khayal yang memisahkan Indonesia bagian Tengah dan  Indonesia bagian Timur. Dalam peta, Garis Wallace ini menjulur ke bawah dari Samudera Pasifik melewati bawah Filipina, terus membentang antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi; selanjutnya turun  membelah laut yang memisahkan Pulau Bali dan  Lombok. Keberadaan Garis Wallace ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta mengenai perbedaan biologis antara Filipina dan  Kepulauan Maluku. Hal ini tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magelland pada tahun 1512.

               Di pihak lain, masih menurut Wallacea, ada paparan Sunda yang berada di sebelah barat Wallace Line. Paparan Sunda merupakan lempeng bumi yang bergerak dari kawasan Oriental (Benua Asia), sebelah barat Garis Wallace, menuju lempeng Australia. Menurut Wallacea, kawasan yang merupakan zona Asiatis adalah Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Di kawasan Asiatis ini, flora dan faunanya berbeda dengan kawasan sebelah timur garis Wallacea, yang berciri Australia.

             Di samping paparan Sunda, ditemukan juga paparan Sahul. Paparan Sahul merupakan paparan benua yang berada di sisi timur dari Garis khayal Wallace. Paparan Sahul merupakan lempeng bumi yang bergerak dari kawasan Australesia atau Benua Australia. Weber memperjelas pergerakan lempeng tersebut dalam garis khayal Weber Line. Garis Weber dalam peta menjulur ke bawah dari Samudera Pasifik, terus membelah Kepualauan Maluku, melintasi Laut Banda, dan berujung di Laut Timor.

               Setelah membuat garis imajiner Wallcea Line, sarjana Inggris ini kemudian membuat peta kawasan Wallacea. Kawasan ini merupakan lempeng bumi dari pinggiran Asia Timur yang bergerak di sela-sela garis Wallace dan Garis Weber. Kawasan Wallace mencakup pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara dan sebagian Kepulauan Maluku.

             Di kawasan Wallace inilah, ditemukan banyak flora serta fauna endemik (yang hanya ditemukan di satu tempat). Uniknya, catat Wallacea, di kawasan tersebut terdapat flora dan fauna yang berciri Oriental (Asia) dan Australis (Australia). Kawasan Wallace ini disebut sebagai zona peralihan yang mempunyai keunikan dari aspek biologis.

              Kenapa peralihan? Wallace menyatakan, pada zaman es – Pleistocene 20.000 tahun lalu -- saat mana laut tertutup es, ada migrasi atau penyebaran flora dan fauna  dari kawasan Asia dan Australia, yang kemudian bertemu di Malay Archipalago, atau Indonesia. Jenis oriental (Asia) lebih banyak ditemukan di bagian barat dan jenis Australia di bagian timur Indonesia. Sementara kawasan Wallacea, di antara kawasan Asia dan Australia itu, dulunya  adalah palung laut yang sangat dalam sehingga fuauna kesulitan untuk melintasinya dan flora berhenti menyebar.

             Andre Schuiteman, ahli anggrek dari Royal Botani Garden, Inggris, dalam seminar “Wallacea Week” Senin (17/10) di Jakarta, menunjukkan berbagai macam  anggrek endemik di kawasan Wallacea melalui film hasil observasinya. Menurut Schuiteman, Indonesia adalah negeri dengan jumlah diversiti anggrek terkaya di dunia. Tak hanya itu, Schuiteman juga menunjukkan berbagai macam jenis kupu-kupu, burung, dan serangga endemik khas kawasan Wallacea. Dari gambaran tersebut, ia menyimpulkan Indonesia adalah negeri megabiodiversiti yang luar biasa. Sangat kaya dan sangat indah.

            Wallacea Week di Perpusnas Jakarta tersebut menggambarkan kepada kita, bangsa Indonesia, betapa kayanya kepulauan nusantara  akan keberagaman dan keunikan biodiversitasnya. Tapi sayangnya, kondisi tersebut mulai terkikis. Perusakan hutan yang semena-mena; perburuan binatang langka yang semena-mena; dan  alih fungsi lahan hutan yang semena-mena membuat kekayaan biodiversiti tersebut kini terancam.

             Di Pulau Jawa dan Sumatera, misalnya, banyak fauna endemis musnah. Harimau Jawa (panthera tigris sondaica), misalnya, telah dinyatakan musnah oleh LIPI (1994) dan International Union of Conservation of Nature (1996). Populasi gajah Sumatera juga mulai terancam. Sementara itu, banyak burung-burung endemis di kawasan Wallacea, kini makin langka karena diperjualbelikan dan terancam musnah. Di pihak lain, hutan lindung dan konservasi di Indonesia timur terus dirambah dan  dirusak. Jika kondisi seperti itu  terus berlangsung, bukan tidak mungkin kekayaan dan keunikan flora dan fauna yang dulu ditemukan Wallacea hanya tinggal kenangan. Kini saatnya, pemerintah harus peduli terhadap kekayaan dan keunikan flora dan fauna nusantara tersebut. Sebab, itulah kekayaan Indonesia yang sesungguhnya, baik dari aspek kapital finansial maupun environmental.  

              Akhirnya, kita bangsa Indonesia patut berterima kasih terhadap Alfred Arthur Wallacea yang telah memperkenalkan kekayaan dan keunikan Indonesia kepada dunia internasional. Dunia pun berterimakasih kepada Wallacea, yang penelitian dan karya-karyanya, telah menginspirasi Charles Darwin untuk menulis buku monumental On The Origin of Species (1858) yang membuka mata manusia terhadap teori evolusi (yang kini menjadi landasan ilmu pengetahuan dalam  menguak tabir kehidupan manusia masa lampau -- beribu-ribu bahkan berjuta -- tahun lalu). ***

                                                                         

  • view 66