Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 17 Januari 2018   20:57 WIB
Membaca dan Menulis

Banyak keresahan di benak saya yang tidak akan cukup puas kalau hanya curhat dengan teman di tempat makan zaman now. Bukannya curhat tapi malah bergunjing, menghabiskan uang dan mempertinggi gengsi.

Lagipula, yang namanya keresahan pasti banyak yang hendak disampaikan dan bisa jadi itu semua terbatas oleh waktu yang tiba-tiba saja sudah larut malam. Sedangkan orang tua di rumah sudah siap dengan seribu ocehannya kalau kita tidak segera pulang. Nah kan, malah menambah masalah.

Terkadang pula teman tidak 100% akan bersemangat mendengarkan keresahan kita. Bisa jadi dia hanya berpura-pura, pura-pura bertanya agar kita bercerita lebih panjang lantas saat ditanya solusi hanya menjawab dengan, "Sabar ya." Untuk orang-orang seperti ini, kalian wajib memakan sandal jepit dilumuri saos ACB extra pedas!

Maka, salah satu solusinya yaitu menulis.

Menulislah agar dapat curhat dengan leluasa dan jujur.

Menulislah agar dikenang. Agar punya cerita yang akan dibagikan ke anak dan cucu kelak. Jangan doi melulu yang dikenang!

Menulislah kalau punya alat tulis. Kalau tidak punya ya pinjam! Lagipula, masa iya sih untuk membeli pulpen seharga Rp. 3.000,- tidak mampu? Sedangkan membeli minuman Mango Thai seharga Rp. 50.000,- dibela-bela'in. Mikir orang mah! (bernada seperti Mamah Dedeh)

 

 

Menurut saya, dewasa kini makna kata menulis sudah meluas. Kalau dahulu kita selalu berpikiran menulis identik dengan kertas dan alat tulis. Sekarang, menulis bisa dengan menekan tuts pada keyboard. Bahkan dengan keyboard handphone kita sudah bisa menuangkan segala keresahan di applikasi note misalnya. Mudah bukan? Tinggal memantapkan niat. Jangan melulu curhat di status social media!

Dari zaman saya SD sudah mulai menulis diary. Buku diary saya dahulu bergambar Hamtaro *tuk ku tuk hamtaro berlari~~* Saya beli di Indojuni. Tapi bodohnya saya saat itu justru memperbolehkan teman-teman dekat, keluarga, bahkan tetangga membaca diary saya. Duh Gusti!!! Tersebarlah kalau saya suka sama si....

Memasuki masa SMP dan SMK saya mulai malas untuk menulis diary. Mungkin kalau di hitung satu tahun hanya ada 10 cerita. Dahulu kalau saya menulis biodata untuk teman, pada kolom hobi selalu diisi dengan membaca buku dan mendengarkan musik. Padahal saya hanya bersemangat membaca buku baru (buku pelajaran terutama) karena harumnya kertas masih semerbak. Kalau harumnya sudah hilang, ya saya jadi malas membacanya.

Di tahun 2015 saya dikasih kado ulang tahun berupa novel Rindu karya Tere Liye oleh mantan pacar. Sejak saat itulah hobi saya tersalurkan. Mungkin karena memang baru menemukan bacaan yang se-keren itu. Saya menjadi sering membeli karya-karya beliau. Total sudah 15 novel Tere Liye yang saya punya.

Bosan dengan gaya bahasa Tere Liye, saya mulai berhijrah ke karya-karyanya Fiersa Besari, Pandji Pragiwaksono, Pidi Baiq, Ika Natassa, dll.

Semakin banyak saya membaca, semakin banyak pula kalimat-kalimat beterbangan di otak saya. Hal ini yang menjadi pemicu munculnya keresahan yang saya alami. Rangkaian kalimat-kalimat pada blog ini merupakan buah hasil saya membaca. Saya sendiri masih tidak menyangka kalau ternyata menulis lebih asik dari membaca. Menulis membuat saya bebas menuangkan segala gagasan yang ada di otak.

Saya sangat setuju saat Fiersa Besari mengatakan kalau menulis tidak perlu kiat-kiat khusus. Asalkan rajin membaca, pasti bisa.

Membaca membuat saya mengetahui banyak hal dan entah sejak kapan saya dapat membuat sajak-sajak sok puitis yang bahkan sejak saya sekolah, membuat puisi adalah hal yang sangat saya hindari. Saya pun menjadi lebih selektif dalam merangkai kata. Teman-teman saya ikut tertular. Satu per satu dari mereka mulai sering meminjam buku saya. Asalkan dibaca tidak masalah. Jangan hanya untuk memenuhi postingan Instagram!

Bukankah ayat pertama yang turun pada Al-Qur'an memang menganjurkan ummat agar membaca? Iqra' (bacalah).

Membacalah agar tidak mudah dibodohi, termakan berita hoax dengan mudahnya menyimpulkan segala sesuatu. Najwa Shihab pernah menyampaikan orasi literasi saat di International Indonesia Book Fair 2017 di Jakarta Convention Centre.

 

 

"Membaca buku adalah perjalanan panjang yang memaksa para pembaca menunda kesimpulan, tidak tergesa-gesa menghakimi. Baris demi baris, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman, bab demi bab harus dilalui lebih dulu. Seorang pembaca buku yang baik akan berhati-hati untuk menyimpulkan sebelum ia benar-benar menamatkan halaman terakhir, hingga baris pamungkas. Seiring bertambahnya jam terbang membaca buku, seseorang akan makin berlatih berhati-hati dengan informasi. Membaca informasi tidak lagi menjadi aktivitas dua arah antara si pembaca dengan teks yang terakumulasi di kepalanya. Dari sinilah seorang penerima informasi tidak akan menjadi penerima yang pasif, melainkan dapat bertransformasi menjadi pembuat makna yang mudah-mudahan tidak sia-sia."

Lantas, bagaimana caranya agar meningkatkan minat membaca pada diri sendiri? Ya dibuat asik! Kalau kau menyukai hal yang berbau superhero, coba baca komik-komiknya Marbel. Perlu diingat, membaca tidak selalu identik dengan buku ilmiah. Mulai saja dari hal-hal yang disukai lalu coba cari dalam wujud bukunya.

Buku dalam bentuk fisik sudah mulai bersaing dengan bentuk elektronik, atau biasa disebut E-book. Menurut saya buku dalam bentuk fisik tidak akan tergantikan. Selain tidak mudah membuat mata lelah, tidak ada radiasi dan harum kertas buku baru tidak ada yang menandinginya. Seperti surga dunia saat melintas di depan toko buku lalu diam-diam menghirup aroma kertasnya. Duh... berjuta rasanya!

Kuno kalau kau berpikir orang yang suka membaca selalu berpenampilan culun, memakai kacamata, bahkan menutup kancing baju sampai kerah. Hei! Itu semua hanya ada di film! Terkadang penampilan tidak mencerminkan hobi seseorang.

Menurut saya, bagi wanita tidak ada salahnya mempunyai alat-alat rias. Tapi jangan sampai jumlahnya melebihi jumlah buku yang dipunya. Karena menurut para ahli (entah ahli pijat atau ahli ramal), sebagian besar tingkat kecerdasan anak diturunkan dari ibu. Baca disini. Maka, membaca bisa menjadi salah satu solusi agar mempunyai pikiran terbuka dan wawasan luas yang mudah-mudahan dapat mendidik anak dengan benar. Kalau tidak suka dengan buku, membaca suatu artikel yang bermanfaat juga tidak ada salahnya.

Karya : Nurul Yuliyanti