Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 10 September 2018   19:48 WIB
Perjuangan Panjang Dr. Simon Nahak, Bantu TKW Pulang Ke Kampungnya.

Malaka - Isak tangis keluarga di kampung Nekto ketika Dr. Simon Nahak,SH.MH bersama Delviana Bete (18), salah satu korban Human Trafficing  tiba di Dusun Nekto, Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupten Malaka pada Senin, (10/9/2018).

Delviana Bete sebelumnya diberangkatkan oleh salah seorang agen Human Trafficing bernama Alex Masan asal Kupang untuk diberangkatkan ke Malaysia tiga tahun lalu.

Saat itu Umur saya baru menginjak 15 tahun. Karena itu, saat melakukan tes kesehatan, dokter meminta Delvi untuk tidak di berangkatkan. Namun karena paksaan dari Alex dengan banyak janji manis, maka Delvi pun turuti.

"Saya lupa tanggal waktu itu. Saat itu Dokter sudah suruh saya untuk tidak berangkat ke Malaysia. Tapi karena pak Alex paksa, maka saya terpaksa ikut saja," ucap Delvi mengenang kejadian tiga tahun silam.

"Saat itu dia diantar oleh salah seorang agen dari Kabupaten Malaka, Delvi dibelikan beberapa potong baju yang dibeli di sekitar area terminal Oebobo, Kupang. Pagi jam tiga dini hari, Delvi bersama Alekx langsung menuju ke Bandara El Tari Kupang.

Dr. Simon Nahak,SH.MH ,Menyerahkan Delviana Bete (18),kepada keluarganya di Dusun Nekto, Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupten Malaka pada Senin, (10/9/2018).

"Saat itu saya dikasih sebuah Dokumen yang dibungkus rapi dan saya dilarang untuk membukanya. Saya juga dikasih uang Rp50.000 sebagai bekal di jalan," tutur Delvi dengan mimik muka memerah.

Setiba mereka di sebuah bandara, Delvi langsung dibawa menuju ke hutan. Sesampai di tengah hutan, tepatnya di tepi sungai, sudah ada orang yang menunggunya. Agen itu lalu memyebrang bersama Delvi dengan menggunakan sanpan.

Delvi menuturkan bahwa di seberang sungai itu, ternyata dia tidak sendiri. Ada banyak orang. Dia tinggal ditempat penampungan tersebut selama beberapa hari.

Di penampungan itu, Delvi melihat bagaimana Nindi Kase, warga TTS yang menjadi agen di Malaysia menyiksa TKW lainnya dengan sadis. "Ada satu nona asal Sumba (NTT) saat itu dipulangkan ke penampungan karena kerja kurang bagus. Di penampungan, Nindi pukul dia pake sepatu di pipi terus pukul dia pake tongkat di kepala sampai darah keluar. Saya waktu itu sampai sembunyi karena tidak mau lihat," ucapnya.

Beberapa hari di penampungan, Delvi dimasukan ke sebuah perusahaan. Betapa senang hati Delvi karena ternyata dia sudah bisa dipekerjakan. Namun nasib naas menimpanya. Sekitar jam 11 malam, dirinya didatangi oleh beberapa petugas imigrasi dan meminta kelengkapan dokumennya. Tanpa ragu, Delvi pun mengeluarkan Dokumen yang diberikan Alekx kepadanya.

Ternyata, setelah diperiksa Dokumen itu, Delvi langsung ditangkap dan dimasukan ke penjara karena semua dokumen yang ada padanya adalah dokumen palsu. Delvi pun di tuntut 10 bulan penjara.

"Saya dalam penjara hanya bisa menangis. Saya bingung apa salah saya sampai saya masuk penjara. Padahal, saya datang lewat perusahaan resmi," ujar Delvi mengenang saat pertama dia dipenjarakan.

Menurut Delvi, ternyata tuntutan penjara yang dijalaninya adalah hukuman yang tergolong paling ringan. Masih ada banyak orang dari Indonesia yang di penjara kan di sana. Bahkan ada orang asal Sumbawa yang dipenjarakan seumur hidup di penjara tersebut.

"Saya hanya bisa menangis dan berdoa saat itu. Semoga Tuhan memberikan jalan pulang untuk saya", tuturnya dengan suara terbata-bata.

Setelah menyelesaikan masa tahanannya dalam penjara, Delvi dibantu oleh seorang Ibu asal Sumbawa, Soimah. Bersama KBRI di Malaysia, akhirnya Delvi bisa kembali ke Jakarta.

Selama beberapa tahun di Jakarta, Delvi tidak pernah mendapat sinyal baik untuk kembali ke kampung halamannya. Soimah pun menyerahkan Delvi ke Wisma NTT di Jakarta Selatan.

Beberapa orang di Wisma NTT coba menghubungi pihak keluarga, namun mereka kesulitan untuk mengontak keluarga. Informasi itu pun sampai ke telinga Dr. Simon Nahak, SH.MH.

Calon Anggota DPR RI dapil II NTT ini pun langsung merespon baik dengan mencari tahu keberadaan keluarga Delvi. Setelah mengetahui keluarga Delvi yang berada di Dusun Nekto, Dr. Simon langsung menuju Jakarta dan menjemput Delvi pulang ke rumahnya.

Delvi sebenarnya bukan keluarga dari Dr. Simon Nahak. Bahkan Delvi sendiri pun tak mengenal Dr. Simon. Di atas pesawat, Delvi sempat menanyakan siapa sebenarnya Dr. Simon.

"Saya sebenarnya membantu Delvi bukan karena dia keluarga saya atau karena saya sedang menyiapkan diri untuk bertarung menuju Senayan. Ini soal kepedulian kita akan kemanusiaan. Apalagi, tidak ada kepedulian dari pemerintah setempat untuk memulangkan anak ini. Ini hanya salah satu korban dari Human Tafficking. Masih banyak orang seperti Delvi di Malaysia yang mengalami nasib sama," tutur Dr. Simon Nahak.

Dirinya mengucapkan terima kasih kepada KBRI yang sudah berusaha memulangkan Delvi ke Jakarta. Dirinya juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para pengurus di Wisma NTT karena atas bantuan mereka, Delvi bisa sampai ke rumah keluarganya.

Kedatangan Delvi dan rombongan Dr. Simon Nahak disambut isak tangis sanak keluarga dan kedua orang tua. Mereka juga menyambut kedatangan Delvi dengan upacara adat masyarakat Suku Nekmataus.

"Saya senang akhirnya anak saya bisa kembali dalam keadaan sehat. Kalau tidak ada bapa Simon, kami tidak tau lagi Delvi akan jadi seperti apa," ujar ayah kandung Delvi, Siprianus Moruk yang duduk di samping istrinya yang sedang menangis.

Delvi menuturkan bahwa hanya lewat doa yang selalu ia panjatkan, Akhirnya Tuhan menjawab semuanya. "Saya setiap hari selalu berdoa kepada Tuhan agar saya bisa berkumpul dengan keluarga. Tuhan menjawab doa saya lewat Bapa Simon Nahak," tutur Delvi. (Bereck.Z)

Karya : Mr.Bereck Anggrainy