“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?”

Rai Generasiku
Karya Rai Generasiku Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 September 2018
“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?”


“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?”

Seandainya seorang bertanya, “ada yang mengajukan rasa seperti itu kepadamu, apa kamu akhirnya akan menikah?”

Ditanya seperti itu dia tertegun beberapa saat. Bukan karena pertanyaannya menohok. Tetapi mungkin tengah memikirkan cara untuk meringkas jawaban atas perkara yang memancing tawa itu.

Pertama, saya ingin mengatakan bahwa dialog seperti itu biasa terjadi dalam kisah romantis saja. Dalam kehidupan nyata, orang bahkan sering lupa, atau tidak begitu peduli dengan ekspresi cinta yang demikian.

Menikah ya menikah saja. Urusan cinta mari kita tunda, atau mari kita simpan dalam bisu. Atau, mari kita berpura-pura. Sebab, apa itu cinta saja sesama pasangan bisa silang pendapat. Yang satu memaknai cinta, sementara satunya lagi menghayati cinta lainnya karakter dalam kisah sinetron.

Tetapi aku memaknai cinta sebagai seni, yang karenanya harus dipelajari dan dibongkar maknanya. Sementara peniru karakter sinetron tak tahu menahu soal itu. Mereka hanya mengikuti apa yang disaksikannya di layar kaca. Jadinya, jika pecinta gaya dengan peniru sinetron ini disatukan dalam pembicaraan soal cinta, maka tidak akan pernah ketemu.

Karena itu, urusannya akan jadi ribet. Lebih baik dijawab dengan cepat: “i love you too,” saat satu di antara mereka mengucapkan kata itu lebih dulu.

Kedua, kalau memang ada yang melamar demikian, mungkin akan balik bertanya: “Sampai kapan kau bisa mencintaiku?”

Ini pertanyaan yang sangat realistis. Karena dia mengawali lamarannya dengan ungkapan: “Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?”

Lalu bagaimana jika suatu saat cinta itu memudar, atau sama sekali menghilang? Apakah kita bercerai saja? Urusannya bakal jadi panjang. Karena soal-soal terkait perceraian memang dibikin ribet (seperti halnya perkawinan). Dan, ingat, manusia sendiri yang menciptakan kerumitan itu.

Pertanyaan di atas sangat realistis, karena mungkin percaya tidak ada cinta manusia yang abadi.

Begini, dikatakan tidak ada yang abadi karena cinta itu sendiri adalah rekayasa pikiran manusia. Artinya, bukan saja konsep cinta itu bikinan manusia, tetapi apa yang kita percayai sebagai perasaan cinta itu sendiri, menurut hasil kontemplasi, adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran manusia yang bersangkutan.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mengalami ini seninya cinta: Ketika berjumpa dengan sosok yang sangat memikat, sangat cocok dengan selera personal, maka saat itulah bergejolak pertimbangan-pertimbangan dalam kepala kita untuk mendekat pada orang tersebut.

Lalu kita mulai mencuri-curi perhatiannya. Lalu sampai pada tahap mengenalnya lebih jauh. Lalu, pada momen yang dianggap tepat, tibalah saat untuk mengungkapkan keinginan (yang kerap dipercayai sebagai “perasaan") dari/terhadapnya. Sukur jika diterima. Kalau ditolak, kita bicarakan lain kali.

Pasti akan muncul pertanyaan: Bagaimana dengan cinta sejati? Bukankah ia mewujud tanpa alasan dan tuntutan? Sebab itu lahir pandangan: Mencintailah karena cinta.

Kalau begitu, saya balik bertanya: Apa mungkin mencintai tanpa alasan?

Begini, cinta sejati sering diartikan sebagai cinta yang tulus. Cinta yang tak menuntut, yang tak beralasan. Makanya kemudian muncul defenisi cinta sejati sebagai: Mencintai karena cinta.

Karena dia tak beralasan, maka setiap perubahan yang terjadi pada orang yang dikenai cinta sejati itu, tidak akan pernah melunturkan rasa cinta yang kita miliki. Karena itu cintanya sejati, plus kemungkinan abadi.

Pertanyaannya, mungkinkah ada cinta yang seperti itu?

Sementara, tumbuhnya cinta sendiri tidak tiba-tiba. Saya yakin betul terhadap yang satu ini. Orang jatuh cinta, ya karena melihat unsur-unsur material dalam diri orang yang dikenai cintanya itu: fisik, skill, sikap. Atau karena sudah mengenal dan bersamanya begitu lama, hingga keintiman tersebut dimaknai sebagai cinta.

Maka, cinta pada akhirnya selalu mengandung alasan. Dan karena setiap unsur yang menjadikan sesuatu itu sebagai alasan akan sangat mungkin berubah—sebab pandangan manusia memang selalu berubah-ubah—maka cinta rentan tak bertahan selamanya.

Jadi cinta sejati menurut saya, jika ia dipahami sebagai cinta yang tanpa alasan dan karenanya bisa abadi, hampir tidak mungkin dalam kehidupan nyata. Apalagi jika melihat kompleksitas manusia dengan berbagai keinginannya yang tidak statis.

Cinta kemungkinan bisa abadi jika ia tak pernah terpuaskan. Jika ia tak pernah diwujudkan dalam bentuk tindakan yang memuaskan. Bisa saja abadi. Itulah mengapa Romeo dan Juliet cintanya abadi, sebab keduanya tak pernah berhasil dipersatukan. Tapi tetap, cinta mereka bukan tanpa alasan.

Lalu, konsep mencintai karena cinta itu di telinga saya kok malah terdengar lucu, ya?

Bagaimana mencintai karena cinta menjadi definisi dari cinta sejati nan abadi? Sementara cinta dan segala perangkatnya sendiri adalah sesuatu yang lahir dari pikiran manusia. Ia berasal dari kehendak pribadi, yang akhirnya berhasil/tidak berhasil diwujudkan dalam bentuk tindakan. Dan semuanya berakar dari pikiran manusia itu sendiri.

Mencintai karena cinta maka bisa diartikan: mencintai atas dasar sesuatu yang kita pandang sebagai “cinta”. Kalau begitu jadinya, maka mencintai karena cinta berarti: mencintai diri sendiri.

Maka balik lagi pada pertanyaan di atas, bagaimana jika ada yang melamarmu dengan mengatakan: “Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?”

Jawabannya selanjutnya: “Jika kau tak siap bercerai, maka menikahlah dengan diri sendiri. Karena hanya dirimu yang tak akan pernah berhenti kau cintai.”



|| Sebuah Refleksi || Bereck.Z ||

  • view 85