Prosesi Perarakan Arca Bunda Maria di Malaka, Merupakan Warisan Sejak 1958.

Rai Generasiku
Karya Rai Generasiku Kategori Agama
dipublikasikan 07 September 2018
Prosesi Perarakan Arca Bunda Maria di Malaka, Merupakan Warisan Sejak 1958.

BETUN - Momentum bersejarah
Perarakan Besar Arca Bunda Maria di Dekenat Malaka, yang merupakan warisan  nenek moyang orang malaka sejak tahun 1958, Umat Katolik Se Dekenat Malaka biasa merayakan setiap dua tahun sekali atau tepatnya pada tahun genap.

Prosesi perarakan Arca Bunda Maria akan dimulai per tanggal 1 September 2018 hingga berakhir tanggal 31 Oktober 2018, Arca Bunda Maria dan Salib Yesus akan diarak keliling atau berkunjung ke 17 Paroki se Dekenat Malaka, prosesinya dimulai dari paroki pusat Dekenat Malaka,dan kembali ke Dekenat Malaka,serta akan diarakan keliling kota betun menuju Gua Maria Lordes Tubaki Betun.

Disetiap Paroki Patung Bunda Maria dan Salib Yesus akan bermalam selama empat hari, akan tetapi paroki besar selama lima hari lamanya, selanjutnya akan diantar ke paroki tetangga.

Prosesi Perarakan sudah menjadi tradisi bagi umat katolik di malaka,yang dijadwalkan selama 1 bulan 3 minggu hingga Arca Bunda Maria diarakan kembali ke Pusat Dekenat Malaka untuk ditahtakan hingga perayaan puncak perayaan melalui perayaan besar di Gua Maria Lourdes Tubaki Betun pada tanggal tanggal 31 Oktober 2018 nanti.

Bagi masyarakat malaka Hal ini merupakan suatu sejarah yang selalu dirayakan sejak tahun 1958, pelaksanaan perarakan arca Bunda Maria dan Salib Yesus yang dipikul oleh umat paroki, dan diarak dengan cara berjalan kaki dari Paroki ke Paroki yang ditandu DPP Paroki setempat, tokoh umat, tokoh adat dan tokoh masyarakat Paroki ketika dikunjungi.

Prosesi dari Umat di Dekenat Malaka yang biasanya turut hadir juga umat sekeuskupan atambua biasanya turut hadir mengikuti prosesi sesuai jadwal yang ada. Dua tahun lalu umat dari luar keuskupan Atambua dan Timor Leste juga ikut hadir dalam kegiatan prosesi ini, bahkan dari luar NTT dan negara lain, merupakan Peristiwa Iman yang bernuansa religius dapat juga dihadiri siapa saja yang mengimani,sebab ini sebuah sejarah peninggalan nenek moyang orang malaka yang tak perna dilupakan.(**)
(Penulis:Bereck.Z)

  • view 31