Warga FAFOE Keluhkan Harga Jual Bawang Merah Di Malaka.

Rai Generasiku
Karya Rai Generasiku Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 07 September 2018
Warga FAFOE Keluhkan Harga Jual Bawang Merah Di Malaka.

Besikama – Warga Desa Fafoe,Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bersama Tim pakar Revolusi Pertanian Malaka (RPM) Tidak Serius Mengawal Program RPM Komoditi Bawang Merah.(7/9/2018)

Pasalnya hingga kini hampir semua warga desa Fafoe,mulai panen bawang merah, sayangnya harga jual sangat rendah ,mematikan harga produksi bawang merah di daerah tersebut.

Pantauan media ini di desa Fafoe kecamatan Malaka Barat, Selasa, (5/9/2018 ), hampir setiap rumah warga ada bawang merah, yang sudah dipanen ini dikuatirkan rusak dan akan membusuk.

Vinsen Bria (55) kepada wartawan di kediamannya, mengaku desa Fafoe merupakan petani  yang sudah dua  tahun menerima bibit bantuan RPM komoditi bawang merah. 

"Vinsen juga menyayangkan sikap Pemda setempat khususnya dinas pertanian kabupaten Malaka, “dari Tim pakar itu sudah bagus sekali, saat awal tanam saja selalu didampingi, setelah itu menghilang.

"Tim pakar RPM saat bersosialisasi katanya RPM ini lengkap,karena sudah di atur dari perencanaan dan hingga menuju pasaran. Mengulang kata pak Amos Korputih.

Dia menambahkan, hampir setiap rumah didusun tersebut memiliki bawang merah, sehingga tidak heran kalau dirinya bertanya, siapa yang bersedia jadi pembeli?, “mau bawa ke pasar paling satu atau dua karung.

Tapi kalau di wilayah Malaka saja seperti hari Senin pasar Besikama, atau hari Sabtu pasar Betun pasti tidak ada yang beli karena di pasar itu tengkulak dari luar Malaka sudah tunggu dan beli bawang kami dengan harga dibawah, yang diuntungkan bukan petani tapi tengkulak, ini artinya kami rugi, rugi, rugi”, lantang nada kesal.

Kami kecewa jika kondisi tersebut jangan dibiarkan begini , kami meminta Tim Pakar RPM untuk menjawab janji mereka saat itu, terutama pak Amos Korputih, dikatakan saat itu dia bilang sudah siapkan pasar sehingga semua warga tidak tanam jagung dan kacang dan fokus pada tanam bawang,ini tidak benar jangan membodohi masyarakat.

Ketua komisi II DPRD Malaka yang bermitra dengan dinas terkait, Krisantus Yulius Seran, ketika mengunjungi desa Fafoe (5/9/2018)mengatakan, grand desain RPM ini sangat lengkap,dari perencanaan hingga dipasarkan, sehingga DPRD setujui program ini.

"Akan tetapi jika yang terjadi seperti ini, kedepan mohon dipikirkan lagi, jangan membodohi masyarakat, ini program RPM menghabiskan puluhan miliaran pertahun,harus pendampingan masyarakat hingga tuntas.ujarnya

Hal serupa disampaikan Henry Melky Simu, Wakil Ketua Komisi II, jika harga pasaran seperti ini yah..bahaya, kita beli bibit per kilo 30.000 hingga 60.000 ribu.. saat jual hasil panen dengan harga 3000 hingga 8000 ribu rupiah, sayang sekali kan.

"Jangan asal menyanyi RPM sukses jika halnya seperti ini, apa lagi Hal yang perna disampaikan Dr.Bernando Seran yang mengatakan pemda sudah siapkan bantuan, soal pasaran masyarakat urus sendiri, jika tidak mau urus lagi yah parsetan pi bawang mau busuk yah busuk, ini hal yang membodohi masyarakat. Tutupnya kecewa

Sementara Yustinus Nahak kepala dinas pertanian malaka saat dikonfirmasi membenarkan soal hasil panen komoditi bawang merah di malaka hingga saat ini sangat melimpah, sedangkan harga pasar turun drastis.

"Dia mengatakan saat ini pihaknya dalam proses melakukan kerja sama dengan para pengusaha dari luar kota untuk menerima hasil panen bawang merah.

"Diantaranya saat ini salah satu pengusaha di Jakarta, merupakan putra daerah kita alías Vence Abanit, sudah bersiap untuk menerima bawang merah malaka, jadi bagi masyarakat malaka yang sudah panen bawang, harapan kami bersabarlah, kita akan atasi masalah soal pasaran bawang merah.(*)                        (ADY & CHe - Tim)

  • view 630