Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 5 Juli 2018   13:58 WIB
Karya Menyulap Sutra Menjadi Tenun Ikat Khas Belu dan Malaka.

Budaya Tapal Batas - Kabupaten Belu dan Malaka adalah kota kecil di daerah tapal batas RI, Pulau Timor - Nusa Tenggara Timur yang berpenghunikan lapisan budaya maupun suku besar, di Belu dan Malaka yang tersohor akan keindahan tenun ikatnya masing-masing suku atau rumpun adat, hingga kini masyarakat masih memeluk erat adat istiadat serta budaya warisan leluhur dan hal tersebut telah mendarah daging pada setiap anak cucu diwajib untuk melestarikannya, salah satunya dengan terus menciptakan mahakarya indah dari jari lentiknha jemari yang mampu menyulap sutra menjadi “Tenun Ikat” Tais feto mane (kain pria dan wanita) sebuah kain tenun ciptaan perempuan bermotif elok khas daerahnya ataupun sukunha di wilayah Belu dan Malaka yang mampu menarik hati setiap mata yang memandangnya menari setiap orang ingin mengenakannya.


Kreatifitas imajinasinya membayangkan beraneka ragam motif indah yang nantinya dapat diwujud nyatakan dengan lilitan berpola elok dari jemari lentiknya pada sutra yang akan disulapnya menjadi Tais, kain tenun cantik .

“Bete Belu dan Bete Malaka” bukanlah sekedar sematan panggilan yang tak bermakna, ada sejarah yang bersemayam di dalamnya (bete yang memiliki arti Ratu). Bukan hanya sekedar memakai, bagi anak perempuan Belu dan Malaka, wajib hukumnya untuk bisa menciptkan sebuah kain tenun sebagai pakaian adat warisan leluhur. Tais Feto, Kain adat perempuan, Tais mane kain ada lelaki, yang sering dipakai pada saat upacara adat, ke Gereja, ke pesta adat ataupun untuk menghadiri momen tertentu. Selain itu, kain tersebut juga bisa menjadi multifungsi, antara lain menjadi selimut pelindung badan dari ganasnya mentari yang membakar kulit juga dari dinginnya malam yang menusuk badan, menjadi rok yang bisa dipadu padankan dengan atasan kebaya, blus, jaz atau mana suka seserasi rasa pemakainya ataupun, bisa juga dijadikan gaun ataupun setelan sesuka pemiliknya. Sebulan, mungkin juga lebih. Prosesnya tidaklah sebentar,  membutuhkan keuletan dan kesabaran dalam membuatnya dan sebagian besar kaum hawa dari suku tersebut mampu menciptakan mahakarya indah tersebut.


Gadis manis bersarung cantik,tapi lebih dalam dari itu, (bete)gadis adat gadis berbudaya, cucu leluhur yang memeluk erat warisan nenek moyang, yang melestarikan ajaran leluhur dengan binaan sang ibu.

“Sekolah boleh tinggi nak, tapi jangan kau lupakan warisan leluhurmu” kalimat legendaris sarat makna wejangan ibu dari generasi ke generasi ini mampu membentuk semangat setiap anak gadis untuk tetap melestarikan warisan leluhurnya. Dengan bantuan sang ibu si gadis akan dituntun perlahan untuk mengenali tiap proses pembuatannya dari tahap dasar memintal, melilit, memberi motif, mewarnai hingga sampai pada tahap akhir yakni menenun. Selain tenunan bermotif adat, dapat juga dikreasikan motif lain sesuai kreatifitas penciptanya dan si gadis dapat bermain dengan imajinasinya membayangkan beraneka ragam motif indah yang nantinya dapat diwujud nyatakan dengan lilitan berpola elok dari jemari lentiknya pada sutra yang akan disulapnya menjadi Tais, kain tenun cantik pantulan keindahan penciptanya.

Gadis (bete) Belu Malaka bukan hanya sekedar panggilan cantik berbunyi merdu yang sedap di dengar,bukan hanya sekedar gadis manis bersarung cantik tapi lebih dalam dari itu, (bete)gadis adat gadis berbudaya, cucu leluhur yang memeluk erat warisan nenek moyang, yang melestarikan ajaran leluhur dengan binaan sang ibu. Gadis (bete), anak cucu leluhur yang patuh memeluk erat adat dan budaya, anak cucu yang sanggup meneruskan karya tangan sang leluhur.Oleh:(tim/Ch)

Karya : Mr.Bereck Anggrainy