Keluarga bertudung surga

nurul inayah
Karya nurul inayah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 September 2016
Keluarga bertudung surga

 

Siang itu, Aku berselancar menyelusuri akun facebookku. Seperti hari – hari sebelumnya, rutinitasku hanya seperti kebanyakan perempuan biasa, bersih – bersih, dari sudut rumah ke sudut yang lain, hingga bermalas – malasan setelah rasa lelah menghampiri tubuhku. “ini apa, kayaknya Aku bisa ikutan” batinku saat melihat satu gambar yang diupload di dalam wall. Di sana, tertulis bahwa ada lomba untuk membuat cerpen dengan hadiah yang cukup menggiurkan, uang senilai Rp 1.500.000,- dan tulisan yang diterbitkan dalam satu buku bersama kumpulan penulis hebat lainnya. Menulis? Apa Aku yakin? Nilai bahasa Indonesia terakhirku saja sangat – sangat tidak diduga, bagaimana dengan menulis. Ah tapi Aku ingin, siapa yang tidak mau membuat orang di sekelilingmu bangga? Untuk masalah menang atau kalah itu biasa, yang terpenting harus berani man jadda wa jadda!! Itu perinsipku.

Sebelumnya, Aku banyak menceritakan yang Aku alami beberapa saat sampai lupa mengenalkan diriku, singkat saja namaku Noura. Aku baru tamat belajar di salah satu sekolah swasta di daerah Bogor, Aku bukan anak yang jenius di kelas, bukan anak yang hobi dengan olahraga, bukan juga anak yang hebat dalam bidang bahasa. Aku ingat sekali saat membawa hasil ujian nasionalku dan kuperlihatkan pada Ayah. “tak perlu ada yang disesali. Apapun hasil yang engkau dapat anakku itu bukan masalah bagi Bapak. Yang terpenting kau sudah berusaha, teruslah belajar” kata beliau sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Keluargaku sederhana. Bagiku, itu satu hal yang paling luar biasa. Ditengah kesederhanaan yang menyelimuti kami. Sebagai imam dalam keluarga, Ayah tetap memayungkan kami dengan agama dan rasa cinta kasih yang tiada tara, entah kepada satu sama lain dalam keluarga, ataupun masyarakat di luar sana. Dengan beranggotakan Ayah, Ibu, Aku dan satu Adik lelakiku, ini sudah cukup membuatku bahagia.

Keluarga adalah satu hal yang paling berharga, selalu itu yang terus ada di dalam benakku. Bagiku, siapapun keluarganya, ia tetaplah keluarga, entah dengan berbagai macam kekurangan yang ada ia tetap keluarga. Mutlak! Tidak ada yang bisa memutuskan ikatan itu, baik dari tali perkawinan, darah, ataupun pergaulan. Untuk masalah menulis ini, aku tak pernah memberitahu pada Ayah, atau siapapun yang ada di rumah. Aku hanya memberitahukan ini pada sahabatku, Denia. “kenapa tidak dicoba? Aku tau Kamu bisa. Kamu suka menulis, suka membaca. Bahkan mata Kamu lebih kuat dari Aku saat mencoba berkutat sama buku” katanya menyemangatiku, “iya, Aku mau coba. Terima kasih atas dukungannya. Doakan saja Den” kataku seraya menepuk pundaknya.  Denia adalah keluarga kedua bagiku, aku mengenalnya sudah sekita dua tahun ini. Sebelumnya kami tak saling kenal. Yang aku tahu, Denia bukan orang yang mudah bergaul, dia lebih suka hidup dengan dunianya ketimbang bertegur sapa dengan yang lainnya di sekolah. Entah saat berteman denganku, Dania seakan membagi dunianya untukku, mengenalkan kesehariannya padaku, bahkan ia tak segan menceritakan “aib”nya sendiri. Yah, itulah indahnya persahabatan.

Hari berikutnya, aku mulai untuk menulis. Yang bisa Aku andalkan saat ini, hanyalah falshdisk kecil yang selalu Aku bawa kemana – mana. Aku memang tak punya fasilitas untuk menulis semisal laptop atau computer di rumah. Ayah pun yang mulai curiga dengan rutinitas baruku ini, selalu bertanya saat Aku sering terlambat pulang ke rumah, terkadangpun Aku jarang solat magrib di rumah. Beliau juga sering melihatku menyisihkan uang, walaupun itu adalah hal yang sudah biasa Aku lakukan. Hingga satu waktu, saat selesai solat magrib berjamaah sembari melantunkan ayat – ayat indah yang diturunkan oleh sang Maha Pemilik Semesta, Ayah menegorku “ada yang ingin Bapak tanyakan padamu, duduklah di samping Bapak. Dan jelaskan dengan jujur” kali ini wajahnya berubah, Ayah tampak lebih serius dari biasanya. Ibupun demikian. “jangan ada yang ditutupi nak, teganya Kamu sembunyikan sesuatu di belakang kami?” lanjut Ibu. Aku terdiam menatap semua. Adikku bingung, ia tak ikut melempar pertanyaan, kini hanya aku, mereka menunggu jawabanku. Lidahku keluh tak bisa mengucapkan apapun. Bisakah Aku berterus terang? Harusnya, tak ada keluarga dalam kebohongan, walau sulit kujelaskan sedemikian rupa, Aku harus jujur, itu yang terpenting. “begini, sebenarnya Aku ikut lomba menulis. Maafkan Aku, Bapak, Ibu. Aku tak pernah memberitahu kalian” ku sodorkan gambar yang pernah Aku simpan di dalam ponsel. Ayah diam, Ibu mendekatiku, mengelusku dengan penuh kecintaan. “kenapa Kamu tidak cerita? Bukannya Kamu tidak pernah merahasiakan apapun dari Ibu? Ibu senang kamu ikut ini” Aku bernafas lega, kini kupeluk Ibu dengan erat. “Bapak tidak perduli dengan juara. Ini pilihanmu, apapun itu Bapak dukung. Jika kamu senang, lanjutkan Anakku” sambung Ayah. Oh sungguh kuucapkan rasa syukurku dalam – dalam pada Sang Maha Semesta “Alhamdulillah” ucapku dalam hati. Tak ada rasa syukur yang paling luar biasa saat ini, memiliki keluarga yang medukungku, menyemangatiku, hingga aku seperti ini.

Inilah Sehidup Sesurga, sama dengan sehidup semati. Tapi Aku lebih suka menyebutnya itu seakan di sanalah surga berserta taman, yang dihuni oleh Ayah, Ibu, Adik lelakiku dan Denia. Tak ada yang lebih indah jika Aku tak bersama mereka. Satu hal yang sangat – sangat membuatku bahagia, adalah hidup dan menjadi berguna diantara mereka. Alhamdulillah, malam itu adalah momen yang tidak akan pernah Aku lupakan, dan esok Aku akan terus menulis untuk mereka semua.

 

 

 

 

Ditulis di Kec. Bekasi dan diselesaikan

Di Cileungsi.

Cileungsi, 7 September 2016 pukul 16.01 WIB

  • view 299