Muntahan #1

Nurul Fathya
Karya Nurul Fathya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Juli 2017
Muntahan #1

Aku pernah bertanya.  Mengapa sebuah puisi menjadi lebih manis ketika ditulis dalam keadaan hati yang sakit. Berbeda dengan ketika hati kita sedang biasa saja. Dan berbeda pula ketika hati kita sedang berbungah.  

Apakah ada reaksi kimia tertentu yang mempengaruhi otak dan tangan dalam memerintah.  Padahal antara hati dan otak tidak memiliki jalur sama sekali untuk bisa saling tersambung.  

Aku tidak akan menulis dengan banyak aturan 5w+1h seperti yang aku pelajari. Aku tidak akan menyusun kata sedemikian rupa agar terlihat menjadi paragraf yang cantik.  Dam aku tidak akan menulis untuk sebuah apresiasi.  Saat ini aku hanya ingin menulis untuk memuntahkan apa yang bergelung didalam hatiku.  

Apakah kalian pernah merasakan tidak bisa berbagi cerita hati.  Aku salah satunya.  Aku bukan orang yang bisa dengan mudah bercerita tentang apa yang aku rasa apa yang aku sedihkan secara telanjang bulat.  Masuk kedalam telinga orang lain.  Setiap aku butuh dekap.  Aku hanya akan menangis dibahu orang tersebut tanpa mengeluarkan sepatah katapun.  Lalu setelah itu sudah.  Aku merasa ya sudah. Pada nyatanya tidak ada yang pernah selesai.  Perasaan-perasaan itu menumpuk hebat didalam hatiku.  Yang suatu saat akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.  Namun tidak ada tempat yang bisa menampung ledakan itu.  Sehingga iya akan kembali menjadi gumpalan-gumpalam hitam yang melekat di dinding-dinding hatiku.  Seperti permen karet kering. Semakin banyak setiao harinya.  Aku tidak tau hingga kapan mampu menampung semua itu.  

Dulu aku pernah berpikir bahwa bercerita pada sebuah buku dalam menulis adalah suatu yang sangat aman. Dan aku lakukan semua itu selama bertahun-tahun.  Tapi ternyata manusia memang murni makhluk sosialis.  Ada hasrat ingin dipahami dan didekap dengan pehaman yang sama.  Ternyata dengan hanya menulis semua itu belum selesai.  

Oleh karena itu aku menulis disini. Diam diam,  entah siapa yang membacanya dengan seperti ini aku berharap bisa mengatasi diriku yang tidak bisa menumpahkan cerita orang lain.  

Disini aku hanya akan berkata. 

Aku jatuh ke lubang yang aku rasa sama. Bahkan lebih menyakitkan.  Sampai rasanya airmataku terlalu kering untuk bisa menangisi hal itu lagi.  Rasa sakit yang bahkan kau tidak bisa menangisinya lagi karena sudah terlalu habis tenagamu untuk menangis.  

Dunia tidak pernah habis dalam urusan Cinta.  Dan aku mulai membenci satu kata dengan 5 huruf itu.  Dulu aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan membuka hatiku dan membiarkan diriku sendiri sampai akhir.  Setelah bertahun-tahun aku sendiri dan hati ku dengan bodohnya mulai berpikir  'Setiap orang memiliki kesempatan untuk perasakan perasaan itu'.  Tapi ternyata kata itu hanyalah kata sampah bau yang menerjunkan aku kepada lubang sakit yang sama bahkan lebih dalam.  Tolol,  padahal selama bertahun-tahun aku berusaha keluar dari lubar itu lalu aku tersungkur lagi.  Ya,  aku memang orang tolol.  

Aku sempat berpikir apakah sebenarnya manusia tidak boleh berharap.  Benar memang harapan itu menyakitkan.  Jadi jangan terlalu berharap.  Jangan pernah berharap apapun di dunia ini.  Karena harapan harapan itu adalah racun yang bisa menyakiti hati kita.  

Aku sudah mulai mengantuk.  Karena aku terlalu lemas. 

Oh Cinta kenapa kamu begitu brengsek. Aku ingin dikebalkan oleh perasaan-perasaan tolol seperti itu. 

Jika dalam sebuah lingkarang ada seribu Cinta yang bisa dimiliki oleh seribu orang.  Mungkin aku bukan termasuk keseribu itu.  Mungkin aku tinggal diluar lingkaran itu.  Jadi sudah cukup.  

Ah,  ini seperti rengekan keputusasaan kan.  Norak bukan.  Nah,  karena itu aku tidak mau bercerita pada siapapun. Karena otakku sering memberi penilaian sendiri terhadap orang lain. Mungkin aku terlalu skeptis.  

Aku mau tidur dulu. Bulu mataku sudah rindu berpelukan erat.  Bulu mata sama berpelukan lantas aku :( sudah cukup.  Dunia ini belum berakhir. 

23.7.2017-00.27am

-N

  • view 24