Harta Karun Paling berharga

Nurul Awali
Karya Nurul Awali Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 19 Juli 2016
Harta Karun Paling berharga

Judul Buku : PUKAT; SERIAL ANAK-ANAK MAMAK

Penulis : Tere Liye

Jenis : Fiksi

Cetakan Pertama : Februari 2010

Penerbit : Republika

Harga : Rp 44.000,00

Novel ini menceritakan kisah salah seorang anak Mamak Nur, Pukat, anak kedua dari empat bersaudara. Cerita diawali ketika Pukat memulai perjalanan pertamanya menaiki kereta api bersama Burlian (salah satu adiknya) dan Bapak. Rasa cemasnya muncul tepat ketika kepala lokomotif memasuki terowongan panjang, membelah bukit. Beragam ketakutan akan kegelapan terowongan terbayang. Segala cerita menyeramkan dari teman-temannya terngiang. Dan benar saja! Tetiba gelap sempurna membungkus gerbong. Pukat mengalami sendiri kejadian menyeramkan itu.

Bukan tentang sepasang mata merah yang memasuki gerbong dan membuat buta mata yang memandangnya, tetapi sekelompok perampok menyergap, menjarah segala benda milik penumpang. Oi, bukan Pukat Si Anak Cerdas jika tak mampu menangkap perampoknya. Pada bab selanjutnya, pembaca akan diajak menyaksikan ketegangan menghadapi perampok melalui bab Kau Anak yang Pintar.

Kisah special lain dari Pukat ialah Kaleng Kejujuran, dimana atas idenya, warung Bu Ahmad tetap buka meski beliau di rumah menunggui Nayla, anaknya yang sakit. Namun, sama seperti bocah lelaki lainnya, meski ringan tangan membantu Mamak, Bapak dan tetangga, sifat bandel tetap menempel pada diri Pukat. Diceritakan pada bab 14, dan 21, Pukatpun dua kali mendapat hukuman dari Mamak. Hukuman pertama datang setelah ia melanggar peraturan Mamak supaya tetap berkerja di ladang, pulang bersama Mamak dan Burlian. Pukat yang tidak sabaran menonton kartun di televisi memutuskan pulang, mengabaikan perintah Mamak. Maka malam itu, Pukat tak mendapat jatah makan dan tidur di luar.

Hukuman kedua dijalaninya bersama Burlian karena tidak menghabiskan sarapan. Mereka diminta Mamak memakan kembali sarapan yang tersisa bahkan hingga makan malam. Maka, dua hukuman tersebut sukses membuat kapok Pukat. Membuatnya mengerti besar kasih sayang Mamak hingga perjuangan panjang menanam bulir padi untuk memakan sesuap nasi.

Novel beralur maju ini tak hanya mengisahkan kehidupan bocah lelaki sembilan tahun yang hidup di suatu kampong, di pedalaman Sumatera, tetapi juga teladan baik bagi pembaca. Pembaca disuguhkan cerita mendidik dari Nek Kiba, guru mengaji kampong mengenai celengan ajaib; teladan dari sikap jujur. Orang-orang yang bersungguh-sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka meski hidupnya sederhana, tetap terlihat biasa-biasa saja, maka sejatinya telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia (halaman 164).

Budi pekerti baik yang dimiliki Pukat berasal dari didikan keras Mamak. Hanya orang tua tegas, disiplin, pekerja keras dan berakhlak baik yang mampu menelurkan sifat-sifat luhur. Karena anak-anak adalah harta karun kampong yang paling berharga. Yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampong yang kelak menjadi generasi penerus bangsa. Pewaris, sekaligus tumpuan masa depan Negara.

Bahasa yang lugas, tidak berbelit dan mudah dicerna membuat novel ini layak dibaca berbagai kalangan dari segala usia. Namun karena novel ini merupakan serial dimana saling berhubungan satu dengan yang lain, maka pembaca disarankan membaca juga tiga seri lainnya yaitu Amelia (buku pertama), Burlian (buku kedua), dan Eliana (buku keempat).

  • view 171