(Jangan) Menghargai Kebohongan

Nur Rofingah
Karya Nur Rofingah Kategori Psikologi
dipublikasikan 12 April 2016
(Jangan) Menghargai Kebohongan

Saat aku kecil, aku hanya mengenal warna hidup hitam putih. Apa yang tampak dari seseorang, itulah dia, begitu aku pikir. Tapi begitu dewasa, aku memahami bahwa warna hidup lebih dari sekadar hitam putih. Apa yang tampak biru misalnya, tak selamanya biru. Mungkin ia campuran hijau dan hitam. Yang merah apalagi. Ah, mungkin masa kecilku terlalu polos. Banyak hal yang tak kupahami dari wana seseorang.

Tempo hari aku belajar, bahkan pada orang baik (ya setidaknya baik menurut standar kebanyak orang) sekalipun, ia sering berganti-ganti warna (bahasa halus versi saya dari kalimat : membohongi diri tentang warna asli dia). Apa yang tampak, bisa jadi bukan warna dia yang sebenarnya. Kadang, mungkin saja ia menampakkan warna birunya lalu menyembunyikan yang hitam dan kemudian tenggelam bersama warna tersembunyinya itu. Mengerikan yaa

Hal yang parah adalah ia sering kali lebih nyaman dari warna tersembunyinya dibanding dengan warna sebenarnya ia. Aku tak paham kenapa ini bisa terjadi pada beberapa orang. Tapi, sampai pada tahap aku bisa berpikir, mungkin beberapa orang sering kali menerima kebohongan sejak kecil, menghargainya lalu berteman dengannya. Putuskan! Putuskan garis itu. Jika bukan dirimu yang memutuskan, kau akan terbiasa membohongi dirimu sendiri, orang yang kau sayangi dan orang lain. Tentu saja itu semua untuk menyelamatkan warnamu agar selalu tampak baik. Ah manusia, tak elok macam tu. Tak elok. Kenapa? Karena kau akan lelah. Lelah pada sekitar, pada dirimu dan lelah menjadi orang lain, berkata hal lain dan berpikiran lain yang tak sesuai dengan dirimu. Karena kebohongan demi warnamu bisa saja kau kehilangan orang-orang di sekitarmu.

Allah pernah mengingatkan, bahwa tanpa aib yang Ia tutupi, kita hanya seonggok daging yang berdosa. Apa mau makin berdosa dengan menjadi pembohong hidup? Aku pernah jatuh dengan persimpangan tentang warna ini, dan sekarang aku belajar untuk bangkit menjadi diriku dengan warnaku. Aku sedang  dan mulai belajar. Kau kapan kawan?

  • view 117