Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 1 Maret 2018   21:41 WIB
Setiap Hujan Turun

Setiap hujan turun, gadis itu selalu diam. Namun tampak jelas bagaimana sorot matanya menerawang. Jauh, jauh sekali ke masa silam. Masa dimana ia setia, menanti di balik jendela kaca.

Butiran kristal bening mengalir ke pipinya perlahan. Ia berpikir sudah biasa saja saat hujan tiba. Ia menyangka sudah kembali menerima saat butirannya berjatuhan di kaca. Nyatanya, hati kecil tidak dapat berdusta, perasaan itu masih ada.

Kala itu sebuah janji terucap dari seorang rupawan. Jikalau bersedia menanti sejenak, pria itu akan datang menghadap. Katanya hendak menjemput si gadis dengan kereta kuda, tepat di usianya yang kedua puluh empat.

Hingga hari itu tiba, alam sejak fajar tampak berbeda. Tak juga terik, tak juga mendung gelap, namun butiran hujan terus menemani sepanjang jalan. Gadis itu menyimpan perasaan gemuruh. Seolah akan tumpah dan bersiap menyerbu dengan penuh cinta. Ditengoknya jarum jam yang tiba-tiba melambat. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas, satu sampai ke sepuluh lagi, pria itu belum muncul juga. Gadis itu tetap diam. Sampai akhirnya ia tersadar telah melewatkan malam di depan jendela, dan kini fajar telah tiba. Pria itu tetap tidak ada.

Setiap hujan turun, gadis itu masih diam. Namun kali ini wajahnya merona bahagia. Ia teringat pesan butiran hujan, bahwa kedatangannya untuk mengantar doa pada Tuhan, maka berbisiklah gadis itu perlan, "Semoga turunmu membawa keberkahan, dan pria sholeh untukku segera datang, bukan pria yang suka janjian."

Dan gadis itu mengucapkan dengan penuh percaya.

Karya : Nurma Kasa