Surat untuk Dilan

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Januari 2018
Surat untuk Dilan

Hai, Dilan. Apa kabar?

Butuh keberanian besar untuk menulis ini. Bukan apa-apa. Hanya saja aku membayangkan tulisan ini seperti  percakapan langsung denganmu. Di persimpangan jalan atau di mana saja, diiringi puluhan pasang mata yang menatapmu dengan aneka rasa. Ada yang penasaran, ada yang curiga, ada pula yang merasa terganggu dengan kehadiranku, barangkali semacam cemburu. Ya, setiap orang berbeda.

Oh iya, namaku Bukan Milea. Aku manusia biasa. Dan aku lebih suka makan lele daripada lumba-lumba.

Dilan, entah kamu akan membacanya nanti atau sekarang. Besok atau tidak sama sekali, ijinkan aku menuliskan sederet kalimat ini.

Ceritamu bersama Milea menyita banyak perhatian. Aku tak terkecuali. Banyak yang menyukaimu, mengidolakanmu, menginginkanmu, membayangkanmu  atau bahkan ada yang berpura-pura jadi Milea.

Ada pula yang tak suka denganmu. Dengan berbagai alasan. Bisa jadi satu kubu dengan pak Suripto. Aku tidak tahu persis.

Tapi ada pula yang tak mengenalmu. Siapa dirimu. Mendengar namapun baru saja setelah kamu muncul di trailer film dan sosial media.

Dilan, kalau boleh aku jujur, barangkali aku adalah salah seorang yang menyukaimu. Tidak, tidak, aku tidak menginginkanmu. Sungguh. Hanya saja kuakui, tinggkahmu dan caramu mengungkapkan cinta sangat menarik. Kamu tahu betul bagaimana meluluhkan hati wanita. Kamu tahu betul kalau wanita itu lemah pada pendengarannya, mudah percaya. Kamu tahu betul bagaimana tampil berbeda, apa adanya. Sehingga tipe pria juara kelas seperti Nandan dengan mudah kamu kalahkan.

Dilan, tadi siang ada seorang temanku bilang kamu adalah "predator". Ia bilang begitu setelah mendengar kalimatmu tentang rindu. Kalimat yang akhir-akhir ini begitu populer. Dan digubah menjadi aneka versi oleh pengguna media sosial. Termasuk aku.

Ah, Dilan. Maaf, aku selancang ini. Sebenarnya aku adalah orang baru yang membaca tentangmu. Kalau tidak salah beberapa tahun lalu, setelah membaca tulisan Pidi Baiq. Hasil meminjam dari seorang teman lain. 

Aku tidak tahu gaya tarik semacam apa yang disusupkan dalam ceritamu. Petualanganmu begitu asyik. Ungkapan cintamu begitu menarik. Aku larut dalam perjalananmu dan segala kisah di Bandung yang berlembar-lembar dengan cepat aku selesaikan. Sejak saat itu Bandung begitu mudah dirindukan. Karena Bandung itu kamu. Dan kamu itu Bandung. Agak sulit menjabarkannya.

Dilan, tapi satu hal yang aku sadari bahwa waktu terus berubah. 1990 telah bergulir ke 2018. Pikiran manusiapun begitu adanya. Rindu memang berat, Dilan, tapi yang lebih berat adalah bagaimana mencipta rindu hanya pada yang halal saja.

Sore atau esok kamu tak tahu, bagaimana hatimu pada Milea. Sama, aku juga tak tahu. Tapi kita berdoa saja semoga hati kita tetap mencintai-Nya. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan Milea juga. Bagaimana?

Sun, jangan?
Saranku, jangan Dilan. Pencernaan kita butuh lebih dari sun. Mungkin sepiring siomay, batagor, atau semangkok cuanki lebih mengenyangkan juga menyenangkan. Jangan lupa baca Bismillah.

Baiklah, Dilan, itu saja yang ingin aku katakan. Terimakasih untuk ceritamu yang penuh warna. Jika Tuhan mengijinkan, suatu saat di Bandung kita jumpa. Assalamu'alaikum.

Jakarta, 31 Januari 2018
-Bukan Milea

  • view 318