Pindah

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 September 2017
Pindah

"Mau kemana?"

Mulutku tak bisa menahan berkata-kata. Melihat punggungnya dibebani tas ransel yang begitu besar. Melihat dirinya yang tampil dengan kaos berlapis jaket. Melihat dirinya tampil lengkap dengan sepatu. Tak seperti biasa.  tubuhnya. Seolah ada kegelisahan yang ia bawa bersama.

"Kamu mau kemana?" kakiku mendekat.

Tapi sejurus kemudian ia mundur perlahan. Tubuhnya mengisyaratkan untuk tetap jauh dariku. Dan jarak antara kami bukan lagi perkataan, tapi kenyataan.

"Oke. Aku tahu kita sudah putus. Tapi kamu mau kemana?" suaraku sudah bergetar.

Aku berusaha kuat tapi nyatanya tidak bisa. Kau tahu, aku sedang berusaha untuk tidak apa-apa setelah berpisah. Aku sedang berusaha memahami dirinya yang ingin hijrah.

"Aku mau hijrah," jawabnya tenang setelah tarik nafas yang panjang.

"Apa caranya begini?" kini air mataku tidak terbendung lagi. Kupandang sudut-sudut ruangan rumah kos ini. Tempat aku dan dia berjumpa pertama. Dan tempat seterusnya tumbuh rasa cinta.

Dia mengangguk. Membalikkan tubuhnya yang tegap. Sementara rambutnya yang berponi terlempar ke sana kemari saat  berjalan mendekati pintu keluar.

"Tapi kamu mau kemana?" aku berlari mendekay dan meraih tangan kanannya.

Seketika tubuhnya dijalari rasa dingin. Dan secepat kilat ia kibaskan peganganku. Dia berbalik dan menjauh teratur. Nafasnya agak terengah karena kulihat dada bidangnya naik turun mengatur pernafasan. Ada melihat sedikit kilatan marah di wajah teduhnya. Apa kali ini dia benar-benar sudah berubah?

"Kita sudah selesai. Maaf, untuk pegangan tangan selama ini, senyum dan pertolongan yang berlebihan. Maaf untuk membuatmu terluka. Tapi kita nggak bisa sama-sama. Rumah ini, tempat ini seharusnya tidak begini," matanya menerawang ke langit-langit. Sayu, sendu seperti matahari sore kala itu. Sedang aku belum mengerti.

Ia benar-benar menghilang bersama kenangan yang ia ciptakan. Rasanya sulit menerima perpisahan, kata, hati dan raga. Tapi katanya bersamaku adalah tindakan salah. Meskipun aku suka.

***

Pintu taksi itu terbuka. Aku tetap tak bisa menahannya. Hanya air mata yang berharap mampu merubah semua keinginannya.

Sesaat kemudian kulihat kaki kananya turun lagi dari taksi. Ia mendekat ke arahku dengan sedikit harapan. Apa air mataku cepat bekerja?

"Ini untukmu. Maaf," ia berbalik, menghilang bersama taksi biru yang sedari tadi menunggu. Aku hanya termangu, kupandangi sebuah benda yang ia berikan kepadaku. Al Qur'an. Hatiku berdesir. Jiwaku bergetar. Aku tidak tahu mengapa.

  • view 34