Nekat lu!

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2017
Nekat lu!


Aku tahu betul siapa aku. Orang biasa. Dengan otak biasa. Uang tak seberapa. Tapi punya mimpi yang keterlaluan pede-nya, begitu kata banyak orang. Tapi yang aku tahu, mimpi tidak pernah setinggi tiang jemuran. Ia tinggi tak terjangkau tangan. Bahkan menembus langit-langit kota yang hitam tebal penuh kepulan asap.

Aku ingin jadi penulis.

***

Semua kelengkapan sudah kususun rapi jali. Mulai dari naskah cetak, outline, daftar isi, sinopsis, juga profil tentang diriku sendiri. Bahkan aku membuat sebuah daftar pekerjaan yang harus selesai sebelum berangkat. Mencentangnya satu persatu agar tak terlewat. Termasuk urusan-urusan kecil seperti menyetrika kerudung. Semua kulakukan agar tak ada hal remeh temeh yang akan mengganggu.

Kumasuki gedung itu dengan hati bergetar. Gedung salah satu penerbit besar di Indonesia. Batinku menyuarakan agar tak gentar. Walau banyak orang berlalu-lalang memandang penampilanku dari atas ke bawah. Aku masih sadar. Gayaku tak seperti kebanyakan orang. Yang modis dan kekinian. Ah, biarkan saja. Segalanya kutepis karna prinsipku yang penting sesuai aturan Tuhan. Tertutup, terlindungi.

***

Sampai di dalam, aku seperti mendapat sapaan bagaimana kerasnya dunia. Semua yang sudah kusiapkan sempurna luluh lantah dengan satu kata, ditolak! Iya, naskahku ditolak.

Sedari awal aku tahu. Sebuah karya diniliai tidak hanya baik dan buruk. Tapi juga nantinya akan diminati atau tidak. Tapi aku tidak tahu kalau naskah yang aku ajukan mendapat alasan keduanya. Tak bisa terbit karena buruk dan tentu saja tidak diminati.

Kalimat negatif yang pernah kudengarpun kembali ke pendengaran. Kemudian tak lama menguasai pikiran.

Nekat lu!
Mana mungkin?
Pede ya (tatapan menyeringai)

Badanku menjadi lemas sekali. Sarapan tadi pagi sama sekali tidak bekerja. Seolah semua persendian runtuh bersama engsel-engselnya. Gogrok, kalau orang Jawa bilang.

Kutatap lekat-lekat naskahku tadi yang mentah-mentah ditolak. Masih ada satu titik keyakinan, bahwa alasan kuatku berkarya adalah kebaikan. Jadi sekalipun tertolak, aku telah mengambil satu ganjaran, niat baik.

Besok aku coba lagi.

  • view 63