Menunggu

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 September 2017
Menunggu

Dua bola mata bulatnya tampak resah. Butiran peluh di dahi tegasnya lebih gelisah. Begitu diseka, beberapa menit sudah banjir lagi. Bahkan membasahi alis matanya yang tebal. Sepertinya si peluh tak mau pergi sebab pikiran si empunya tengah terbagi.

Setumpuk dokumen sudah tertata rapi di meja. Tapi  sebuah mesin penghitung dan layar komputer masih menyala. Sementara telpon lokal di sisinya berdering baru saja.

"Halo"
"E, baik, Pak," persetujuannya terdengar berat tak terkira.

Setelah menutup telpon, ia merogoh saku dan menuliskan sesuatu pada ponselnya. Ia lihat kembali jam yang tergantung di dinding. Dadanya membusung mengambil nafas. Disusul mulutnya yang mendawamkan isrighfar.

"Astaghfirullah,astaghfirullah."

Meski tak bersuara, gerak bibirnya terekam jelas. Ia lalu menoleh ke arahku. Barangkali tersadar bahwa sedari tadi aku memperhatikan geraknya.

"Sudah hampir jam lima. Kamu nggak siap-siap pulang?"

Dadaku bergemuruh, menahan girang yang bersemayam sejak lama. Aku menggeleng dengan senyum seadanya. Takut ketahuan. Kalau aku suka.

"Loh, trus mau ngapain? Ditungguin orang rumah lo," ia kembali tersenyum dengan mata yang kembali fokus pada layar komputernya.

"Saya kan di sini anak kos. Mungkin ada yang bisa saya bantu, Mas?"

Ia berhenti mengetik. Tangannya meraih gelas berisi air mineral dan meminumnya hingga sisa seperempat.

"Nggak usah. Kamu kan PKL , jadi tugasnya sampai sini aja. Kalau saya memang tugasnya masih ada. Meskipun sudah ingin pulang," dengan sedikit tawa, ia memberiku penjelasan.

Tapi kakiku enggan pergi. Tak enak hati aku meninggalkannya. Walau aku bertuhas membantu saja. Tapi apa salahnya membantu ia. Lagipula, aku bisa menikmati sosoknya. Rahang yang tegas, beberapa rambut di dagu yang mulai tumbuh, punggungnya yang tegap dan segala sesuatu darinya.

Akhirnya ia menyerah dan melibatkanku dalam tugas tambahan itu. Aku barangkali jadi satu-satunya anak PKL yang masih bekerja. Diantara pegawai lain pula yang tengah sama-sama berjuang. Aku bayangkan bagaimana kelak aku di dunia kerja. Apa aku bisa bertahan seperti mereka. Pasti ada alasan kuat untuk tetap bekerja larut malam.

"Kenapa?" suara bass-nya membuat lamunanku buyar seketika.

"Nggak apa-apa, Mas," jawabku sembari menunduk.

"Besok kalau kamu kerja, jangan dibiasakan sampai larut malam. Harus ada waktu bersama keluarga. Mereka pasti sedan menunggu," senyumnya ramah sembari mengecek dokumen yang kubantu kerjakan.

"Memang keluarga Mas nggak ada yang nunggu? Kok . . . ,"

Ting~~~
Ponselnya kembali bersuara. Diangkatnya untuk menunjukkan padaku ada panggilan. Seolah meminta ijin ia untuk menerima dan bicara.

Ia agak menjauh dariku. Barangkali telpon yang agak rahasia. Atau apapun itu dan aku tak boleh mendengarnya. Tapi ia terlihat dengan seulas senyum bahagia. Kemudian sebuah  kata persetujuan meluncur ringan mengakhiri pembicaraan.

"Keluarga, Pak?"

"Iya, istri saya minta dicarikan wedang ronde kalau pulang. Sepertinya ngidam," ia  tersenyum bangga dan duduk kembali di depan komputernya.

"Oh."

Aku kehabisan kata-kata. Tubuhku lunglai kehilangan tenaga tiba-tiba. Jadi ia memang sudah ditunggu keluarganya. Maksudku istrinya.

  • view 62