Catatan (Calon) Mahasiswa

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 September 2017
Catatan (Calon) Mahasiswa

Aku bolak-balik menilik Instagram. Berselancar di explorer dan pencarian. Siapa tahu ada yang sedang kekinian. Baru di-posting. Atau sedang dalam perbincangan.

Manusia jaman sekarang lebih cepat berkomunikasi lewat visual, katanya. Jadi gambar-gambar tanpa keterangan-pun menunjukkan sebuah berita. Apalagi muda-mudi kini yang kaya ekspresi. Berbekal kreativitas tinggi semua disulap jadi menarik untuk dikunjungi.

Perhatianku tertuju pada sebuah potret. Tampak seorang gadis dengan kebaya peach berpose di depan gedung rektorat Universitas Sebelas Maret. Kampus impianku. Di pelukannya penuh bunga aneka warna. Sepertinya tidak semua asli, tapi bunga dari flanel-pun tampak serasi dengan kebahagiaannya.

Aku seperti tidak asing.

Maka kutelusuri gambarnya dengan  rasa penasaran. Ternyata ia adalah salah seorang temanku di Sekolah Dasar. Dulu rambutnya keriting. Kini sudah terbalut rapi dalam hijab. Dalam caption-nya tertulis tagar  "graduate". Ah, menyenangkan sekali menjadi mahasiswa. Menyenangkan sekali bergelar sarjana. Kuberikan tanda suka pada gambarnya.

Tanpa terasa bulir-bulir bening membasahi kulit pipiku yang kering.

"Ah, aku terlalu cengeng belakangan ini," kuusap ia dengan punggung tangan.

Tapi seseorang menyadari air mataku terlampau cepat. Walaupun tidak banyak dan tanpa suara, ia mengerti benar aku sedang gundah gulana.

Ia sodorkan segelas teh hangat. 

"Makasih," aku menengok padanya lalu tersenyum. Kemudian meraih gelas itu dari tangannya.

Walau aku tahu seperti biasa ia lupa menambahkan gula. Tapi rasa tawar selalu bertukar manis dengan senyumnya.

Ia lalu meraih gelasku kembali, meletakkannya pada meja di sisi kiriku. Kemudian ia berjongkok di depan perutku yang semakin membuncit. Dielusnya pelan, kemudian ia dekatkan mulutnya seperti orang berbisik.

"Sayang, besok bantuin Papa ngerjain skripsi Mama ya. Itu kalau Mamamu masih mau jadi mahasiswa," ia melirik ke arahku. Seolah aku jadi bahan perbincangan olehnya.

Air mataku kembali menggenang. Kali ini dengan lebih cepat ia menghapusnya dan memelukku dengan kehangatan. Aku akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Selain kata terimakasih yang  tertahan oleh air mata.

Tapi dalam hati aku berjanji akan terus belajar. Suatu hari aku akan jadi mahasiswa. Dan menagih bantuan dari mereka berdua. Suami dan jagoan kecilku.


 

  • view 54