Buku Merah Jambu

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2017
Buku Merah Jambu

Buku bersampul merah jambu itu tergeletak di atas meja. Aku selalu penasaran membukanya. Tapi sudut hatiku yang lain menolak dan menghalaunya. Buku itu bukan punyaku. Tidak ada hak bagiku untuk membukanya.

Keesokan hari si empunya tekun menulis di atas buku itu. Lagi-lagi aku ingin sekedar melihat apa yang ia tuliskan. Tapi apa daya, semesta tak mengijinkan. Hari itu pula aku harus menyelesaikan banyak laporan. Alih-alih membaca, memperhatikan ujung kerudungnya saja tak bisa.

Si empunya menoleh kepadaku. Dengan gaya khasnya mengepalkan tangan memberi semangat. Sementara mataku masih tertuju pada buku merah jambu itu.

Aku tidak tahu kenapa seorang wanita senang sekali menuliskan perasaannya. Karena aku berharap dia bicara apa adanya. Setidaknya sedikit memberiku pencerahan siapa orang yang selama ini dia suka. Begitu yang selalu di dengungkan ratu gosip kantor kami. Aku tahu seharusnya aku berhenti percaya pada berita yang tak nyata. Tapi sisi hatiku yang lain berkata bahwa wajar seorang gadis punya lelaki impian. Dan, tentu saja aku penasaran.

"Mba, dipanggil Pak Bos ke ruangan," dengan tergopoh-gopoh petugas cleaning service memanggil pemilik buku merah jambu.

Dia tidak langsung pergi. Tidak juga balik bertanya ada apa. Tapi gerakan tangaannya cepat membereskan beberapa dokumen. Lalu meraih tetikus untuk mencetak sesuatu. Didekapnya banyak dokumen di tangan. Ia sigap dan cepat. Naas, ia tersandung kaki kursi teman duduk sebelahnya. Beberapa dokumen merosot tak beraturan. Aku berusaha membantu membereskan. Sementara tanpa sengaja buku merah jambu itu terbuka. Tanpa sengaja  pula mataku membacanya. Di sana ada namaku yang dituliskan memenuhi ukuran buku. Ditulis dengan Lettering berwarna biru. Aku mendongak padanya ketika meraih buku itu lebih dekat. Tapi ia segera mengambilnya. Tersenyum ganjil dengan rona malu lalu pergi.

"Maaf."

Hanya kata itu yang dia ucapkan.

Esoknya kuberanikan diri bertanya. Selain memastikan perasaanya, pertanyaan ini juga memastikan dengan siapa kapalku berlayar.

"Buku merah jambumu itu sudah tidak perlu. Kamu butuh buku yang lain." Ia tersedak mendengar kata-kataku yang  pelan.

"Maaf," katanya sambil menunduk.

"Tidak ada yang salah. Tapi kamu perlu buku baru. Warnanya merah dan hijau. Diterbitkan oleh negara. Mau membuatnya bersama?" teratur aku bicara, tapi jantung ini berdetak tak seirama. Ia lebih gaduh bersuara.

Ia menunduk lagi, kali ini dengan air mata. Diam seribu bahasa.

"Diamnya gadis berarti iya kan?" Jantungku makin tak beraturan. Kupikir aku akan baik-baik saja. Tapi ternyata ini lebih sulit dari menyelesaikan skripsi di akhir semester tua.

Tapi sesaat ia tersenyum dengan bulir-bulir air mata. Baiklah tunggu sejenak sampai aku bisa mengusapnya.

  • view 13