Drama: Seperempat (2)

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 September 2017
Drama: Seperempat (2)

Dan benar saja, tercipta drama kedua.

Perutku mengerang dan meremas. Ia memaksa kembali ke peraduan. Sedang ini waktu yang tak tepat. Stasiun akan tetap di situ, tapi kereta tidak. Ia bergerak.

Alhasil, aku keluar kantor dengan tergesa-gesa. Degup jantung yang sudah tidak berirama. Penampilan yang acak adul entah bagaimana. Satu yang terpikir hanya, "aku harus segera".

Lewatlah kemudian abang bajaj dengan segala kelihaiannya berkendara. Langsung kulambaikan tangan bergairah. Ia lalu dengan cermat mengenali calon pejumpang. Kecepatan tinggi khas bajaj bermanuver disajikan padaku sebelum tiba.

Di dalam bajaj nano-nano sekali. Gen-Y tentu mengenal merek gula-gula satu ini. Manis, asem, asin rame rasanya. Ya begitu perasaanku. Antara takut terlambat, takut nabrak, cemas dan gerah.

Tapi jangan berharap lepas dari Jakarta tanpa  bermacet ria. Akhir minggu seringkali dikambing hitamkan. Ditambah hujan September yang awet meski berintensitas sedang. Dan hal lain yang tak bisa membela diri meski disudutkan.

Kesabaranku akhirnya berada di ambang batas. Di dorong kecemasan yang luar biasa. Aku berhenti  200 meter dari pintu masuk. Kubelah lautan manusia yang kali ini bajaj-pun taj bisa. Di sana aku harus mencetak tiket. Cara pekereta apian yang baru, layaknya pesawat terbang.

Adzan Maghrib berkumandang tepat saat aku masuk di gerbong penumpang.

Sangat percaya diri aku menuju gerbong dan kursi sesuai tiket kereta. Membayangkan bagaimana akhirnya bisa duduk dengan tenang. Tapi nyatanya drama belum usai. Seorang bapak-bapak berkaos merah sudah duduk di kursi yang aku pesan. Ia memiliki porsi duduk agak lebar. Barangkali beratnya berlebihan. Sehingga tempat duduk yang seharusnya berdua, tinggal seperempatnya. Dan itu milikku. Astaga.

Barangkali ini adalah tiga perempat bagian yg tidak disukai tapi memberi pelajaran. Dudukku terpaksa tak berjarak dengan sang bapak. Benar-benar tidak ada. Aku berusaha tak bersentuhan. Tapi tak bisa. Untuk keadaan normal, mungkin aku harus berdiri. Tapi untuk dua belas jam ke depan, ampunkanlah diri ini. Hanya sebuah jaket bergulung untuk membatasi.

Baiklah, pelajaran tidak seluruhnya duduk di kelas mendengarkan. Belajar juga bisa di jalan. Dari drama seperempat bagian yang tak terelakkan. Maka tenang dan  sabar sajalah untukku, karena kereta masih di Cirebon Prujakan.



(ditulis dalam kereta Majapahit, relasi Pasar Senen-Malang, mulai berangkat hingga Cirebon Prujakan #curhat)

  • view 74