Mau Jadi Artis?

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 September 2017
Mau Jadi Artis?

Mataku mengerjap. Ada cahaya putih yang masuk lewat mata. Dan ternyata lampu kamar masih menyala.

Dengan sedikit malas, kuraih ponsel yang ada di nakas. Satu-satunya penunjuk jam versi anak kuliah. Layar digitalnya menampilkan angka dua. Artinya tengah malam lewat sudah.

Ketika menoleh kekiri, teman kamarku masih terjaga. Bersama satu buah laptop yang terus bekerja. Satu buah cangkir berisi coklat yang kehilangan panasnya. Serta beberapa kertas dan alat tulis yang berserakan kemana-mana.

"Astaga, Dinda. Belum tidur juga?" tanganku meraba permukaan kasur, mencari selimut yang posisinya berubah dari semula.

"Hmm," jawabnya tanpa memandang wajahku.

***

Barangkali sudah sebulan Dinda begadang. Matanya tampak berkantung tebal dan hitam. Sedikit-sedikit menguap saat perkuliahan.

Ia orang yang all out dalam segala hal. Termasuk keinginannya terkenal. Semacam jadi artis dunia digital. Ia pun rela terjaga demi mengisi akun youtube atau instagram. Tak sungkan ia membeli follower gadungan. Alasannya, biar menyesal sang mantan putus darinya. Aku hanya geleng-geleng saja.

Berkali-kali aku selalu bilang. Untuk dia berhenti menyiksa diri-sendiri. Rasanya kasian melihat ia diperbudak keinginan. Melupakan hak-hak tubuhnya dalam kehiduoan. Dan lagi tujuannya hanya untuk membuat mantan menyesal. Ironi memang.

Seni memang bukan kejahatan. Pelaku seni semacam artis juga bukan orang yang harus dipenjarakan. Tapi norma-norma ketimuran mulai luntur dan hilang. Adab berpakaian seperti buka aurat banyak dibiarkan. Interaksi antara laki-laki dan perempuan juga diwajarkan. Tak peduli mereka bukan mahram. Entah tujuannya apa. Tapi bila uang atau ketenaran juga balas dendam mantan,  akan berhenti oleh kematian. Setelah itu tak menambah timbangan amal kebaikan. Merugi bukan?

Follower Dinda sudah sekian (k). Satuan kekinian untuk ribuan. Tapi hari itu ia tergopoh-gopoh ke arahku dengan ponselnya.

"Na, ini lihat. Dia jahat," dipeluknya aku sangat erat.
Kulihat ponselnya menampilkan foto si Dod, mantan Dinda. Dan seorang wanita yang kutahu anak fakuktas MIPA.

"Follower-ku udah banyak. Like jangan ditanya. Yang gadungan udah aku stop juga. Ini asli semua. Tapi dia nggak lihat aku. Malah jadian sama cewek lain. Usahaku sia-sia. Aku harus gimana, Na?" tangisnya meledak tak terelakkan. Usahanya jadi artis berakhir tak sesuai harapan. Bukan sesal mantan yang ia dapatkan. Tapi sesal sendiri menghadapi kegagalan.

Kuusap punggung Dinda berusaha menenangkan.

"Ada yang nggak sia-sia, Din?"
Dinda melepaskan pelukannya dan menatapku penuh perhatian. Matanya terlihat penasaran. Walau perasaan sedih lebih dominan.

"Apa, Na?"

"Si-B, si-C jangan si-A, si-A."

Dahi dinda berkerut mencerna jawabanku.

"Astaghfirullah, garing banget sih, Na," Dinda memukul pahaku pelan dengan tangan lalu tertawa.

"Nggak jelas kamu, Na," Ia lalu pergi dengan  senyum bercampur kesal terbit di muka.

"Ayolah, makan aja," ajaknya. Akupun mengikutinya berjalan menuju kantin.

Berhasil. Setidaknya terbit senyum walau sedikit saja. Tidak sia-sia kan ya?




  • view 44