Lamaran Si Al: Bagian 8

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 September 2017
Lamaran Si Al: Bagian 8

Dipandanginya lembaran biodata milik Reina. Terpekur si Al karena tak disangka sebelum jumpa Reina, dia sudah lebih dulu bicara dengan walinya.

Almanak yang menggantung di dinding kamar kosnya seperti dibekukan. Sejak Bang Rei minta waktu seminggu, hari-hari si Al menjadi penantian. Si Al mengerti betul posisi Bang Rei. Dia juga tidak muluk mengharapkan. Karena sedari awal ia sadar dalam proses ini seseorang harus siap dengan jawaban tidak atau iya.

Berteman sepi bukan diri si Al selama ini. Sedang merecoki Odi tak bisa, sebab ia sedang fokus skripsi. Digelarnya sajadah, dikuatkannya dzikir dan istighfar. 

"Aku mengharap yang terbaik untuk dunia akhiratku, Ya Allah," kedua tangan si Al mengusap wajah perlahan.

Tersapu butiran bening yang mengalir dari dua bola matanya. Tampak rapuh seorang laki-laki menitikkan air mata, namun sesungguhnya ialah bentuk kepasrahan pada Illahi.

Ting!
Sebuah pesan whatssapp masuk di ponselnya. Ketika digeser yang terbaca nama Bang Rei, jantungnya berdegup aneh lagi. Makin kencang, sedikit lambat terasa hingga keluar dada.

"Bismillah," si Al memejamkan mata dan cermat membaca setiap susunan aksara.

Al, Ane minta maaf.

Dug! Degup jantung si Al mulai berantakan. Tapi hidup harus terus berjalan.

Seminggu ini ane selidiki ente, selain juga minta petunjuk Yang Maha Kuasa, termasuk soal kerjaan. Ane tahu betul ente berusaha. Seadanya aja, ente bisa datang buat bicarain walimahan sama Reina.

Allahu Akbar!

Digeletakkan begitu saja ponselnya di lantai. Si Al pasrah sekaligus merasa lebih bekerja keras mencari kerja.  Ia tahu pengangguran lebih seperti beban. Tapi ia lebih takut kalau bekerja seperti dulu tertinggal Dhuha serta Dzhuhur dan Ashar tak on time.

  • view 23