Lamaran Si Al: Bagian 7

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2017
Lamaran Si Al: Bagian 7

Kalau jodoh tak lari kemana. Agaknya kalimat itu yang pas menggambarkan kondisi si Al saat ini. Setelah ditolak sana-sini, setidaknya ada satu jawaban yang mengenakan dari sang guru ngaji.

Al, ketemu sama abangnya ya di Masjid An Nur sekarang. Ente di sana kan? Jawaban Reina diserahkan ke abangnya.

Si Al menunjukkan isi pesan yang membuat ia girang pada Odi. Odi-pun ikut mengucap rasa syukur, berempati atas apa yang menimpa si Al. Setidaknya sebotol air mineral yang dulu ditandaskan si Al jelas muaranya.

"Al, Al, tunggu dulu deh," Odi seperti menyadari sesuatu ketika Bang Rei kembali dengan rona muka yang lebih ceria dibanding si Al.

"Urusan lu nggak jauh-jauh dari sini," pelan suara Odi sembari sikunya menyodok ke pinggang si Al. Si Al masih meraba-raba apa maksud Odi.

"Kenal sama Alian nggak?" Bang Rei memutus segala tanda tanya di benak si Al. Ketika namanya disebut, sebaiknya ia tak perlu lagi bertanya. Terbersit senyum nano-nano di wajahnya. Sementara Odi hendak undur diri tapi urung melihat wajah si Al yang betangsur pucat pasi.

"Saya Al, Alian, Bang," tanpa terduga si Al menyalami Bang Rei. Dingin terasa menjalar di telapak si Al. Bang Rei menatap si Al dan Odi menukar tanya. Si Al yang ini maksud Reina.

***

Bang Rei menggosok-gosok rambutnya yang sama sekali tak gatal. Ketombe setitikpun tak berani mampir karena Bang Rei cinta kebersihan. Selain mencintai adiknya, Reina. Tak disangka, tak diduga si Al berhidung tawadu dengan rambut ikal inilah calon untuk adiknya.

"Al, kamu percaya takdir kan?" Bang Rei menatap si Al dengan serius tepat di kedua bola matanya.

Si Al tahu ini perbincangan serius. Sebab Bang Rei bertanggung jawab penuh atas adiknya yang bernama Reina.

"Iya, Bang," si Al mengangguk membenarkan. Odi yang berada di samping tak berani bersuara. Sebab tahu ini sudah menjadi perbincangan dua lelaki dewasa. Sementara untuk pergi rasanya kaki telah dipaku untuk ikut dengar.

"Reina, adik ane satu-satunya. Ane pengin banget dia mendapatkan yang terbaik, hidup enak. Soalnya dari dulu dia udah ikut berjuang setelah ditinggal babe sama emak dulu. Realistis aja nih. Ente punya apa buat adik ane?" Wajah Bang Rei 180 derajat berubah dari kemarin pas makan cuanki. Wibawanya makin nampak, tanpa sedikitpun tersirat ragu.

Si Al terus menggumamkan istighfar, takut ditolak, takut salah, dan lebih takut lagi salah niat.

"Abang tahu sendiri ane lagi cari kerjaan. Sedikit tabungan bekas kerjaan yang dulu masih ada. Selain itu Allah aja bang yang ane punya."

Terhenyak Bang Rei mendengar jawaban si Al. Dipikirnya jawaban sakti semacam itu cuma didengarnya lewat film-film pendek islami yang lagi marak. Nyatanya ia benar-benar dihadapkan pada pertanyaan yang menguji tauhid. Harus dijawab apa.

  • view 36