Lamaran Si Al: Bagian 6

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 September 2017
Lamaran Si Al: Bagian 6

Matahari leluasa menebarkan sinarnya. Awan-awan pergi ke pinggir memberikan ruang agar segala yang di bumi jadi terang benderang. Termasuk persoalan si Al.

Bang Rei manggut-manggut mengerti. Setelah satu jam si Al dan Odi gantian menerangkan apa yang terjadi. Lamaran kerja si Al yang bener-bener ditolak gara-gara kurang tinggi. Kesalahpahaman Odi perihal lamaran yang dikiranya untuk akhwat. Dan yang paling penting perihal cuanki.

"MasyaAllah, ternyata gitu ceritanya," Bang Rei memandang lekat si Al karena prihatin. Ia memandangi wajah si Al yang sebenarnya cukup ganteng walau hidungnya tak sombong. "Coba ajuin lamaran ke sini, Al. Punya temen ane," Bang Rei menyodorkan kartu nama yang agak lecek tertimpa barang-barang dalam tas.

"Iya, bang. Mohon maaf ini kalau jadi merepotkan," si Al menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda menyesal. Tak enak juga gara-gara ia pingsan semua mangkok cuanki dibayar oleh Bang Rei.

"Nggak papa, Al."

"Ane juga, bang. Hampura. Jadi riweuh gini akhirnya. Kalau adek abang gimana yang mau dikenalin sama si Al? Nggak papa?" Odi melempar pandangannya pada Bang Rei yang tampak memikirkan hal lain.

Si Al dag-dig-dug hatinya menanti jawaban Bang Rei. Suaranya kencang bersaing dengan suara pendingin ruangan yang sudah waktunya diganti freon. Paling takut ia melukai perasaan orang. Takut berbalik pada diri sendiri. Sebab dia juga sedang menanti jawaban akhwat yang guru ngajinya kenalkan. Selain menunggu lamaran sana-sini yang satu persatu ditolak.

"Alhamdulillah, adek ane ternyata udah ada calon juga. Baru mau kenalan sih. Doain ya. Eh, ini yang diomongin langsung nelpon," Bang Al permisi mengangkat telpon agak jauh dari si Al dan Odi. Tampak senyum tergambar jelas diantara perbincangannya di telpon. Odi dan si Al yang mengamati dari jauh ikut tersenyum.

"Alhamdulillah, Alhamdulillah," si Al menggeser ponselnya cepat yang baru saja berdenting. Selingan kata syukur tak henti setiap detiknya. Odi menyenggol lengan si Al dengan sangat penasaran.

"Alhamdulillah, Od," si Al menggoncang tubuh Odi dengan sinar kebahagiaan yang terus tergambar jelas. Sementara Odi ikut tersenyum dengan tanda tanya besar.


  • view 29