Lamaran Si Al: Bagian 5

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Agustus 2017
Lamaran Si Al: Bagian 5

Siuman si Al gara-gara mencium bau kambing qurban yang baru saja lewat. Setelah tadi aneka aroma minyak terapi gagal membuatnya bangun.

"Gue, gue dimana?" si Al berusaha bangun tapi punggung dan pantatnya terasa nyeri karena landing di tanah yang tak beraturan.

"Alhamdulillah, udah Al rebahan dulu," Odi memegang jidat si Al, mendorongnya ke belakang, membuat si Al semakin sulit bangun. Pasrah akhirnya ia menurut pada Odi.

"Ini gue di rumah sakit pake bpj...,"

"Udah tenang aja. Tadi lu pingsan. Ini juga masih di kampus. Gartis," Odi menenangkan Al sembari sibuk tangannya mengaduk sesuatu dalam gelas. Rupanya segelas teh hangat dengan butiran gula pasir yang berceceran menghiasi meja.

"Ini Al, lu minum dulu," disodorkannya gelas berisi teh itu dengan sendok yang masih berendam di dalamnya.

Si Al mengangguk, menyeruput sedikit isinya dengan ekspresi kejut karna kepanasan. Ditambah  minyak terapi yang dari tadi diusapkan pada hidungnya mulai berakumulasi jadi panas yang tak terdeskripsikan. Tapi si Al nggak berani protes, karna kepalang tak enak dengan Odi.

"Od, maafin gue ya."

"Woles aja Al. Sama gue ini. Btw, soal lamaran, lu udah siap bener belum?" Odi sedikit celingukan keluar, takut-takut kalau ada yang  dengar, apalagi bang Rei.

Biar jelas dulu ini gimana urusan hati si Al. Karena tadi bang Rei mau nyelesaian urusan mendadaknya dulu setelah ngangkat badan si Al yang cukup berat. 

"Od, jadi yang ditolak itu lamaran kerja gue. Bukan lamaran ke akhwat," pelan si Al meletakkan kembali gelas tehnya dan mengusap-usap hidung bagian bawahnya yang masih panas.

"Astaghfirullah, gue salah dong," Odi menepuk jidat lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kira-kira bang Rei udah cerita ke adiknya belum ya?" suara Odi samar bertanya pada dirinya sendiri yang kebingungan.

"Gimana, Od?" Si Al berusaha bangun  menegakkan kepalanya, ingin mendengar komentar Odi selanjutnya.

"Kalau lu lanjutin lamaran yang ini dulu gimana?" Odi tersenyum menang, menegakkan kepalanya, seolah  mendapatkan ilham.

"Hah main lanjutin aja? Lu kira ini soal apa? Kalau itu gue udah ada calon . . ."

"Al . . .  ," muka Odi tiba-tiba berubah merah padam menahan sesuatu. Ia kemudian melengos ke kanan buru-buru. Bangkit dari kursi.

"Od......!"

Odi mengangkat pergelangan tangan dan menggoyangnya seperti menolak sesuatu.

Entah bagaimana nasib si Al selanjutnya. Lamaran mana yang bakal berujung bahagia.

  • view 48