Lamaran Si Al: Bagian 4

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Lamaran Si Al: Bagian 4

Waktu terasa melamban seketika bagi si Al, usai dasar mangkok cuanki bersih tak bersisa. Bang Rei mengusap sisa saos yang belepotan di sekitar bibir. Ia meraih satu botol air mineral yang dikeluarkannya dari dalam tas. Sementara Odi sudah lebih dulu menyambangi tukang es kelapa muda. Jangan tanya bagaimana si Al. Ditelannya ludah banyak-banyak sembari mensugesti diri bahwa dahaga akan segera hilang. Tapi tetap saja.

"Ente, nggak haus?" Bang Rei menyodorkan botol air minumnya yang masih berisi seperempat.

Si Al meringis hendak berbohong. Tapi hati nuraninya menolak. Apalagi  kerongkongannya. Dia sambut botol itu dan lagi-lagi menandaskannya.

"Al, ane udah baca surat lamaran ente. Menurut Odi, sebelumnya ente ditolak gara-gara kurang tinggi, afwan ini," Bang Rei merasa tak enak hati karena bicara tanpa permisi.

"Nggak papa, Bang," si Al menggeleng.
Odi datang dengan suara sendawa yang cukup keras.

"Alhamdulillah, maaf-maaf, silakan dilanjut," Odi memandang bang Rei dan si Al bergantian dengan muka malu-malu kucing.

"Jadi ane ada referensi buat ente yang nggak pake syarat tinggi badan. Yang penting, ente udah siap aja jadi nahkoda. Berangkat dah kapalnya. Besok langsung ketemu sama yang bersangkutan ya," bang Al tampak menggebu-gebu penuh percaya diri.

"Loh bang kok jadi nahkoda?" Odi duluan penasaran.

Si Al sudah melotot karena dia yang lemah itu cuma bisa bawa motor bebek. Itupun baru bisa waktu semester dua.

"Kalian masak nggak ngerti sih, istilah gitu aja. Nahkoda bahtera rumah tangga maksudnya. Udah duluan ya ane. Ada urusan mendadak.Ketemu besok," bang Rei beranjak meninggalkan Odi dan si Al serta tiga mangkok cuanki yang sudah kosong. Makin bingung si Al.

"Assalamu'alaikum!"
"Wa' a . . .astaghfirullah......"
Si Al terjungkal ke belakang tak sadarkan diri.

  • view 33