Lamaran Si Al

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Agustus 2017
Lamaran Si Al

"Sial! Hari ini benar-benar. Astaghfirullah! Astaghfirullah!"
Berulangkali  mulut pria berambut cepak itu komat-kamit. Wajahnya tampak kusut seperti jemuran kering yang belum disetrika. Sedikit-sedikit bergumam sial. Tapi sedetik kemudian tangannya mengusap muka dengan mimik menyesal seraya mulut beristighfar. Jalannya agak terseok dan meninggalkan bekas tanah basah di jalan.

"Al, kenapa lu?"
Datanglah dari arah halte transjakarta seorang pria berambut klimis, berbau khas, yang terdeteksi  sebagai pomade.

"Astaghfirullah, kesel gue dari tadi. Sial dah. Astaghfirullah," lagi-lagi ia mengurut dada.

Merasa ada yang tidak beres, si rambut pomade menuntun Si Al duduk di bawah pohon rindang. Dikeluarkannya sebotol air mineral yang baru dibelinya sebelum naik transjakarta. Botol bercorak merah putih itu pasrah menerima nasib.

Si Al menyambar, mengucap bismillah dengan cepat, dan menenggaknya tak bersisa seperti menyiram bekas cucian piring. Udara siang menambah panas suasana hati Si Al. Angin kering terasa menggoda bergelayut di bawah jenggot tipisnya. Tipis sekali hanya lima helai rambut. 

"Lu kesel apa haus sih, Al?" diam-diam si rambut pomade menelan ludah. Barangkali dia sama hausnya tapi menahan. Si Al mengembalikan botol kosong pada pria pomade. Ia dengan cepat meremas botol kosong itu dan melemparkannya tepat di tong sampah. Maklum jaraknya tak ada lima meter dari mereka duduk. Tong sampah birupun berbunyi. Tanda kosong tak ada isi.

Si Al masih beristighfar. Rasa-rasanya ujian cukup berat hingga mulutnya basah mohon ampunan. Melihat itu seketika luruh kekesalan pria pomade itu. Demi teman, begitu pikir Odi, nama pria klimis itu. Ia juga melihat sepatu Wakai milik si Al yang kemarin diceritakan berwarna biru, kini bercorak abu-abu. Hei, ada apa gerangan?

Si Al dengan dada yang masih bergemuruh menyodorkan ponselnya pada Odi.

"Nih, lu lihat deh. Lamaran kayak gini masih ditolak juga," Odi menatap layar ponsel si Al tanpa berkedip. Mulutnya menganga. Hidungnya kembang kempis. Kalau gini sih masalah kelas berat. Odi kemudian tampak menimang sesuatu.
"Gue ada ide!"

Si Al mendongakkan kepala lalu memperhatikan Odi yang cengar-cengir. Ide macam apa yang akan diberikannya.

  • view 22