Sudahkah Kita Merdeka?

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Sudahkah Kita Merdeka?

"Sudahkah kita merdeka?" Dahiku berkerut membaca kalimat terakhir yang tertulis di majalah dinding. Mataku memindai seluruh tulisan yang ada di sana. Bagaimana bisa dia menyematkan kalimat itu dalam puisi? Berdalih sebagai "pesan kebaikan". Nyatanya tak lain, akar sebuah perpisahan.

***

Hari ini udara terasa sangat menyengat. Mengeringkan permukaan kulit yang tidak berhijab. Tapi tidak dengan luka. Ia justru semakin menganga. Kau tahu penyebabnya? Siapalagi kalau bukan penulis "Sudahkah Kita Merdeka?"

Daun-daunpun berguguran disambar angin. Sudah jatuh, tak juga berhenti. Angin menerbangkannya sampai jauh tidak terlihat dahan. Terpisah. Tanpa tahu dimana akhirnya. Seperti aku dan dia.

Aku bergidik dengan analogiku sendiri.

Aku tak ingin menyalahkan siapapun,sesungguhnya. Tentang berpisahnya aku dan dia. Cukup karena, memang belum saatnya bersama. Aku hanya ingin memperbaiki saja. Setidaknya seperti sedia kala, berteman.  Tapi membaca puisi tadi, otakku serasa diserang. Puluhan soal matematika tingkat tiga, sedang aku masih berada di tingkat pertama. Kalah? Maaf, aku belum menyerah.

Aku menangis awalnya, tapi situasi tak kunjung baik. Aku sudah minta maaf tapi ia bilang, "aku yang bersalah". Lalu aku memohon agar dia kembali, di sisiku, sebagai kekasih, tapi ia menggeleng. "Kita harus merdeka," kilahnya. Aku tak mengerti racun apa yang ia minum dari gadis itu.

Aku duduk termenung menatap lapangan basket yang tak lagi berpenghuni. Sepi. Ia memilih pulang daripada berlatih di sini, karena ada aku. Melindungi matanya dari dosa, begitu ucapnya. Hingga mataharipun lelah menanti, cahaya kemerahanya berpendar ke seisi bumi. Gadis itu menepuk punggungku, "Ayo". Ditunjuknya kubah emas yang ditenggeri bulan bintang. Aku menurut. Tapi catat, bukan karna gadis itu.

Usai tiga rakaat, ia mendatangiku lagi. Gadis itu bilang, "Tak apa. Kalau jodoh tak akan kemana." Otot mataku menegang, tak percaya. Bagaimana ia dengan sangat mudah mengatakan. Sedang di sini ada hati yang tak merelakan. Sudahkah kita merdeka? Terdengar seperti retorika.

***

Sudahkah kita merdeka?
Dari perbudakan dunia
Sudahkah kita merdeka?
Dari penjajah, tak punya rasa
Sudahkah kita merdeka?
Hidup mandiri tanpa bergantung orang tua
Sudahkah kita merdeka?
Dari segala laku yang bukan karena-Nya
Sudahkah kita merdeka?

Aku bangkit, berlalu meninggalkannnya. Dengan bait puisinya yang entah kenapa menempel di ruang otak kiri dan kanan. Bergantian. Bermunculan.  Apa yang gadis itu inginkan? Kekasihkukah? Atau kepopuleran di mata pria?

Kepalaku terasa berat menghadapi esok. Membayangkan sederet pertanyaan tentang aku dan dia. Kebersamaan kami yang sesaat. Lalu entah orang akan lagi berkata apa. Aku putuskan pulang.

Kutunggu sebuah angkutan kota yang bersedia mengangkut. Sembari kutatap beberapa potret aku dan dia. Nampak serasi. Bukankah kami tak melakukan apapun selama bersama? Selain berbagi energi dan bahagia. Begini saja tak bolehkah?

Kuusap layar ponselku membaca pesan-pesannya terdahulu. Namun belum usai kutelusuri pesannya, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Seorang pria berbaju hitam kemudian dengan cepat meraih ponselku dan berlari pergi. "Copet! Copet!"Aku berusaha mengejarnya. Karena masih kulihat punggungnya bergerak jahat mengejekku dari belakang.

Tapi tak lama, pria itu menabrak orang dengan banyak bawaan buku. Buku-buku itu jatuh dan ponselku terpelanting hingga seseorang tadi menyelamatkannya. Beruntung sebelum sebuah sedan melaju cepat. Dan bisa dengan mudah menghancurkan ponselku. Aku mengurut dada.

Orang yang menyelamatkan ponselku mendekat. Dan aku tak bisa menyembunyikan keterkejutan, gadis itu lagi. Takdir. Kumohon. Mengapa harus gadis itu? Ia tersenyum dan mengulurkan ponselku. Setelah itu berbalik memungut buku-bukunya kembali.

Seluruh sendiku membeku. Malu. Bingung. Bercampur aduk. Tapi mataku awas menangkap namaku di sana. Diantara buku yang berserakan. Sebuah kartu berwarna navy kombinasi silver. Gadis itu meraih dan menyodorkannya padaku.

"Maaf ya kalau ada salah. Dan . . . kalau ada waktu hadir ya."

Sebuah undangan pernikahan dengan nama gadis itu. Jadi? Apa yang aku pikirkan soal gadis itu tak masuk akal.

Aku mengangguk. Hanya itu. Masih gengsi diri ini berlaku senyum. Sedang gadis itu dengan mudah memberikan senyumnya lagi. Senyum yang sama saat ia  berkata, "putus saja, kita ini jiwa merdeka." Pungkasan dalam seminar yang diisinya.

Meleleh sudah mataku dibuatnya. Aku tak tahu dia siapa dan bagaimana cara otaknya bekerja. Duga-dugaku yang tak berperi. Segala kekhawatiran akan nilai di mata mereka, luntur. Dan aku tahu , jawaban dari pertanyaan gadis itu, "Sudahkah kita merdeka?"

Barangkali raga ini telah merdeka, bebas berkarya, bebas bersuara. Tapi hati? Sedang kupastikan keadaannya. Agar ia bebas dari prasangka. Bebas dari penjara kata orang. Hingga aku benar-benar menjadi merdeka.

***

Kuhapus semua pesan dan potretnya dari ponsel. Aku yakin ia sedang berjuang pula. Maka aku memulainya dari sini. Perjuangan menjadi seorang yang merdeka.


  • view 114