Berjudul Bahagia

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juli 2017
Berjudul Bahagia

28 Juli 2017

Tidak ada yang berbeda dengan hari itu. Hanya saja dua puluh tiga tahun lalu di tanggal sama katanya aku lahir di dunia. Iya, aku tidak ingat benar. Otakku belum merekamnya. Lalu beberapa ucapan doa masuk lewat pesan. Kuaminkan dan kubalas dengan doa baik pula. Aku tersenyum.

Aku tersenyum bukan hanya karna hari ini. Tapi setiap hari aku  belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Banyak yang bilang aku galak, jutek, marah, walau sesungguhnya iya. Aku ingin orang senang bertemu denganku. Bila tidak, sedikitnya aku tak mengganggu pemandangan mata mereka.

Di kantor, Jum'at siang itu udara cukup panas. Aku bergegas meminta tanda tangan seorang pejabat di kantor. Tak mau ketinggalan, sebab beliau segera berangkat menunaikan sholat Jum'at. Sedang seorang pegawai lain hendak membawa dokumen itu pergi.

Takdir Allah, saat menuruni dua anak tangga terakhir, kakiku meluncur bebas hingga ke lantai bawah. Terjatuhlah aku dengan gaya orang bersimpuh. Sementara pegawai yang menunggu dokumen itu, mendongak melihatku, lalu tekun lagi dengan ponselnya.

Sambil menyembunyikan malu, aku bangkit dan menyerahkan dokumen itu. Sementara rasa sakit di pergelangan kaki kiriku mulai terasa aneh. Kupikir dengan istirahat sejenak, ia akan segera pulih. Nyatanya tidak. Ia semakin menjadi. Aku lalu berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain dengan kaki pincang. Kadang melompat dengan satu kaki saja. Berharap sakitnya tak terasa. Tapi keringat malah bercucuran di dada.

Beberapa teman yang berpapasan bertanya. Kuceritakan bergantian. Ada yang merasa iba, kasihan. Sempat mereka memapah, mengambilkan makan siang juga segelas air minum. Ada pula yang tertawa karena pernah mengalami hal serupa.

Singkat cerita seorang pekerja di kantor membantu memijat pergelangan kakiku. Beberapa teman ikut menunggui. Tak hanya perempuan juga laki-laki. Aneka komentar mereka lontarkan. Berusaha menghibur dan menenangkan. Tapi yang aku lakukan malah menangis. Menangis sejadi-jadinya dengan raungan kecil yang terdengar menggelikan. Bahkan sebelum sempat kakiku di pijat. Entahlah apa aku terlalu melankolis. Tapi saat itu aku merasa tak sendiri. Aku merasa berjuang menahan rasa sakit bersama. Aku merasa ada kasih sayang diantara tawa, senda gurau dan ucapan mereka.

Lewat rasa sakit ini, Allah mengingatkanku agar selalu berhati-hati. Mensyukuri setiap detik kehidupan dan setiap jengkal nikmat dari-Nya. Karna tidak ada kejadian tanpa ijin-Nya. Termasuk rasa sakit. Aku berharap bisa jadi penggugur dosa.

Lewat kejadian ini, Allah juga menunjukkan banyak orang yang menyayangiku dan aku harus selalu berbuat baik pada mereka.  Belajar bermuka manis lebih giat. Supaya tidak lagi aku disebut galak.

Terimakasih Allah. Aku bahagia. Terimakasih teman-teman. Aku bersyukur tertakdir mengenal kalian.

Jadi ini sekelumit cerita bahagiaku.  Entahlah bagaimana definisi bahagia. Yang jelas bahagia itu menurutku soal perasaan bukan soal ujian. Dan #bahagiaitumudah . Coba saja bahagia, kalau tidak percaya.

  • view 41