Kamu, Kota Ini dan Gunungan

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Juni 2017
Kamu, Kota Ini dan Gunungan

Aku sudah naik di atas panggung  Alunan lagu mulai mengalir kurasakan dengan memejamkan mata. Tapi ada suara sumbang yang muncul. Tok! Tok! Tok! Mataku terbuka tapi yang telihat hanyalah langit-langit kamar dan suara ketukan pintu itu  tersisa.

"Ah, siapa yang berani merusak mimpiku?" Aku bangkit, memutar gagang pintu dan...

"Selamat pagi," sapanya tanpa permisi, masuk ke kamar kosku, duduk di ranjang.

Kuusir ia dengan gerakan tangan. Aku ingin kembali menyelesaikan mimpi. Setidaknya satu bait saja. Sialnya, wanita ini tak bergeming. 

"Aku mau  tidur," kugaruk kepalaku yang tak gatal.
Dia menggeleng dan tersenyum mencibir.

"Ayo jalan-jalan di kotaku, Madiun," senyumnya masih mengembang dan acuh dengan keresahanku.

"Disini nggak ada apa-apa! Aku cuma pengen tidur."

Dia diam. Tak lama ia berpindah dari tempat tidurku. Kupikir ia menyerah. Nyatanya sebuah handuk dilemparkannya padaku. Ya, aku sudah tidak bisa bernegosiasi. 

***

Sebuah motor membawa kami pergi. Dengan tangannya yang sudah erat di pinggangku. Semilir angin menebarkan rambutnya. Sedikit aroma keringat bercampur parfum yang tadi ia semprotkan dari laci nakasku. Tapi aku diam-diam suka.

Sampailah di suatu tempat bernama alun-alun. Disana sudah banyak orang berjejer menanti sesuatu. Dia menarik tanganku seolah bersiap menyambut juga. Aku tak berkutik.

Di tengah kerumunan orang sudah ada dua gunungan sekira dua meter. Gunungan itu berisi hasil bumi mentah dan jajanan pasar.

"Ini namanya gunungan jaler dan estri. Gunungan lelaki dan perempuan. Buat acara Grebeg Maulud, memperingati lahirnya Nabi Muhammad. Kalau bisa dapat makanan dari gunungan katanya dapet berkah. Tapi menurutku ya, ini bentuk rasa syukur saja. Berkahnya ya kamu. Hahaha aku bercanda," setengah bereriak dan cekikian dia cerita.

"Grebeg ini sudah dikirab keliling kota. Start-nya dari masjid Taman, finish di alun-alun. Tempatnya di masjid karena dulunya jadi tempat syiar agama para penguasa. Untuk alun-alun, karna mungkin tempatnya yang luas dan berada di tengah kota."

Aku mengangguk.

"Kau harus dapat," matanya berkedip setengah.

Aku mengangguk.

"Menarik dan sepertinya aku makin tertarik." gumamku lirih.

Lalu aku bersemangat merebut gunungan. Sedang dia bersemangat menyelematkan hasil rebutan. Kompak. Serasi.

***

"Kota ini ada apa-apanya kan?"

Iya, ada budaya yang berakulturasi dengan nilai agama. Dan kamu yang mengakumulasi rasa rindu dan lara.

Aku menginjakkan kaki di sini lagi. Setelah terjebak tiga tahun lalu. Aku mengisi acara di sebuah hotel untuk menyanyi. Tidak banyak yang kupikirkan saat itu. Selain menyanyi, terkenal, karirku bagus, selebihnya kota ini hanya perantara. Tapi kamu hadir mengacaukan segalanya.

Kamu duduk sebagai salah satu pengunjung, dimana semua orang menikmati laguku. Tapi hanya kamu seorang yang menangis. Ditemani sebuah gelas yang ditinggalkan pemiliknya. Dan dengan bodohnya aku menghampirimu, Kamu bercerita, lalu dekat tapi hanya sesaat.

Kini aku berdiri di alun-alun Madiun, lagi. Merebut gunungan seorang diri. Menyerahkan hasil bumi yang berhasil kucabut pada orang, lalu melangkah pergi. Aku hanya ingin kembali pada rencanaku semula. Singgah saja. Karna kamu, kota ini dan gunungan sudah punya cara menikmatinya sendiri. Bersama ia yang dulu meninggalkanmu bersama segelas minuman.

"Aku  balikan sama dia. Dia masih sayang sama aku. Bulan depan kami menikah. Acaranya bareng Grebeg Maulud.  Datang ya."

Pesanmu setahun lalu akhirnya kuhapus. Aku hanya ingin singgah.

  • view 119

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Yang menarik dari fiksi ini Nurma Kasa, sang kreator, menyampaikan cerita rekaan yang menyentuh tanpa terkesan sedih berlebihan. Karyanya singkat tanpa memburu-buru alur. Menyampaikan pilihan hidup yang kuat walau menimbulkan risiko perih.

    Nurma mengetengahkan sang narator kembali ke kota Madiun, yang penuh kenangan antaranya dengan sang mantan. Alur dibuat ke belakang yang banyak menulis tentang pengalaman si narator. Asyiknya fiksi ini diakhiri dengan frase ‘Aku hanya ingin singgah’, yang mengimplisitkan pesan si narator yang memilih melanjutkan hidup meski dengan rasa pahit. Bagus, Nurma!