Diantara Pinus dan Cerita Lama

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juni 2017
Diantara Pinus dan Cerita Lama

Waktu tak pernah bicara. Tapi aku tahu ia tak kan terulang, walau sedetik lalu aku memohon kembali. Maka sekarang aku putuskan berhenti. Di sebuah tempat yang dulu kali pertama masaku menjadi sia-sia. Hutan Pinus Nongko Ijo, Desa Kare, Madiun tempatnya.

Bunga pinus menjatuhiku tepat di kepala. Ia lalu melompat jauh dari tempatku berpijak. Kupungut satu, secara acak. Kupandangi lekat susunan bunganya yang telah dibuahi. Kokoh tapi cantik.

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Dan ternyata hanya aku yang asyik mengamati bunga ini sendiri. Sedang yang lain tampak berbincang, bermain air, menaiki rumah pohon dan mengambil gambar. 

Kabarnya sejak 1981 tempat ini ditanami pinus. Kini aku tinggal menikmati sejuknya udara pegunungan karna letaknya persis di bawah lereng gunung Wilis.

"Mbak, niki," seorang penjual mengantarkan semangkuk mie kuah kepadaku. Aku mengangguk lalu berucap terimakasih. Kupilih sebuah batang pohon panjang untuk duduk. Kuhirup uap panas yang mengepul dari mangkuk. Kombinasi sempurna dalam berwisata alam.

"Mie buatku mana?" seseorang yang kunanti akhirnya duduk membersamaiku. 

"Pesen sendirilah," aku asyik menghirup kuah mie yang sedap. Butiran kuah kaldu lalu melesat dan  bercecer di area mulut.

Sesaat kemudian, aku merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Sebuah sapu tangan. Aku segera bangkit. Karena semua dosa berawal dari pelanggaran yang dimaklumi. Aku menghela nafas panjang. 

"Kamu ke-ke-napa?" katanya terpenggal. Aku menggeleng masih dengan tangan memegang mangkuk mie.

"Ini", kuacungkan mangkuk itu untuk memperlihatkam dasarnya yang hampir tampak. Aku harus pergi. Sejenak, walau hanya memulangkan mangkuk. Dia akhirnya setuju.

Aku kembali ke bangku panjang. Tempat dimana ia menanti. Bukan ia yang menanti, tapi janjiku minta ditunaikan.

"Jadi kamu mau bicara apa?"

Kusapukan pandangan mataku. Masih sama ketika pertama kali jumpa.  Pinus-pinus yang tinggi memjulang, gemericik air terusan sungai Catur, dan sawah berundak yang tersaji di depan mata. Masih sama. Tapi aku tak akan berbuat sama.

"Apa yang selama kita jalani itu salah!"

Ia terberlalak entah kaget atau berpura-pura.

Aku berusaha berprasangka baik.  Kujelaskan semua yang aku tahu. Hubungan laki-laki dan perempuan yang akrab disebut pacaran. Apa untung dan rugi melakukkannya? Barangkali ada untungnya tapi tak sebanding dengan keburukannya.

"Ya, apa salahnya? Kita enggak pacaran. Kakak-adik kan kita?" Rahangmu mrngeras. Di matamu muncul seberkas kilat tajam. Aku tak akan getar.

Aku menggeleng.

"Jadi maunya kamu, kita pacaran, hah? Kalau kamu mau aku bisa tembak kamu di sini. Di hadapan orang banyak. Tapi pacaran kan nggak boleh. Aku mau melindungimu saja." kamu tak mebuang pandangan dariku. Aku bukan ingin membuatmu sedih atau kecewa. Tapi aku tidak bisa melanjutkan.

"Kakak sebenarnya mencintai kamu dek. Ingin melindungi kamu. Gimana caranya?"
Kupejamkan mata beberapa detik untuk meyakinkanndiriku sendiri. Baik sekarang saatnya bicara. Jangan tertipu. Pembohong selalu bicara alasan. Bukan jalan keluar.

"Kalau begitu datang ke rumah dan bicara pada bapakku sekarang, bagaimana?"

"Tapi dek, kita harus matang...,"

Kalimatnya belum selesai. Tapi aku merasa urusanku sudah usai. Aku menjauh pergi. Dia memanggilku, tapi aku tak mau menoleh. Waktuku yang dulu tak pernah kembali. Tapi aku bisa menyelamatkan waktuku yang hendak datang dari kesia-siaan. Sesungguhnya manusia kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal sholih. Dan aku tak mau rugi.

 

  • view 63