Aku Ingin Berdua

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juni 2017
Aku Ingin Berdua

Aku berjalan menuju masjid sesuai tempat yang kusepakati dengan Kak Rindy. Di pundakku tergantung satu tas berisi kamera. Aku belum tahu benar apa kebutuhan anak-anak rohani masjid. Setidaknya aku bersiaga kalau-kalau hari ini mulai bertugas. Tak apa aku melakukannya dengan senang hati. Menangkap raut kebahagiaan manusia itu seperti kita ikut juga merasakannya.

Dari jauh kak Rindy mengembangkan senyum. Meski aku tak terlalu jelas tapi posturnya menyatakan bahwa senang atas kehadiranku.

"Kak Rindy," kuulurkan tanganku hendak berjabat tangan. Tapi dengan cepat ia menyalami dan mencium pipi kanan dan kiriku, seperti sahabat lama.

"Hai, Assalamu'alaikum. Gimana kabarnya?"

"Eh, Wa'alaikumsalam. Baik-baik, kak. Alhamdulillah," kata-kataku terbata karna melupakan satu hal, salam paling sempurna. Aku mau berubah jadi baik tapi lupa pada hal baik yang sederhana seperti salam. Ada sedikit pukulan di pikiranku. Aku tersadar.

Kami saling melepaskan pelukan. Lalu bersama berjalan beriringan menuju di teras masjid. Kami duduk di sana. Pohon angsana yang hidup di latarnya membuat suasana teduh dan nyaman. Apalagi di bulan Desember seperti ini. Bunganya berguguran memenuhi latar masjid menebarkan bau manis. Aku suka.

"Eh, duduk di sini enak ya adem?" mata kak Rindy menerawang diantara dahan yang bersilangan. Aku mengangguk.

"Kakak sehat?" tiba-tiba tercetus kalimat itu. Kalimat yang seharusnya segera aku tanyakan saat kami saling berpelukan.

"Alhamdulillah, sehat. Tambah gemuk nih Tapi nggak papalah. Makin banyak lemak, makin enak bikin sop buntutnya. Nggak kayak kamu yang langsing cantik," kak Rindy menjawab dengan ekspresif.

"Ah bisa aja kak. Kakak kan udah punya Namia. Oiya, ada project apa nih kak yang bisa aku bantu? Aku udah bawa kamera."

Jadi Namira itu putri kecil kak Rindy yang berusia 1 tahun. Kak Rindy menikah di semester 3 perkuliahan. Saat itu aku memang sering sekali nongkrong di masjid. Niatnya sih mencari obyek foto. Tapi ia rajin mengajakku kajian. Dari situ aku mengenalnya.

Itu juga yang membuatku akhirnya berpikir menyudahi hubungan dengan Rio. Pacarku sejak masa ospek. Tapi baru sekarang terlaksana setelah aku terlena begitu lama dan absen dari kajian.

"Ih repot-repot. Project-nya sih ada tapi nggak pake kamera. Pake hati kamu aja?"
Aku mengernyit. Dengan hati? Project macam apa itu? Kemanusiaan?

  • view 51