Semangkuk Rindu

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juni 2017
Semangkuk Rindu

Aku tahu sudah belasan tahu berlalu. Tapi aku yakin suatu hari kita akan bertemu. Entah dengan mangkukmu yang penuh atau telah berkurang separuhnya.

Ibu bilang perjalanan memberi pelajaran. Jika tak mengerti sekarang. Esok hari hikmah pasti datang. Jadi aku selalu menikmatinya. 

Kali ini aku mendapat tugas sosialisasi ke Madiun. Teman seperjalananku, Hasbiah, untungnya ia orang jawa. Jadi aku merasa aman dan tenang, tanpa takut kesasar.

"Mampir dulu ya di tempat temanku," Hasbiah memberikan arahan pada supir untuk berbelok ke arah yang berbeda dengan hotel.

"Kita nggak jadi beli apa tadi, Kuwo?Luo?"

"Kenapa sih ngebet banget? Kayak pikiran kamu sama mas-mas yang kamu chat lewat facebook?"

Aku menggeleng. Aku tak suka tebakannya benar.  Hasbiah sebelumnya bilang nama sebuah makanan. Dia bilang terbuat dari singkong yang direbus bersama santan dan gula merah. Rasanya manis, gurih dan mengenyangkan. Aku seperti mengingat sesuatu. Yang sangat lama.

***

Akhirnya tibalah kami di rumah teman Hasbiah. Perbincanganpun mengalir. Aku ikut mendengarkan saja karena sesekali mereka bicara dengan bahasa Jawa. 

Beberapa masakan tersaji di atas meja. Teman Hasbiah, namanya Yena seperti menyambut tamu dalam jumlah banyak. Sebagian terasa asing kecuali yang satu ini.

"Nu, gimana rasanya? Ini tadi yang kubilang Kluwo ," Hasbiah menunjuk mangkok berisi singkong yang kuamati tadi. 

"Enak, enak, manis, bikin sendiri?" kutatap Hasbiah dan Yena bergantian.

Hasbiah menepuk pahaku kemudian agak keras, "Iyalah, Yena ini pinter masak. Calonnya juga pinter masak. Bukak ketring kowe bariki. Nek ra pas rabimu masakane seng masak kowe mbek calon bojomu. Hemat to Na?"

Yena tertawa mendengar jawaban Hasbiah. "Aku yang masak, tapi resepnya dari mas."

Beruntunglah Yena bisa memasak. Bukan seperti aku yang tak pandai . Aku tak tahu jadinya nanti kalau punya suami pandai memasak. Malu pasti.

"Kluwo ya tadi namanya," aku memiringkan kepala, rasanya persis sebelas tahun lalu. 

Waktu pelajaran tata boga, kami diminta membuat kudapan dari singkong. Aku asal-asalan membuat singkong kurebus bertabur  keju. Lantas guru tata boga tertawa prihatin melihat sajianku. Dipanggilah seorang anak laki-laki.

"Ini belajar sama Ariff. Pake apa Riff bikinnya?"

Ariff menggeleng.

"Cinta, Bu," sahut yang lain

Setelah itu aku jadi dijodoh-jodohkan dengannya. Aku merasa deg-degan. Bahkan sampai  saat pesanku dibalasnya lewat facebook kemarin.

Suara pintu diketuk membuyarkan tawa kami. Ada tamu. Aku mengernyit. Warna suara yang mirip dengan Ariff. Halusinasiku sempurna ngawurMasuklah orang yang tadi mengetuk pintu.

"Ini masnya yang punya resep," Yena mengenalkan lelaki itu.

Tiba-tiba rasa manis Kluwo menyerang kerongkonganku berlebihan, berubah pahit. Ada yang salah pasti.

"Mas Ariff, ini  mbak Hasbi dan ini mbak Nura," tangan Yena menunjukku dan Hasbi.

"Nura? Nura Ramdhani?"

Aku mengangguk, tersenyum tipis hampir tak percaya. Secepat ini bertemu.

"Kenal?" Hasbiah dan Yena bertanya hampir bersamaan.

"Teman SMP," jawab Ariff ringan.

"Dunia sempit ya?" Hasbiah tertawa disusul Yena dan Ariff.  Aku tertawa juga. Pura-pura agar segalanya terlihat biasa. 

Setiap pengharapan pada manusia harus hidup bersama rasa kecewa. Begitu hakikatnya. Karena manusia lainpun juga tak punya daya, lemah dan menaruh harapan juga. Sama.

Jadi semangkuk rindu itu masih kamu. Manis seperti semangkuk Kluwo yang hangat. Tapi sudah tandas seluruh isinya. Karena mangkuk itu bukan punyaku.

  • view 129