Aku Ingin Berdua

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Juni 2017
Aku Ingin Berdua

"Rati?" pegawai resto itu menunjukku dengan buku yang tadi dipungutnya.

Mataku membulat. Semua prediksiku akan reaksinya sempurna salah. Dia tak memakiku karena telah membuat keributan. Bahkan dia mengenalku.

Entah kali bagaimana wajahku di cermin. Jika kata juga kalimat mampu kususun dengan kehati-hatian, bahkan kepura-puraan, untuk gesture aku menyerah. Otot-otot mukaku patuh sekali pada otak. Kaget. Bingung. Semua campur aduk jadi satu.

"Oh maaf mbak, salah orang ya. Ini bukunya," pegawai resto itu menunduk, memgulumkan senyum dan menyodorkan buku milikku. Tanganku meraih buku itu seraya menahan tangannya.

"Rati?" sekali lagi pegawai resto itu menyebut namaku. Ia tersenyum tanggung, tapi masih kulihat rahangnya yang tajam dan matanya yang entah memgapa begitu bersinar. Aku mengangguk.

***

Kami lalu duduk bertiga. Dengan suasana yang....sangat aneh. Hanya peluhku yang produktif membanjir badan di balik blouse.

"Saya pesan minum untuk kita bertiga ya," tangan kanan si pegawai resto terangkat , memanggil salah seorang pegawai lain yang ia kenal. Lalu menyebutkan satu menu minuman. Dan memposisikan jempol dan telunjuknya menyatu, sedang jari lain dubiarkan terbuka. Tiga. Tanda ia memesan tiga.

"Rati, masih ingat saya?" si pegawai resto itu sungguh tersenyum dengan cara yang sama. Bahagia dan membahagiakan.

"Maaf," kepalaku menggeleng.

"Ah, ini sila diminum," si pegawai resto melakukan estafet dengan temannya yang datang membawa tiga gelas minuman.

Aku mengangguk.


"Saya Raka, dulu satu kelas waktu SMP kelas satu," pria yang mengenalkan diri sebagai Raka dan mencoba mengga

"Rati?" pegawai resto itu menunjukku dengan buku yang tadi dipungutnya.
Mataku membulat. Semua prediksiku akan reaksinya sempurna salah. Dia tak memakiku karena telah membuat keributan. Bahkan dia mengenalku.

Entah kali bagaimana wajahku di cermin. Jika kata juga kalimat mampu kususun dengan kehati-hatian, bahkan kepura-puraan, untuk gesture aku menyerah. Otot-otot mukaku patuh sekali pada otak. Kaget. Bingung. Semua campur aduk jadi satu.

"Oh maaf mbak, salah orang ya. Ini bukunya," pegawai resto itu menunduk, memgulumkan senyum dan menyodorkan buku milikku. Tanganku meraih buku itu seraya menahan tangannya.
"Rati?" sekali lagi pegawai resto itu menyebut namaku. Ia tersenyum tanggung, tapi masih kulihat rahangnya yang tajam dan matanya yang entah memgapa begitu bersinar. Aku mengangguk.

***

Kami lalu duduk bertiga. Dengan suasana yang....sangat aneh. Hanya peluhku yang produktif membanjir badan di balik blouse.
"saya pesan minum untuk kita bertiga ya," tangan kanan si pegawai resto terangkat , memanggil salah seorang pegawai lain yang ia kenal. Lalu menyebutkan satu menu minuman. Dan memposisikan jempol dan telunjuknya menyatu, sedang jari lain dubiarkan terbuka. Tiga. Tanda ia memesan tiga.

"Rati, masih ingat saya?" si pegawai resto itu sungguh tersenyum dengan cara yang sama. Bahagia dan membahagiakan.
"Maaf," kepalaku menggeleng.
"Ah, ini sila diminum," si pegawai resto melakukan estafet dengan temannya yang datang membawa tiga gelas minuman.
Aku mengangguk.

"Saya Raka, dulu satu kelas waktu SMP kelas satu," pria yang mengenakkan diri sebagai Raka itu mencoba menggali ingatanku.

"Kalau tidak ingat, ya sudah," lelaki 'aku ingin berdua' itu akhirnya angkat bicara. Ketus seperti raut mukanya. Kaku seperti cara dia memaksa aku. Dahiku berkerut. Memaksanya agar bersikap sopan. Setidaknya aku satu-satunya orang yang mengenalnya tak mau ikut malu.

"Rio, apa sih?" Aku memelotot pada Rio. Dan ia tak merubah gerakan otot manapun, kecuali kerongkongannya yang didorong air terus menerus.

"Kalau note ini masih ingat?" Raka menunjukkan sebuah foto. Barang yang sangat aku kenal. Buku yang sama mengungkapkan segala yang pernah aku jalani, sudah atau akan. Persis dengan note geger antara aku dan Rio. Aku juga membuatnya sendiri. Tapi aku memberikan note itu pada anak kutu buku dan namanya bukan Raka.

Aku mengernyit masih tak mengerti. Apa pria di depanku ini sedang berbohong?

"Iya, saya orangnya. Si kutu buku berkacamata."

Hah, dia mendengar pikiranku? Sebenarnya dia siapa?

 

  • view 32