Kepada Syawal

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juni 2017
Kepada Syawal

Syawal. Terlalu dini mungkin aku membicarakanmu. Aku masih ingin bersenang-senang dengan Ramadhan. Memeluknya erat sampai nafas terdengar begitu dekat. Tapi ijinkan aku bercerita, sejenak.

Syawal. Terlalu sering kau kudengar dari bulan ke bulan. Kau digadang sebagai masa yang tepat untuk menunaikan janji setia. Yang menggoyangkan langit angkasa. Kau disebut dalam malam panjang penantian berselimut doa. Syawal ini. Syawal depan. Esok Syawal. Syawal tahun sekian. Tak apa. Sungguh tak apa. Karena doa adalah salah satu kekuatan manusia. Kau juga tak apa-kan?

Wahai Syawal-ku. Semoga engkau tak bosan. Kumohon tunggu, tunggu dengan kesabaran. Aku yakin kamu selalu baik. Sebagaimana Tuhan selalu baik padaku. Aku tengah mengumpulkan bekal, lalu ingin kutemuimu dengan bahagia, penuh syukur, tanpa rasa sesal.

Syawal, tak pernah kutemukan hal baik dalam ketergesaan. Layaknya sembahyang, aku ingin menjumpaimu dengan tuma'ninah. Biar teredam segala keluh kesah. Berganti jiwa yang tulus dan pasrah. Seperti pintaku agar berakhir indah.

Kepada Syawal, aku percaya tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa kehendak Tuhan. Begitu juga syawal-syawal yang telah lalu. Yang bergulir begitu saja bersama waktu. Barangkali adalah pelajaran berharga bagiku. Waktu adalah pedang. Dan waktu luang pulalah yang sering kali melenakan.

Tapi aku yakin masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Kali ini. Kali ini pasti bisa pada pendahulumu yang mulia, sang Ramadhan. Kau mau juga bekerja sama? Atau kau telah bersiap dengan sebuah cerita? Berceritalah, tentu saja aku bersedia mendengar.

 

 

  • view 43