Maaf, Aku Sedang Berusaha

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juni 2017
Maaf, Aku Sedang Berusaha

"Aku tak enak hati kalau terus-terusan dijodohkan dengannya. Aku takut dia salah sangka dan suka."

Detak jantungku berderap. Langkah-langkahnya seperti para tentara berlari hendak perang. Entah aku bisa menyelamatkannya atau tidak. Tapi aku berusaha biasa saja. Kalimat yang bahkan aku sendiri sudah mengira sebelumnya.

***

Aku ingin menyelesaikan ini semua. Cinta satu arah selalu saja menyesakkan. Kenyataan dan harapan yang tak seimbang. Perasaan dan logika yang bersebrangan. Sudah tahu bagaimana ia tak suka masih saja menaruh harapan.

Aku ingin menyelesaikan ini semua. Seperti tak terjadi apa-apa. Hanya aku mengenalnya sebagai teman. Ya, teman. Tapi caranya? Aku masih belum tahu

***

Sore ini sudah berpapasan kali kesekian dengannya. Bagaimana tidak? Kami bekerja di gedung yang sama. Dengan hanya empat lantai berisi manusia yang tak seberapa jumlahnya. Kesempatan bertemu tak terelakan.

Dan scene yang paling menyebalkan adalah saat pandang kami bertemu. Sebuah lorong yang cukup panjang jadi latar tempatnya. Aku berjalan dari arah utara dan ia dari ujung selatan. Rasanya ingin berbelok mencari alasan. Tapi otak mendadak buntu. Pada akhirnya, aku hanya menunduk saat menit bayangannya begitu dekat denganku.

"Hai," suaranya terdengar kaku dan canggung. Tak ubahnya bibirku yang tertatik sedikit sudutnya. Senyum level satu dengan tingkat kepura-puraan level lima. Aku tak benar-benar tersenyum. Aku tidak ingin bahagia karna sapaan itu terdengar menyakitkan.

"Mau kemana?" Ia masih melanjutkan pernyataan walau tubuh kami sudah saling menjauh. Aku menoleh, mendapatinya berhenti.

"Nggak kemana-mana," jawabku ketus.

"Oh, hati-hati," tanganmu menyentuh kening lalu rambutmu dan terus menggaruknya. Aku mengangguk lagi dan berlalu. Aku tahu rlair mukaku sangat masam, tapi tolong hargai usahaku menjadi biasa.

"Kenapa? Apa kamu bingung? Tolong jangan berusaha memulai percakapan, kalau memang tidak ada kepentingan. Tidak perlu ada basa-basi semacam ini. Wanita lemah pada pendengaraannya. Setan sering bertandang lewat pintu sana. Membisikan hal yang tak penting jadi sesuatu yang bersemayam dalam-dalam. Dan aku salah satu wanita."

Sayang paragraf sepanjang itu hanya terucap tanpa suara. Maaf, aku sedang berusaha.

 

 

  • view 86