Cinta dari Tanah Sebrang

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2017
Cinta dari Tanah Sebrang

Aku percaya kalau hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Barangkali begitu juga hujan di mataku yang selalu mengalir saat kening ini menyentuh sajadah. Hujan tengah bekerja. Mengantarkan doaku ke langit.

Aku percaya kalau hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Tapi aku sempat tak percaya bahwa waktu begitu cepat membuktikan. Selalu ada harapan dan tak boleh putus asa setelah usaha dan doa. Jangan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Aku melewati masa dimana aku kehilangan kata-kata. Aku tak mampu terang-terangan menampakkan ekspresi muka. Aku tahu aku tak bersalah. Tapi kekuatan itu sirna perlahan. Aku sengaja melakukkannya. Aku takut kehilangan kendali diri. Aku hanya ingin menjaga dua hal.

Pertama, jalan baik menuju niat baikku. Aku harus tetap baik dengan semua orang. Baik kepada orang tuaku sendiri, walau sempat aku dibuatnya berhenti sejenak. Menyelami mitos yang katanya tak boleh dilanghar. Lalu yang kedua adalah menjaga hatiku biar tetap patuh, tetap tunduk, tetap menyadari bahwa nafsu bisa kapan saja berkuasa untuk mengalahkan manusia. Bersiaplah dengan bekal syariat. Seberkas cahaya yang memang disinarkan bagi mereka yang ingin meraih cinta sesungguhnya.

Masih terlalu pagi untuk bersua dengan banyak manusia. Tapi aku harus kali ini. Tak bisa tidak.

Selepas shubuh dan menghabiskan dua lembar tilawah, aku sudah bersiap di ruang tengah. Perias sudah menggelar lapak mereka. Warna-warni indah terangkum dari pantulan kaca. Aku gugup untuk pertama kalinya tampil berdandan.

Aku mendongak ke langit-langit ruang. Menahan tetesan air mata yang mendesak memenuhi kornea. Aku ingin menangis. Aku bahagia. Tapi aku tak bisa membiarkannya tumpah sekarang.

"Ojo nangis sekarang, nanti riasannya luntur, rugi bayarnya," Bapak berlalu santai dengan sarung yang masih melilit di pinggang. Suasana lalu agak riuh karna yang lain menyusul tawa.

Beberapa kali air mineral disodorkan padaku. Para perias itu harus bekerja keras karena beberapa kali pula aku tak bisa menahannya. Membuat bercak-bercak yang merusak make up yang telah dipulaskan.

"Maaf ya, Mbak," kataku sambil menyeka dengan tisu.

"Kalau mau dimaafin udahan ya nangisnya. Udah cantik lo," Perias itu menjawab sambil terus memoleskan warna-warna di atas mukaku.

***

Terhijab sebuah kain diantara kita. Tapi ini bukan sebuah penghalang. Ini hanya sebentuk ikhtiar untuk terus menjaga. Walau begitu aku masih mendengarmu, dengan kata-kata yang menggoyangkan langit. Aku halal bagimu. Dan kamu halal bagiku. Tiada pembeda karena aku hadis jawa. Tiada pembeda karena kamu pria sunda. Kita di sini bukan untuk melawan adat. Tapi kita di sini untuk menjelaskan pada dunia perbedaan bukan untuk bercerai-berai. Perbedaan ada untuk memberi pelajaran saling menhormati antar sesama.

Aku menyibak hijab diantara kita. Bapakku tersenyum dan mengangguk padaku. Seolah berucap, "tidak apa sunda atau jawa." Aku ikut mengangguk.

Kamu tampak kaku. Tapi aku dirasuki keberanian duduk menyandingimu. Pandangan kita bertemu.

 

  • view 50