Cinta dari Tanah Sebrang

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juni 2017
Cinta dari Tanah Sebrang

Aku melakukan rutinitas pagi, seperti biasa. Rutinitas biasa yang masih digelayuti perasaan yang tak biasa. Aku menantikan sekaligus mengkhawatirkan saat nanti bicara dengan Bapak. Seolah menemui takdir. Di sana akan menjemput keputusan bagaimana aku dan kamu selanjutnya.

Aku oleskan selai kacang dalam setangkup roti pagi ini. Sambil menunggu omelet mentas dari penggorengan karena perutku sudah tak tahan.

"Lapar kamu, Nduk?" Bapak mencuil ujung rotiku yang sudah berisi selai kacang. Beliau lalu ikut duduk di meja makan bersebrangan denganku.

Aku tersenyum. Senyum setengah. Setengah bingung, setengah takut. Entah bagaimana mendiskripsikan suasana pagiku.

"Buku kemarin bagaimana menurutmu?" Bapak mengaduk segelas teh hangat yang berada di depannya. Percakapan tanpa eye contact.

"Bagaimana apanya, Pak?" jawabku hati-hati.

"Sejarah to?"

Aku mengangguk.

"Kalau sejarah yo pelajaran yang bisa diambil. Nilai. Karna kita kan ndak bisa ngowahi ceritanya," Bapak menyodorkan segelas teh tadi sejajar dengan piring rotiku. Beliau lalu berjalan ke dapur mengambil lagi sebuah gelas, kantung teh dan menuanginya air panas dari dispenser.

Kaki kiriku bergerak-gerak seperti orang menjahit. Aku berusaha berpikir jawaban apa yang tepat. Meski sebenarnya sudah mucul di benakku. Tapi apa iya akan aku katakan begitu saja. Bahwa aku tak setuju dengan itu. Bahwa aku akan dianggap bela diri.

"Piye?" Bapak membuyarkan lamunanku.

"Mboten ngertos, Pak." Akhirnya sebuah kalimat itu. Kalimat yang sesungguhnya pasrah untuk menerima eksekusi. Aku hanya bisa menandaskan teh hangatku. Tanpa tahu bagaimana cara menandaskan keresahan dalam pikiran ini.

"Yang bener? Kamu udah gede. Ndak mungkin ndak tahu gimana ngambil nilai dari sejarah. Coba Bapak diceritani. Kamu kan sudah baca setengah lebih. Bapak baru baca sepenggal." kali ini nada suara Bapak mulai bersahabat di telingaku. Ada kehangatan yang merasuk lewat resonansinya.

"Kasihan, Pak."

Bapak mengerutkan kening sedikit berdeham dan mengisyaratkan kepadaku untuk melanjutkan.

"Mereka ingin melakukan hal baik. Menyambung silaturahim dengan menikah. Tapi ada miss komunikasi. Lalu berujung pada pembenaran pribadi. Menarik mitos yang akarnya nggak terang," jelasku dengan peluh membanjir.

"Menurutmu mitos harus diapaain, Nduk?"

"Dicari kebenarannya, Pak," aku mulai berani menatap Bapak.

"Piye carane?"

"Dibuktikkan secara ilmiah kebenarannya. Kalau nggak bener, nggak perlu diambil jadi nilai. Toh, kita sudah punya pegangan paten Al Qur'an dan Hadits. Cukup to, Pak?" kali ini keberanianku berlipat. Aku merasa di atas angin.

Bapak manggut-manggut tapi tanpa sepatah katapun menjelaskan. Bapak mengambil omelet yang baru saja disajikan Ibu di meja makan. Alis ibu tampak bicara, "bagaimana?" Sepertinya Bapak dan Ibu telah membicarakan ini sebelumnya. Aku tak tahu siapa yang berpihak dan siapa yang menentang. Atau bahkan beliau berdua punya pemikiran yang sama. Aku tak tahu.

"Ini omeletnya enak. Ayo dimakan dulu," Bapak mengambil sepotong omelet dan memindahkannya ke atas piring. Ibu berdeham. Tapi Bapak melanjutkan makannya. Aku lunglai. Aku belum makan. Dan aku tidak tahu apa setelah makan kembali bisa bertenaga.

Tak ada percakapan setelah itu selain segala rutinitas yang melambat kemudian.

  • view 53